DENPASAR, OborDewata.com – Pemimpin Wilayah (Pinwil) PT Pegadaian Kanwil VII Bali dan Nusa Tenggara (Bali Nusra), Edi Purwanto, menekankan pentingnya peran strategis media massa dan anak muda dalam memperkuat literasi keuangan masyarakat. Di tengah ketimpangan antara inklusi dan literasi keuangan serta maraknya kasus penipuan berkedok investasi, diharapkannya menjadi garda terdepan dalam menyebarkan edukasi finansial yang akurat dan objektif.
Edi mengungkapkan fenomena menarik terkait kondisi finansial masyarakat saat ini. Berdasarkan data nasional, tingkat inklusi keuangan masyarakat Indonesia telah menembus angka di atas 80 persen, namun tingkat literasi keuangan masih berada di kisaran 50 persen.
”Banyak masyarakat yang sudah bisa dan aktif mengakses lembaga keuangan, baik yang resmi maupun tidak resmi, tetapi tanpa dibekali pemahaman dan ilmu yang cukup. Akibatnya, masyarakat rentan terjebak dalam masalah keuangan maupun penipuan,” ujarnya pada Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, sentuhan generasinmuda sangat dibutuhkan untuk melakukan amplification atau perluasan jangkauan informasi dan edukasi literasi keuangan agar masyarakat tidak mudah tergiur oleh tawaran investasi bodong.
Secara khusus, Edi Purwanto menyoroti pola perilaku finansial generasi muda, khususnya Generasi Z dan Milenial. Meskipun sebagian besar telah memiliki penghasilan mandiri, pola konsumsi mereka dinilai cenderung mengarah pada perilaku konsumtif yang kurang produktif atau istilah yang populer disebut dumb spending.
Ia mencontohkan kebiasaan nongkrong harian di kafe-kafe modern demi pemenuhan gaya hidup dan konten media sosial semata, padahal secara kualitas minuman tidak jauh berbeda dengan kopi biasa.
”Gaji atau pendapatan mereka sebenarnya belum cukup untuk membeli aset besar seperti rumah atau kendaraan secara tunai, lalu mereka bingung uangnya mau dipakai apa. Akhirnya terdorong tuntutan pergaulan untuk gaya hidup eksis. Selisih pengeluaran dari gaya hidup konsumtif tersebut padahal sangat berharga jika dialihkan untuk investasi masa depan,” jelasnya.
Kurangnya literasi keuangan juga berdampak pada maraknya kasus penipuan investasi emas ilegal. Edi menyinggung kasus penipuan perhiasan emas yang terjadi di Bali baru-baru ini yang merugikan masyarakat hingga Rp6,8 miliar dengan puluhan hingga ratusan korban.
Ia mengingatkan masyarakat agar senantiasa berhati-hati dan memilih lembaga yang resmi, terpercaya, serta berizin dari pemerintah seperti PT Pegadaian, Antam, Galeri 24, maupun toko-toko emas resmi lainnya.
Guna memudahkan masyarakat, Pegadaian menyediakan fasilitas Tabungan Emas yang dapat dicetak menjadi fisik, bahkan kini telah dilengkapi dengan fasilitas ATM Emas untuk pencetakan secara instan. Selain itu, Pegadaian juga siap membagikan edukasi mengenai perawatan dan pengelolaan emas perhiasan agar nilai investasinya tetap terjaga.
”Ketika ada hal yang kurang baik, kita buka untuk dievaluasi dan diintervensi dengan solusi edukatif. Jangan hanya menyoroti satu sisi. Harapan kita bersama, ‘good news is good news’ dapat terus diutamakan demi memperkuat perekonomian daerah dan masyarakat,” pungkasnya. tra/dx





















