• Redaksi
  • Undang-undang Pers
  • Disklaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Senin, September 21, 2026
  • Login
OborDewata
  • Nasional
    • Daerah
  • Olahraga
  • Ekonomi Bisnis
  • Hukum
  • Sosial Budaya
  • Pendidikan
  • Politik
  • Opini
No Result
View All Result
  • Nasional
    • Daerah
  • Olahraga
  • Ekonomi Bisnis
  • Hukum
  • Sosial Budaya
  • Pendidikan
  • Politik
  • Opini
No Result
View All Result
OborDewata
No Result
View All Result
Home Nasional

Prof Tadjudin Ungkap Jeritan Mematikan di Balik Beton, Rampas Hak Rakyat

I Kadek Saputra by I Kadek Saputra
09/06/2026
in Nasional, Politik
0
ket foto: Prof. Dr. Tadjuddin Noer Effendi, M.A.

172
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BacaJuga

No Content Available

Yogyakarta, OborDewata.com – Hiruk pikuk pembangunan di Indonesia. Alih-alih sepenuhnya mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera sesuai mandat Pembukaan UUD 1945, ternyata fakta di lapangan menunjukkan indikasi kuat terjadinya fenomena “pembangunan yang mematikan”. Atas dasar itulah Guru Besar UGM, dan juga Pakar Sosiologi, sekaligus Pengamat Ketenagakerjaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Tadjuddin Noer Effendi, M.A., menilai konsep ini merujuk pada corak pembangunan infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi yang mengorbankan kesejahteraan, hak, hingga lingkungan hidup masyarakat demi keuntungan sepihak.

Menurutnya, dasar Pembangunan harus berorientasi pada peningkatan kualitas hidup manusia secara menyeluruh, bukan sekadar hanya melihat angka pertumbuhan ekonomi. Pandangan modern pun menegaskan keberhasilan pembangunan wajib diukur dari aspek pemerataan, keadilan sosial, dan keberlanjutan.

“Jika pembangunan mengorbankan manusia atau alam demi pertumbuhan semata, maka itu disebut sebagai pembangunan yang mematikan atau tidak berkelanjutan,” ujarnya ketika dihubungi pada Selasa (9/6/2026).

Tadjuddin mengungkapkan, berdasarkan teoritis dari pemikir Johan Galtung dan Arturo Escobar mengenai kekerasan struktural akibat pembangunan yang timpang. Sejatinya kompilasi data nasional, terdapat lima indikator utama yang menunjukkan bagaimana proyek pembangunan di Indonesia berdampak fatal bagi masyarakat bawah, dimana hilangnya lahan pertanian dan wilayah tangkap nelayan. Ia pun menilai alih fungsi lahan menjadi biang kerok salah satu pemicu utama ambruknya sektor agraria.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat dalam periode 2013–2019, rata-rata luas sawah di Indonesia menyusut sekitar 110.759 hektare per tahun. Imbasnya, hasil sensus pertanian 2023 menunjukkan jumlah unit usaha pertanian turun 7,42% (berkurang 2,35 juta unit) dibandingkan tahun 2013. Kajian akademik mengonfirmasi penyempitan ini memicu hilangnya mata pencaharian petani dan penurunan ketahanan pangan. Begitu juga pada sektor maritim akibat proyek reklamasi dan pencemaran. Di Kamal Muara, Jakarta Utara, penelitian tahun 2025 menemukan nelayan tradisional mengalami penurunan wilayah tangkap hingga 70% dan kejatuhan pendapatan mencapai 75%.

“Kalau dilihat pada Teluk Jakarta, kerugian ekonomi nelayan diperkirakan menembus Rp94,7 miliar per tahun. Kasus lain seperti penambangan pasir laut di Pulau Kodingareng (Makassar) dan tumpahan minyak di Cilacap juga dilaporkan merusak ekosistem laut, alhasil para nelayan mengalami penurunan drastic hasil tangkapnya,” bebernya.

Tidak hanya itu saja, Tadjuddin menilai eforia pembangun membuat pedagang keci kalang kabut. Dimana proyek infrastruktur berskala besar seperti jalan tol, stasiun, hingga penataan kota kerap menggusur pedagang kaki lima (PKL) dan pelaku ekonomi mikro. Proses relokasi sering kali mengabaikan aspek strategis tempat usaha baru. Fenomena ini terlihat jelas pada kasus relokasi PKL ke Blok G Pasar Tanah Abang (2013–2014) serta relokasi Serambi Ampel di Surabaya, di mana para pedagang mengeluhkan penurunan omzet dan hilangnya pelanggan tetap. Dalam sosiologi, kondisi ini disebut marginalisasi akibat pembangunan.

