BADUNG, OborDewata.Com-Krematorium yang didirikan Yayasan Pralina Loka tidak beroperasi lagi. Tercatat hanya sempat mengkremasi dua jenazah. Setelah itu vakum alias tidak ada aktivitas lagi. Sejumlah bangunan di krematorium ditumbuhi tumbuhan sulur (bun), perdu dan sebagainya. Krematorium yang berlokasi di wilayah Desa Adat Anggungan, Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali itu dibangun tahun 2023.
Ketua Yayasan Pralina Loka dr Subagia dihubungi wartawan OborDewata.Com Selasa, 28 Juli 2026 siang membenarkan krematorium yang didirikan bersama kawan-kawwn seprofesi sedang vacum. Baru sempat mengkremasi dua jenazah, itu dari Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, Badung.
Lokasi Krematorium Pralina Loka Anggungan sangat strategis. Mudah dijangkau dari dari desa atau Banjar sekitar. Seperti Bongkasa Pertiwi, Bongkasa, Taman, Punggul, Blahkiuh, Sangeh, Selat dan lainnya. Didirikan bekerjasama dengan pihak Desa Adat Anggungan.
Mengapa vacum? Dr Subagia menjelaskan, karena ada sedikit kendala. Yakni ada sejumlah prajuru (pengurus) Desa Adat yang baru. Mereka mempersoalkan pendirian krematorium di wilayah itu. Padahal sebelumnya masyarakat dan prqjuru lama tidak masalah.
Berapa biaya pendirian krematorium Pralina Loka ? Dr Subagia tidak menjelaskan secara rinci. Tetapi harga satu unit open saja Rp 1,5 miliar. Di krematorium itu menggunakan dua open. Dibeli di Surabaya. Belum biaya empat unit bangunan.
Sumber terpercaya di Desa Adat Anggungan menyebut, sebenarnya dari awal banyak krama (warga) tidak setuju. Namun tidak ada yang berani terang-terangan menolak. Karena merasa ewuh pakewuh dengan pengurus adat. Tetapi pasca Kelian Desa Adat meninggal, mulai muncul penolakan terang-terangan terhadap keberadaan Krematorium. (ast)




















