GIANYAR, OborDewata.com – Seni dinilai memiliki peran penting sebagai ruang jeda bagi masyarakat di tengah derasnya arus informasi mengenai berbagai persoalan kemanusiaan dan lingkungan. Mulai dari bencana, perang, pengungsian hingga persoalan sampah, air dan tekanan terhadap ruang hidup, semuanya hadir hampir tanpa jeda melalui layar maupun percakapan sehari-hari.
Persoalan tersebut menjadi salah satu bahasan dalam dialog budaya Beranda Bentara bertajuk “Ruang, Rasa, Sesama: Refleksi Seni dan Kepedulian Hari Ini” yang digelar Bentara Budaya Bali di Gedung Unit 1 Kompas Gramedia, Ketewel, Gianyar, Jumat (25/9/2026).
Dialog menghadirkan penulis sekaligus pengamat budaya Dr. Jean Couteau, penari dan koreografer Ida Ayu Wayan Arya Satyani atau Dayu Ani, serta perupa Made Kaek. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan 44 tahun Bentara Budaya yang jatuh pada 26 September 2026.
Dayu Ani mengatakan seni dapat menjadi ruang bagi manusia untuk berhenti sejenak dari derasnya informasi mengenai berbagai krisis. Dari ruang jeda tersebut, menurutnya, dapat tumbuh perenungan dan kepedulian yang kemudian diwujudkan melalui karya.
“Di tengah gempuran informasi dan berita bencana, seni menjadi titik jeda bagi kita. Dari perenungan dan titik jeda tersebut, kita tergerak untuk berbuat sesuatu melalui media karya, sekecil apa pun itu, guna menyebarkan getaran kasih dan pengingat kemanusiaan,” ujarnya.
Penari, koreografer sekaligus pengajar di ISI Bali itu juga menempatkan tubuh sebagai bagian penting dalam proses penciptaan karya. Tubuh, kata dia, bukan hanya instrumen untuk bergerak, tetapi menjadi media komunikasi antara seniman, penonton dan semesta.
“Tubuh adalah jembatan serta media komunikasi antara kita dengan audiens dan semesta. Sebelum melangkah menjadi ekspresi seni, tubuh dan jiwa harus dibereskan terlebih dahulu melalui disiplin dan keheningan agar kita mampu mendengarkan serta menumbuhkan empati,” katanya.
Dayu Ani diketahui beberapa kali berkarya di Bentara Budaya Bali. Ia antara lain terlibat sebagai koreografer dalam film Sekala Niskala karya Kamila Andini yang pernah mendapat pemutaran khusus di Bentara Budaya Bali pada 2018. Ia juga terlibat dalam film Samsara garapan Garin Nugroho dan menciptakan pertunjukan tari Gambuh Masutasoma.
Sementara itu, perupa Made Kaek menyoroti pentingnya ketekunan dalam menjalani proses berkesenian. Menurutnya, kemampuan seseorang tidak cukup hanya ditopang oleh kepintaran, tetapi juga membutuhkan disiplin, fokus dan keberanian untuk terus berproses.
“Kunci utama dalam hidup dan berkesenian bukanlah sekadar kepintaran, melainkan kedisiplinan, fokus, dan keberanian untuk tekun berproses serta berkompetisi secara sehat di era persaingan yang ketat ini,” ujar Kaek.
Aktivis kesenian yang turut membangun Rumah Paros di Sukawati sebagai ruang pertemuan dan pertukaran gagasan tersebut juga menilai empati menjadi fondasi dalam membangun ekosistem kebudayaan.
“Hal yang paling mendasar adalah rasa ‘sesama’ dan empati. Dari sana kita dapat membangun ekosistem kebudayaan yang saling mendukung dan terus bertumbuh bersama,” katanya.
Menurut Kaek, perkembangan ruang publik kebudayaan kini tidak lagi hanya berlangsung melalui institusi formal. Berbagai ruang alternatif, termasuk kedai kopi yang menjadi tempat berkumpul generasi muda, turut menjadi ruang tumbuhnya kreativitas.
“Ruang publik dan kreativitas hari ini tidak lagi terbatas, tetapi ada di mana-mana, seperti di kedai-kedai kopi tempat generasi muda berkumpul. Di ruang-ruang baru tersebut, kreativitas bergerak, ekonomi berjalan, dan daya hidup kebudayaan terus bergulir,” ujarnya.
Pandangan mengenai fungsi ruang publik kebudayaan juga disampaikan Jean Couteau. Penulis seni rupa dan pengamat budaya tersebut menilai ruang publik diperlukan agar kebudayaan tidak sekadar diterima sebagai kebiasaan atau dikembangkan sebatas kepentingan komersial.
“Kebudayaan tidak boleh hanya diteruskan secara komersial atau diterima begitu saja tanpa pertanyaan. Kita memerlukan ruang publik tempat di mana kebudayaan dan produknya dipertanyakan secara kritis, baik dari sudut pandang sosiologis, estetis, maupun filsafati,” kata Jean.
Ia juga melihat perkembangan seni modern tidak dapat dilepaskan dari kemampuan seniman membaca perubahan yang berlangsung di tengah masyarakat. Kesadaran terhadap perubahan sosial, politik dan berbagai dinamika akibat modernitas dapat menjadi pijakan bagi lahirnya karya.
“Penciptaan seni modern bermula dari kesadaran intuitif dan analitis. Seniman yang kreatif adalah mereka yang menyadari adanya pergeseran sosial, politik, maupun pertarungan bawah sadar yang digugah oleh modernitas, lalu meresponsnya melalui karya,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, Jean memandang kebudayaan dan ruang perjumpaan memiliki fungsi penting untuk mempertemukan manusia sekaligus mengikis jarak sosial yang muncul dalam dinamika kehidupan.
“Di tengah fenomena sosial dan dinamika zaman, kebudayaan serta ruang perjumpaan hadir sebagai sarana untuk berupaya menutupi dan mengikis jarak yang memisahkan antarmanusia,” katanya.
Dialog Beranda Bentara tersebut sekaligus menempatkan seni bukan semata sebagai produk estetika, melainkan sebagai ruang untuk membaca realitas. Melalui rupa, tubuh, bunyi, kata dan berbagai praktik kreatif, seni dapat membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berhenti, merasakan, mempertanyakan dan memahami kembali persoalan yang hadir begitu cepat dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai bagian dari Kompas Gramedia, Bentara Budaya Bali selama ini menjadi salah satu ruang pertemuan bagi seniman, penulis, pemikir dan masyarakat. Berbagai dialog, pameran dan pertunjukan digelar untuk menjaga percakapan kebudayaan agar tetap terbuka dan berhubungan dengan persoalan kehidupan kontemporer. (rls/tim)




















