BALI, Obordewata.com – Selasa, 16 Juni 2026, tepat hari penampahan Galungan. Yaitu pada Anggara Wage Dungulan.
Dalam lontar Sundarigama, perayaan hari penampahan adalah simbol penetralisir kekuatan negatif Sang Hyang Kala Tiga pada tingkat utama.

Karena menggunakan sarana daging, atau bagian dalam (jeroan) hewan berkaki empat. Umat Hindu di Bali meyakini, bahwa hari penampahan atau Selasa Wage Dungulan, adalah hari turunnya Sang Hyang Kala Tiga untuk mencari mangsa dalam wujud Bhuta Amengkurat.
“Karena itu, umat Hindu melakukan persembahyangan dengan membuat upacara Bhuta Yadnya di perempatan desa atau rumah-rumah umat,” jelas I Nyoman Suarka Koordinator Tim Alih Aksara Alih Bahasa dan Kajian Lontar Sundarigama.
Upacara ini biasanya pendeta Siwa dan pendeta Budha yang memimpin. Umat Hindu kemudian membuat sesajen sasayut, prayascita, pabyakala, dan pajaya-jaya untuk menyucikan pikiran agar memperoleh kemenangan dalam melawan kekuatan negatif Sang Hyang Kala Tiga ini.
Adapun sesajen cari, yang untuk persembahan di halaman rumah atau di halaman sanggah dan di jalan masuk perumahan pada penampahan ini. Adalah segehan warna tiga tanding, yang tertata menurut neptu arah mata angin atau urip desa.
Memakai lauk daging babi, dan segehan agung satu tanding. Lengkap dengan tetabuhan. Menurut lontar Sundarigama koleksi Geria Gede Banjarangkan, Klungkung. Penampahan inilah sebagai simbol penetralisir Sang Hyang Kala Tiga.
Setelah itu, keesokan harinya pada Rabu (Buda) Kliwon Dungulan, baru Galungan. Umat Hindu meyakini bahwa hari Galungan para dewa dan roh leluhur turun ke dunia di berbagai tempat. Seperti sanggah, pura, di halaman rumah,di lumbung, dapur, jalan masuk rumah, tugu, penghulu kuburan, penghulu desa.
Kemudian penghulu sawah, di lautan, hingga pegunungan. Adapun sesajen persembahan untuk di sanggah terdiri dari tumpeng panyaag, penek wawakulan, canang raka, ajuman, sedah woh, kembang pahes, wangi-wangi dan pasucian.
“Sesajen persembahan untuk di pura terdiri atas tumpeng pangambeyan, jerimpen, pajegan, sodahan beserta perlengkapan lainnya,” sebut dosen Fakultas Ilmu Budaya Unud ini. Memakai lauk sate babi, daging babi goreng, dengan bunga-bunga, dupa, kemenyan, dan astanggi.
Lontar Sundarigama menyarankan bahwa sesajen pada saat Galungan, agar tetap di tempat persembahyangan semalam. Dan sesajen itu baru bisa lungsur pada keesokan harinya. Setelah umat menyucikan diri lahir dan batin. Dengan sembahyang di merajan atau sanggah masing-masing. (*)