Dengan adanya fenomena tersebut membuat ketimpangan sosial yang melebar. Dimana pembangunan yang berjalan dinilai lebih banyak menguntungkan kelompok bermodal besar dan investor. BPS mencatat Rasio Indonesia pada periode 2020–2024 bertahan di angka 0,381–0,388. Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia berada pada tingkat ketimpangan pengeluaran kelas menengah dengan distribusi yang tidak merata, mengonfirmasi bahwa kelompok miskin tidak mendapat manfaat yang sebanding dari kemajuan ekonomi. Tak tanggung-tanggung efek dari masifnya pembangunan membuat krisis ekologia dan deforestasi. Akibatnya eksploitasi lahan telah mencapai tahap mengkhawatirkan.

“Krisis ekosistem di Indonesia saat ini meliputi deforestasi Kehilangan kawasan hutan hingga ±433.751 hektare pada tahun 2025. Pencemaran air sebanyak 70,7% sungai di Indonesia berstatus tercemar sedang. Pencemaran Udara tingkat partikel udara PM2.5 Indonesia menyentuh ±35,5 μg/m³ pada 2024,” ungkapnya seraya menambahkan kebakaran hutan yang melanda jutaan hektare lahan sepanjang 2019–2024 bersama ekspansi tambang dan perkebunan ikut memicu kepunahan keanekaragaman hayati serta meningkatkan frekuensi bencana banjir dan tanah longsor.

Tidak hanya sampai disitu saja dampak pembangunan pun melebar, terjadi penggusuran paksa dan ancaman kesehatan. Hal tersebut dibuktikan dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta mendokumentasikan maraknya pelanggaran hak masyarakat adat dan lokal. Pada periode 2015–2018 terdapat 495 titik penggusuran di Jakarta. Mayoritas kasus, termasuk 80-81% penggusuran pada kurun waktu 2017–2018 dilakukan sepihak tanpa musyawarah yang memadai, melanggar standar HAM internasional. Konflik serupa terulang pada tahun 2025 dalam proyek pembangunan di Tanjung Aan (Lombok Tengah) dan Palembang, di mana warga dipaksa pindah tanpa kompensasi yang adil.

Dari sisi keselamatan, bencana industri seperti Semburan Lumpur Lapindo di Sidoarjo sejak 2006 menjadi bukti nyata bagaimana kelalaian proyek mampu menenggelamkan lebih dari 10 desa dan memaksa 40.000 jiwa mengungsi, disertai munculnya gangguan kesehatan kronis akibat paparan gas beracun.

“Seluruh rangkaian data tersebut menjadi alarm keras bagi pemerintah. Pembangunan nasional mendesak untuk dievaluasi total agar tidak terus berjalan sebagai malapetaka yang mematikan masyarakat, melainkan kembali pada khitah konstitusi untuk memajukan kesejahteraan umum yang berkeadilan,” pungkasnya. tim/tra/dx/sathya

 

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X

Menyukai ini:

Suka Memuat...
Tags: #pembangunan #hakrakyat #indonesia
spot_img
I Kadek Saputra

I Kadek Saputra

Related Posts

Peserta JKN Tembus 284,3 Juta, BPJS Kesehatan Fokus Tingkatkan Mutu Layanan
Nasional

Peserta JKN Tembus 284,3 Juta, BPJS Kesehatan Fokus Tingkatkan Mutu Layanan

15/09/2026
Ketika Flores Berduka, Keluarga Besar PLN UID Bali Bergerak
Nasional

Ketika Flores Berduka, Keluarga Besar PLN UID Bali Bergerak

12/09/2026
Puncak HUT ke-25 Partai Demokrat Bali, Aspirasi Rakyat yang Utama
Politik

Puncak HUT ke-25 Partai Demokrat Bali, Aspirasi Rakyat yang Utama

09/09/2026
BPJS Kesehatan Perkuat Standar Layanan Peserta JKN Lewat CX126
Nasional

BPJS Kesehatan Perkuat Standar Layanan Peserta JKN Lewat CX126

07/09/2026
Pegadaian Kembali Bantu Korban Kebakaran Sade, Dukungan Berlanjut hingga Masa Pemulihan
Nasional

Pegadaian Kembali Bantu Korban Kebakaran Sade, Dukungan Berlanjut hingga Masa Pemulihan

