BALI, OborDewata.com – Perekonomian Provinsi Bali pada triwulan I 2026 tumbuh kuat sebesar 5,58% (yoy).
Meskipun melambat dari triwulan sebelumnya (5,88%) yoy, capaian ini lebih rendah dari nasional. Dari sisi penawaran, sumber pertumbuhan ekonomi Bali berasal dari Lapangan Usaha (LU) Penyediaan Akomodasi, Makanan dan Minuman (Akmamin), LU Administrasi Pemerintahan, dan LU Perdagangan Besar seiring seiring kunjungan wisatawan mancanegara yang tumbuh positif.
Meningkatnya belanja pegawai dan belanja modal APBN maupun APBD, dan terjaganya daya beli masyarakat di tengah perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Dari sisi permintaan, sumber pertumbuhan ekonomi Bali masih tertopang Konsumsi Rumah Tangga (RT), Konsumsi Pemerintah, Ekspor Luar Negeri, dan Investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sejalan dengan mobilitas masyarakat yang tinggi pada periode HBKN Nyepi, Idulfitri, dan Imlek.
Inflasi IHK di Provinsi Bali pada triwulan I 2026 sebesar 2,81% (yoy), menurun dari triwulan IV 2025 (2,91%), dan masih terkendali dalam sasaran 2,5±1%. Tekanan inflasi pada triwulan I 2026 tersebut di dorong oleh peningkatan permintaan menjelang Hari Raya Nyepi dan Idulfitri.
Berdasarkan kelompok inflasi, Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga menjadi penyumbang inflasi tertinggi, diikuti Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau. Serta Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya. Secara spasial, Singaraja mengalami inflasi tahunan (yoy) paling tinggi, sementara Kabupaten Badung mencatat inflasi tahunan (yoy) yang paling rendah.
Selanjutnya pada triwulan II 2026, Inflasi Bali pada triwulan II 2026 perkiraan meningkat dari realisasi triwulan I 2026, namun tetap berada dalam rentang sasaran inflasi sebesar 2,5±1% (yoy). Peningkatan tersebut terutama bersumber dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau seiring faktor musiman berupa peralihan musim hujan ke musim kemarau hingga akhir triwulan II 2026 yang berpotensi menghambat produksi sejumlah hortikultura.
Selain itu, tekanan inflasi juga bersumber dari meningkatnya permintaan canang sari dan bahan pangan menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan. Lebih lanjut, sinergi TPID di Bali dalam mengimplementasikan kebijakan 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif, harapannya mampu menjaga stabilitas inflasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan. (*)





















