BALI, OborDewata.com – Fakta baru terungkap dalam tragedi amuk massa yang menewaskan terduga pelaku pencurian ayam berinisial KD di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Baturiti, Tabanan.
Aksi pengeroyokan yang berujung penetapan lima warga sebagai tersangka, ternyata berawal dan terpicu suara kulkul bulus alias kentongan tradisional Bali, yang memang sebagai penanda bahaya atau kondisi darurat.
Hal tersebut menjadi penegasan, Bendesa Adat Banjar Dinas Juwuk Legi, I Nyoman Wirawan, saat menggelar paruman (rapat) bersama ratusan krama, tokoh adat, dan perangkat desa pada Selasa pagi (28/7).
Wirawan mengklarifikasi bahwa aksi massa tidak sedikit pun, pihak di sana merancang atau merencanakan sebelumnya.
Keresahan warga Baturiti yang sudah menumpuk, akibat maraknya pencurian kemudian mendadak pecah saat kulkul bulus bertalu-talu memanggil krama.
“Karena kulkul bulus berbunyi, makanya warga spontan berdatangan. Terduga pelaku juga sempat membawa senjata tajam dan mengancam warga yang mencoba menghentikan,” tegas Wirawan.
Meskipun menghormati dan menerima proses hukum yang berproses di Polres Tabanan, pihak desa adat meluruskan narasi liar di media sosial yang tampaknya memojokkan krama.
Warga yang datang murni bermaksud merespons panggilan darurat adat demi mengamankan wilayahnya. Atas dasar reaksi spontanitas tersebut, krama berharap kelima tersangka yang merupakan tulang punggung keluarga juga bisa mendapatkan keringanan hukuman.
Perwakilan desa adat pun berencana mendatangi Polres Tabanan, untuk menyampaikan kronologi versi warga agar perkara tertangani secara proporsional.
Di samping itu, ruang mediasi dan perdamaian kekeluargaan juga terus berlanjut untuk menjaga tali persaudaraan dan memulihkan suasana sosial pascaperistiwa tragis ini. (*)

