28/08/2026
Pegadaian Kucurkan Rp275 Juta untuk Jembatan Raba Sa’u, Warga Mawu Tak Lagi Menanti
Nasional

Pegadaian Kucurkan Rp275 Juta untuk Jembatan Raba Sa’u, Warga Mawu Tak Lagi Menanti

26/08/2026
Next Post
DPRD Badung Made Sunarta Hadiri Peluncuran Beasiswa Nak Badung

DPRD Badung Made Sunarta Hadiri Peluncuran Beasiswa Nak Badung

ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Menakar Substansi Demokrasi Kabinet Merah Putih

Menakar Substansi Demokrasi Kabinet Merah Putih

08/08/2026
Kebijakan Sosial  Kabinet Merah putih Membatasi Inisiatif Lokal

Kebijakan Sosial Kabinet Merah putih Membatasi Inisiatif Lokal

17/08/2026
Kremasi di Bali, Pilihan Budaya atau Pelarian dari Tekanan Sosial?

Menagih Janji Sekolah Gratis 0 Rupiah di Tengah Pungutan Komite yang Mencekik

18/08/2026
Prof Tadjudin Ungkap Jeritan Mematikan di Balik Beton, Rampas Hak Rakyat

Liarnya Korupsi di Indonesia, Nilainya Fantastis

04/08/2026
Bupati Tabanan Sembahyang di Pura Luhur Batukau Berdoa Pandemi Covid-19 Segera Berlalu

Bupati Tabanan Sembahyang di Pura Luhur Batukau Berdoa Pandemi Covid-19 Segera Berlalu

0
Tekan Penyebaran Covid-19, PDIP Bali Dukung dan Kawal Kebijakan PPKM Darurat

Tekan Penyebaran Covid-19, PDIP Bali Dukung dan Kawal Kebijakan PPKM Darurat

0
PLN Berikan Stimulus pada Masyarakat Kecil di tengah Pandemi Covid-19

PLN Berikan Stimulus pada Masyarakat Kecil di tengah Pandemi Covid-19

0
Dandim dan Kapolres Tabanan Distribusikan Sembako untuk Warga Terdampak PPKM Darurat

Dandim dan Kapolres Tabanan Distribusikan Sembako untuk Warga Terdampak PPKM Darurat

0
BRI Resmikan Gedung Baru Branch Office Kuta, Perkuat Layanan Perbankan di Kawasan Pariwisata Bali

BRI Resmikan Gedung Baru Branch Office Kuta, Perkuat Layanan Perbankan di Kawasan Pariwisata Bali

19/09/2026
Duta Tabanan Borong 18 Prestasi di UDG Bali XXXIII

Duta Tabanan Borong 18 Prestasi di UDG Bali XXXIII

18/09/2026
OJK Cabut Izin BPR Pasarraya Kuta, LPS Siapkan Proses Likuidasi

OJK Cabut Izin BPR Pasarraya Kuta, LPS Siapkan Proses Likuidasi

18/09/2026
Gubernur Koster Hadiri Serah Terima Lahan dan Hibah Aset Universitas Terbuka kepada Pemprov Bali

Gubernur Koster Hadiri Serah Terima Lahan dan Hibah Aset Universitas Terbuka kepada Pemprov Bali

18/09/2026
Currently Playing
BRI Resmikan Gedung Baru Branch Office Kuta, Perkuat Layanan Perbankan di Kawasan Pariwisata Bali

BRI Resmikan Gedung Baru Branch Office Kuta, Perkuat Layanan Perbankan di Kawasan Pariwisata Bali

19/09/2026
Duta Tabanan Borong 18 Prestasi di UDG Bali XXXIII

Duta Tabanan Borong 18 Prestasi di UDG Bali XXXIII

18/09/2026
OJK Cabut Izin BPR Pasarraya Kuta, LPS Siapkan Proses Likuidasi

OJK Cabut Izin BPR Pasarraya Kuta, LPS Siapkan Proses Likuidasi

18/09/2026

TENTANG OBOR DEWATA

Obordewata merupakan salah satu media online yang terpecaya dengan menyajikan berita secara aktual.

obordewata.png
Obordewata
  • Redaksi
  • Undang-Undang Pers
  • Disklaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 obordewata.com

No Result
View All Result
  • Nasional
    • Daerah
  • Olahraga
  • Ekonomi Bisnis
  • Hukum
  • Sosial Budaya
  • Pendidikan
  • Politik
  • Opini

© 2026 obordewata.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
%d