TABANAN, OborDewata.com – Kelompok Tani Jaka Organik di Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, mulai memanfaatkan kotoran sapi sebagai sumber energi alternatif melalui instalasi biogas. Inisiatif ini tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan memasak, tetapi juga mendukung pengembangan pertanian organik melalui pemanfaatan hasil samping pengolahan limbah ternak.
Program tersebut merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli yang dijalankan PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Bali melalui pengembangan Desa Mandiri Energi berbasis edukasi energi hijau.
Penasihat Kelompok Tani Jaka Organik, I Wayan Yusa, mengatakan instalasi biogas telah selesai dibangun dan siap dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas kelompok. Sebanyak empat ekor sapi disiapkan sebagai sumber bahan baku untuk menghasilkan gas.
Menurut Yusa, keberadaan fasilitas tersebut memberikan alternatif energi bagi kelompok tani, khususnya untuk kebutuhan memasak di balai kelompok. Dengan demikian, sebagian kebutuhan energi yang sebelumnya bergantung pada gas elpiji kini dapat dipenuhi dari pengolahan limbah ternak.
“Dengan adanya biogas ini, kami sudah tidak perlu membeli gas elpiji untuk kebutuhan memasak yang dapat dipenuhi oleh instalasi biogas. Selain menghasilkan gas untuk memasak, kotoran sapi juga menghasilkan bio-slurry yang dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan pertanian organik,” ujarnya.
Saat ini, pemanfaatan biogas masih difokuskan untuk kebutuhan memasak dan belum diarahkan pada kegiatan komersial. Instalasi tersebut diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan memasak hingga enam jam, dengan kapasitas yang dapat menunjang kebutuhan maksimal dua kepala keluarga.
Selain menghasilkan energi alternatif, pengolahan kotoran sapi juga menghasilkan bio-slurry, yakni residu pengolahan biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembenah tanah atau pupuk organik sesuai kebutuhan budidaya. Pemanfaatan ini menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan sumber daya lokal sekaligus mengurangi limbah peternakan.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S., yang turut mendampingi pengembangan pertanian organik, menilai keberlanjutan program sangat bergantung pada keterlibatan berbagai pihak.
Ia menekankan pentingnya koordinasi, komunikasi, kolaborasi, dan konsistensi agar fasilitas yang telah dibangun dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Suatu kegiatan atau proyek bisa bermanfaat untuk masa depan jika ada empat hal, yaitu koordinasi, komunikasi, kolaborasi, dan konsistensi. Hari ini kita sudah melihat hasil dari keempat hal tersebut melalui kelompok tani yang terus berupaya hingga program ini dapat terwujud,” katanya.
Kartini menjelaskan, pertanian organik berpotensi memberikan manfaat bagi lingkungan, antara lain melalui peningkatan kandungan bahan organik tanah dan perbaikan kemampuan tanah dalam menahan air. Karena itu, penerapan sistem pertanian yang terintegrasi dengan peternakan dan energi terbarukan dinilai layak dikembangkan di wilayah lain.
Ia berharap Desa Kukuh dapat menjadi contoh pengembangan pertanian ramah lingkungan yang menghubungkan kebutuhan energi, pangan, dan air melalui pemanfaatan potensi lokal.
Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bali, Ir. Ida Bagus Setiawan, S.T., M.Si. Ia mengapresiasi keterlibatan PLN dalam mendorong pemanfaatan energi bersih yang terhubung dengan sektor pertanian dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, program TJSL diharapkan tidak berhenti pada pembangunan fasilitas, tetapi mampu memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi warga. Kolaborasi antara pemerintah, PLN, akademisi, dan kelompok tani juga dinilai penting untuk memperluas manfaat program.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Bali, kami mengapresiasi program TJSL yang tidak sekadar seremonial, tetapi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat secara berkelanjutan. Program ini tidak hanya mendukung ketahanan energi dan pangan, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan sumber pendapatan di desanya sendiri,” ujarnya.
Pengembangan program PLN Peduli di Desa Kukuh tidak hanya menyasar pemanfaatan limbah ternak menjadi energi. Dukungan juga diberikan untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian melalui penyediaan peralatan pascapanen, termasuk perangkat pendukung pengemasan beras organik.
Kelompok Tani Jaka Organik berencana memanfaatkan fasilitas tersebut untuk mengemas produk beras organik, termasuk beras merah hasil pertanian kelompok. Pengemasan yang lebih baik diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas.
General Manager PLN UID Bali, Ajrun Karim, mengatakan program pemberdayaan tersebut dirancang untuk mendukung kegiatan masyarakat dari hulu hingga hilir. Upaya itu mencakup pengelolaan ternak, pengolahan limbah menjadi biogas dan bahan pendukung pertanian organik, hingga pengolahan hasil panen agar mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi.
“Harapannya, PLN dapat terus berjalan bersama masyarakat untuk memberdayakan kegiatan ini dari hulu sampai hilir. Limbah peternakan dapat dimanfaatkan menjadi biogas dan pupuk untuk mendukung pertanian organik, kemudian hasil pertaniannya diolah agar memiliki nilai tambah dan peluang pasar yang lebih luas,” kata Ajrun.
Ia menambahkan, keberhasilan program membutuhkan dukungan dan kerja sama berkelanjutan dari seluruh pihak. Dengan pendampingan yang tepat, fasilitas yang telah tersedia diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal dan dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat.
Ajrun juga berharap inisiatif di Desa Kukuh dapat menjadi model pemberdayaan yang bisa diterapkan di desa maupun kabupaten lain di Bali, terutama dalam mendorong kemandirian energi dan memperkuat ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
Melalui program ini, Kelompok Tani Jaka Organik memiliki peluang mengembangkan sistem usaha pertanian yang lebih terintegrasi. Kotoran ternak dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas, hasil sampingnya mendukung pertanian organik, sedangkan hasil panen diolah agar mempunyai nilai tambah.
Ke depan, konsistensi pengelolaan instalasi, pemanfaatan peralatan pascapanen, serta pendampingan terhadap kelompok tani menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan program. Desa Kukuh pun diharapkan dapat berkembang sebagai lokasi pembelajaran pertanian organik dan pemanfaatan energi bersih yang bertumpu pada sumber daya lokal. (rls/tim)





















