Kesehatan

Di Balik Dapur Raksasa Makan Bergizi Gratis di Bali, Merubah Rupiah Menjadi Kalori yang Berkualitas

1124 Views

GIANYAR, OborDewata.com – Malam itu di kawasan Pering, Gianyar, riuh rendah tawa memecah ketegangan rutinitas. Ratusan kepala dapur, pemasok, hingga relawan yang hadir. Dimana pertemuan pengurus Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Bali pada Sabtu (13/6/2026) atmosfer kekeluargaan tersebut, mencetak gagasan bagaimana memberi makan masa depan Indonesia.

​Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sering kali diperdebatkan di ruang publik. Ada yang melihatnya skeptis sebagai program “pembakar anggaran”. Namun, bagi orang-orang di garda depan seperti Anak Agung Istri Yuli Savita Sari atau yang akrab disapa Gek Yuli, MBG adalah sebuah lompatan besar yang lahir demi mengejar ketertinggalan zaman. Untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang berkualitas demi membangun fondasi generasi mendatang sehat, cerdas, dan tangguh. Sesuai dengan visinya dan arah kebijakan program ini ditujukan untuk meningkatkan status gizi Fokus pada kelompok rentan (anak sekolah, balita, ibu hamil, dan menyusui) untuk menekan angka stunting. Dengan pola membentuk kebiasaan makan sehat dan memperkuat perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) melalui asupan makanan bergizi seimbang.

Iklan
Kendaraan Listrik BPD

“MBG ini ibarat bayi yang baru lahir, tetapi langsung dipaksa menjadi besar. Jadi proses adaptasinya sangat cepat,” ujar Gek Yuli, Ketua Yayasan Abadhi Mandiri Pangan (AMP).

Yuli menegaskan, jika Anda berpikir MBG hanyalah soal membagikan kotak nasi kepada anak sekolah,  sejatinya melewatkan pusaran ekonomi yang bergerak di bawahnya. Saat seluruh target di Bali terealisasi, program ini akan mendirikan 225 dapur mandiri. Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan sebuah ekosistem ekonomi baru yang masif. Dimana kalkulasi dampak program MBG di Bali 225 dapur pemenuhan gizi yang tersebar di seluruh Bali. dengan 60 hingga 70 Orang tenaga kerja/relawan terserap di setiap dapur. Bahkan 14.000 Anak Muda mendapatkan ruang keterlibatan sebagai relawan. Belum lagi melibatkan rantai pasok lokal mulai dari petani, vendor bahan pokok, hingga sopir logistik.

Iklan

​”Ini baru hitungan beberapa dapur yang berjalan,” ungkap Gek Yuli antusias. “Bayangkan jika 225 dapur sudah berdiri. Berapa banyak petani lokal yang terserap hasilnya? Berapa banyak sopir yang ekonominya bergerak karena mengantar bahan makanan setiap hari,” tegasnya .

Tidak hanya disitu saja Gek Yuli juga menyoroti, ​ pergerakan MBG di Bali adalah nasib para pekerja di dalamnya. Dengan proyeksi keterlibatan 14 ribu anak muda sebagai relawan, kesejahteraan mereka tidak boleh dinegosiasikan.

​Meskipun menyandang status “relawan”, mereka adalah mesin penggerak utama. Kepala SPPG Kuta, Gung Ade, mengamini hal tersebut. Baginya, soliditas dan kualitas SDM adalah modal utama agar pelayanan ini tidak mandek di tengah jalan.

​Oleh karena itu, jaminan keselamatan seperti BPJS Ketenagakerjaan dan tabungan masa depan bagi para relawan kini mulai digodok serius. “Bagaimana caranya, percepatan perlindungan itu harus dipikirkan bersama. Jangan sampai mereka berjuang untuk gizi anak-anak, tapi masa depan mereka sendiri abai terlindungi,” ucap Gek Yuli.

​​Terkait implementasi MBG, Gek Yuli kerap gemas dengan kritik yang hanya melihat program ini dari sudut pandang biaya. Baginya, ini adalah investasi fisik untuk Generasi Emas 2045. ​Ia memberikan sebuah analogi sederhana namun menohok dari dunia olahraga “Bayangkan ada anak yang pikirannya luar biasa, bakatnya hebat, tapi baru main bola 30 menit sudah capek. Kenapa? Karena fisiknya tidak kuat diadu selama 90 menit penuh. dirinya sering melihat tim unggul di babak pertama, lalu kehabisan napas dan kalah di babak kedua karena kehilangan momentum. Nah, hal seperti itulah yang ingin dirinya cegah,” paparnya.

​Sejatinya Indonesia tidak kekurangan anak cerdas. Namun, kecerdasan intelektual tanpa sokongan stamina fisik yang tangguh hanya akan melahirkan generasi yang cepat lelah di tengah kompetisi global. Melalui kajian akademis, pemenuhan kalori dan gizi sejak dini adalah satu-satunya cara memastikan anak-anak Indonesia mampu “bertanding” hingga peluit panjang dibunyikan.

Perjalanan MBG memang belum sempurna. Dinamika, kritik, dan problem operasional masih membayangi. Dari yang awalnya dituding penuh pemborosan, kini sistem dapur MBG di Bali terus berbenah melakukan efisiensi ketat demi memastikan setiap rupiah berubah menjadi kalori berkualitas. tim/tra/sathya.