TABANAN, OborDewata.com – Perjalanan panjang fotografer Bali, Rudi Waisnawa, dalam mendokumentasikan kehidupan orang dengan kondisi kesehatan mental mendapat apresiasi melalui FOTO Bali Award 2026. Bersama fotografer dokumenter Irene Barlian, Rudi menjadi penerima perdana penghargaan yang digagas FOTO Bali Festival dan didukung Nuanu Social Fund (NSF).
Keduanya masing-masing memperoleh dukungan senilai Rp22 juta. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas praktik fotografi yang telah dibangun dalam jangka panjang, tanpa kewajiban membuat proposal baru, menghasilkan proyek tertentu, maupun memenuhi target luaran.
Rudi Waisnawa, yang juga dikenal sebagai I Kadek Rodi Artawan, telah mendokumentasikan kehidupan orang dengan kondisi kesehatan mental di Bali sejak 2014. Melalui kamera, ia berupaya menghadirkan cerita mereka sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk melihat persoalan stigma dan keterpinggiran yang masih dihadapi kelompok tersebut.
Karya dokumentasi Rudi kemudian berkembang menjadi buku fotografi berjudul Hope and Freedom yang dikerjakan bersama Nicky Hogan. Karya tersebut menjadi bagian dari praktik panjangnya dalam mengangkat isu kesehatan mental melalui fotografi.
“Saya berharap penghargaan ini dapat membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk melihat dan memahami kehidupan orang dengan kondisi kesehatan mental, yang kisah-kisahnya layak didengar dan dihargai dengan penuh martabat,” ujar Rudi.
Sementara itu, Irene Barlian menerima penghargaan melalui karya dokumenter Land of the Sea. Proyek yang mulai dikerjakan sejak 2020 tersebut merekam dampak perubahan iklim terhadap kehidupan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Berbeda dengan penyajian isu perubahan iklim yang kerap berfokus pada angka dan proyeksi, Irene menghadirkan cerita dari masyarakat yang mengalami langsung perubahan lingkungan di wilayah tempat mereka tinggal.
Proyek Land of the Sea yang masih berlanjut tersebut mendapat dukungan National Geographic Society. Karya itu juga pernah masuk daftar pendek Leica Oskar Barnack Award 2022 dan dipamerkan di Objectifs, Singapura.
“Land of the Sea adalah kisah tentang dampak perubahan iklim di Indonesia, yang diceritakan melalui sudut pandang masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak. Rasanya masih sulit dipercaya, sekaligus menjadi sebuah kehormatan besar bagi saya untuk menerima penghargaan ini,” kata Irene.
Founding Director FOTO Bali Award dan FOTO Bali Festival, Kelsang Dolma, mengatakan penghargaan tersebut dirancang untuk memberikan apresiasi terhadap fotografer yang telah membangun praktik secara konsisten dalam waktu panjang.
Menurutnya, tidak semua kerja fotografi berangkat dari proyek yang memiliki target luaran. Karena itu, FOTO Bali Award memberikan dukungan secara langsung agar penerima dapat melanjutkan praktik fotografi yang telah mereka jalankan.
“Bagi fotografer seperti Rudi dan Irene, yang tersisa adalah kerja panjang selama bertahun-tahun yang kerap luput dari perhatian dan jarang mendapatkan dukungan finansial yang sepadan,” ujar Kelsang.
Head of Nuanu Social Fund, Ida Ayu Astari Prada, mengatakan kedua karya tersebut dinilai memiliki keterkaitan dengan fokus NSF pada isu kemanusiaan dan alam.
Menurut Astari, karya Rudi mengangkat persoalan kelompok rentan di tengah masyarakat, sedangkan karya Irene merekam perubahan pada lingkungan dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada daratan serta lautan.
FOTO Bali Award perdana tersebut memilih penerima melalui dua kategori dengan bobot penilaian setara. Proses seleksi melibatkan dewan juri yang terdiri dari Managing Director PannaFoto Institute Ng Swan Ti, kolektor seni kontemporer Indonesia Dr. Wiyu Wahono, serta fotografer dan akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Bali I Made Bayu Pramana.
Penilaian mencakup kekuatan artistik, pendekatan visual, kedalaman konsep, dan koherensi narasi karya. Dari hampir 100 pendaftaran, Rudi dan Irene ditetapkan sebagai penerima penghargaan perdana.
Ng Swan Ti menilai penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap praktik fotografi yang dibangun melalui komitmen jangka panjang. Sementara Wiyu Wahono melihat kedua karya tersebut sebagai medium yang membantu masyarakat memahami persoalan sosial dan lingkungan melalui perspektif visual.
Adapun Bayu Pramana menilai fotografi memiliki peran dalam membentuk cara masyarakat mengingat dan memahami berbagai pengalaman kehidupan.
FOTO Bali Festival sendiri pertama kali digelar pada 2025 dan pada edisi kedua 2026 mengusung tema AFTERIMAGE. Festival tersebut menerima hampir 700 karya dari lebih dari 80 negara, menghadirkan 38 praktisi fotografi dari 24 negara, serta mencatat hampir 25.000 pengunjung.
Melalui FOTO Bali Award, penyelenggara tidak hanya memberikan penghargaan terhadap hasil karya, tetapi juga memberikan dukungan kepada praktik fotografi yang telah dijalankan secara konsisten untuk merekam persoalan sosial, kemanusiaan, dan lingkungan. (rls/tim)




















