• Redaksi
  • Undang-undang Pers
  • Disklaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
OborDewata
  • Nasional
    • Daerah
  • Olahraga
  • Ekonomi Bisnis
  • Hukum
  • Sosial Budaya
  • Pendidikan
  • Politik
  • Opini
No Result
View All Result
  • Nasional
    • Daerah
  • Olahraga
  • Ekonomi Bisnis
  • Hukum
  • Sosial Budaya
  • Pendidikan
  • Politik
  • Opini
No Result
View All Result
OborDewata
No Result
View All Result
Home Berita

Harmoni di Bawah Langit Dewata, Saat Nyepi dan Idulfitri Menenun Toleransi di Bali

I Kadek Saputra by I Kadek Saputra
Kamis, 12 Maret 2026
in Berita
0
Sambut Nyepi dan Idul Fitri di Bali, Gubernur Koster Ajak Umat Jaga Toleransi dan Kondusifitas
Ket foto: Gubernur Bali, Wayan Koster foto bersama Majelis Agama se-Bali.
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

DENPASAR, OborDewata.com – Bali kembali bersiap menghadapi sebuah momen langka yang menguji sekaligus memperkuat serat-serat toleransinya. Tahun ini, kalender menunjukkan kedekatan waktu yang unik antara pelaksanaan Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Idulfitri. Di tengah riuh rendah media sosial, Pemerintah Provinsi Bali dan para tokoh lintas agama memilih untuk duduk bersama, memastikan bahwa perbedaan tanggal tidak akan melunturkan indahnya kebersamaan.

​Rabu (11/3) siang itu, Gedung Kertha Sabha di Denpasar nampak lebih teduh dari biasanya. Di sana, Gubernur Bali Wayan Koster bersama para pemimpin majelis agama berkumpul dalam rapat koordinasi yang diinisiasi oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Agenda tunggal mereka adalah satu: menjaga kedamaian.

​Satu Pulau, Dua Kekhidmatan

​Bagi Gubernur Koster, pertemuan ini bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan langkah antisipatif untuk menjaga “wajah” Bali sebagai benteng toleransi. Ia menegaskan bahwa kesepakatan telah bulat untuk menjaga kenyamanan masyarakat selama dua hari besar tersebut berlangsung.

Baca Juga :  Welcoming 25th Anniversary, Bali Democrats Launch "Blue Sky Movement" to Clean Denpasar's Cultural Center

​”Bagaimana agar pelaksanaan Nyepi dan Idulfitri berjalan dengan khidmat, nyaman, aman, dan kondusif. Semua majelis dan umat bersepakat seperti itu,” tegas Koster usai pertemuan.

​Pesan utamanya jelas: Saling menghormati adalah harga mati. Meskipun pemerintah daerah masih menunggu kepastian tanggal Idulfitri melalui sidang isbat, kerangka dasar untuk menjaga kerukunan sudah dipaku kuat-kuat. Seruan bersama mengenai pelaksanaan Nyepi dan Takbiran yang telah disepakati sebelumnya tetap menjadi kompas utama bagi masyarakat di lapangan.

Bukan Hal Baru, Melainkan Warisan Budaya

​Senada dengan Gubernur, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali, Abdul Aziz, memberikan perspektif yang menyejukkan. Baginya, irisan waktu antara Nyepi dan Idulfitri bukanlah sebuah masalah besar yang harus diperdebatkan, apalagi diadu di ruang digital.

​Ia mengingatkan bahwa masyarakat Bali memiliki rekam jejak yang luar biasa dalam urusan toleransi. Ini bukan kali pertama umat Hindu dan Muslim di Bali harus berbagi ruang dan waktu dalam kekhusyukan ibadah mereka.

Baca Juga :  Lomba Barista Kopi Bulan Bung Karno Hadirkan Peserta Lima Kabupaten se-Bali Kreativitas dan Seni Racik Kopi

​Beberapa poin penting yang ditekankan Abdul Aziz untuk menjaga harmoni:

​Kearifan Lokal: Masyarakat Bali sudah dewasa dalam menyikapi perbedaan.

​Fleksibilitas Ibadah: Umat Islam diimbau bijak, seperti melaksanakan Tarawih atau Takbiran secara terbatas atau di rumah jika lokasi masjid tidak memungkinkan dijangkau saat Nyepi.

​Filter Media Sosial: Tidak terprovokasi oleh isu-isu di dunia maya yang sengaja memperbesar persoalan kecil.

​Menjaga Kedewasaan Beragama

​Keharmonisan yang ada di Bali tidak tumbuh secara instan, melainkan hasil dari koordinasi yang erat antara tokoh agama dan lingkungan sekitar (Desa Adat). Dengan sikap proaktif dari para tokoh, kegelisahan masyarakat dapat diredam sebelum menjadi percikan api.

​Kini, Bali bersiap menyambut sunyinya Nyepi dan meriahnya Idulfitri dalam satu tarikan napas persaudaraan. Di bawah kepemimpinan yang suportif dan kesadaran umat yang tinggi, Pulau Dewata sekali lagi membuktikan bahwa perbedaan bukanlah pemisah, melainkan melodi yang memperkaya simfoni kehidupan. mas/tra/dx

Baca Juga :  HCNROOT: Elemen 15 Desember 2024, Unsur Elemen Tanah Penuh Ketegangan
Previous Post

Sambut Nyepi dan Idul Fitri di Bali, Gubernur Koster Ajak Umat Jaga Toleransi dan Kondusifitas

Next Post

Pelindo Siap Layani Mudik Lebaran 2026 di Pelabuhan Benoa

Next Post
Pelindo Siap Layani Mudik Lebaran 2026 di Pelabuhan Benoa

Pelindo Siap Layani Mudik Lebaran 2026 di Pelabuhan Benoa

Sorry, there was a YouTube error.
  • Redaksi
  • Undang-Undang Pers
  • Disklaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Nasional
    • Daerah
  • Olahraga
  • Ekonomi Bisnis
  • Hukum
  • Sosial Budaya
  • Pendidikan
  • Politik
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.