BADUNG, OborDewata.com – Napas kehidupan religius dan keluhuran adat sungsangan masyarakat Hindu di pesisir selatan Badung kembali memancarkan pesonanya. Keramaian nan khusyuk menyelimuti penataran Pura Dalem Kahyangan, Desa Adat Tuban, Kecamatan Kuta, saat krama setempat melangsungkan rangkaian ritual sakral berskala besar (Karya Utama). Upacara ini digelar sebagai wujud syukur (yadnya) sekaligus penyucian areal suci pura setelah rampungnya pemugaran fisik bangunan pemujaan tersebut. Rentetan upacara suci ini dihadiri langsung oleh Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, bersama Ketua DPRD Badung, I Gusti Anom Gumanti, pada Kamis (17/9/2026).
Kehadiran jajaran pimpinan daerah ini bertindak sebagai Upa Saksi—saksi formal sekaligus spiritualdalam rangkaian ritual Melaspas, Nyusun Pedagingan, Mecaru Manca Rupa, dan Rsi Gana. Ritual pembersihan dan pensucian ini merupakan bagian integral dari ikatan upacara yang jauh lebih besar, yakni Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, Manawa Ratna, dan Tawur Balik Sumpah Utama. Seluruh rangkaian upacara peneguhan kesucian tempat ibadah ini dipimpin langsung oleh Yadnyamana, Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Wijayananda.
Salah satu momentum paling sakral dalam upacara tersebut terjadi ketika Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, menaiki tangga Padmasana agung setinggi 12 meter. Di puncak bangunan suci tersebut, ia menghaturkan serta mengukuhkan kwangen (ngunggahang kwangen) sebagai simbol persembahan pikiran yang suci ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa, dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti pura.
Dalam sambutan budayanya, Adi Arnawa memanjatkan doa agar yadnya yang digelar oleh krama Desa Adat Tuban berjalan sida sidaning don labda karya serta sida paripurna—artinya berjalan lancar, sukses, dan mencapai kesempurnaan demi keselamatan serta keharmonisan (kerahayuan) alam semesta, khususnya bagi tanah Badung dan Bali. Beliau juga menitipkan pesan mendalam mengenai pentingnya menjaga kohesi sosial berbasis nilai kearifan lokal Hindu.
“Kebersamaan ini sangat penting untuk menjaga Desa Adat Tuban, yang tidak lain merupakan gerbang pertama pariwisata Bali melalui jalur udara. Melalui landasan rasa bakti (melarapan subakti), kita memohon kelancaran dalam menata Badung agar menjadi tempat yang lebih nyaman. Kita juga berdoa agar Pendapatan Asli Daerah (PAD) terus meningkat, sehingga program pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat luas dapat terus disokong,” ungkap Adi Arnawa.
Ia mengingatkan agar krama Tuban teguh memegang teguh konsep kebersamaan tradisional Bali, yaitu sagilik-saguluk, salunglung-sabayantaka, yang menekankan persatuan erat dalam suka maupun duka. Gotong Royong Dana Yadnya demi Tegaknya Sungsangan Desa Restorasi dan pelaksanaan upacara berskala besar ini menjadi cerminan nyata dari sistem gotong royong (ngayah) adat Bali yang kuat. Bendesa Adat Tuban, I Wayan Mendra, menjabarkan bahwa pemugaran arsitektur tradisional Pura Dalem Kahyangan ini sebelumnya didanai oleh hibah Pemerintah Kabupaten Badung Tahun Anggaran 2025 sebesar Rp15,9 miliar pada APBD Induk.
Namun, lantaran dana hibah tersebut dikonsentrasikan penuh untuk pembangunan fisik struktur pura, krama Desa Adat Tuban secara swadaya bergotong royong mengeluarkan dana mandiri dari kas adat hingga mencapai hampir Rp9 miliar. Dengan demikian, total nilai estetika arsitektur dan ritual suci pura sungsangan ini diperkirakan menelan biaya total hingga Rp25 miliar.
“Kami menyampaikan apresiasi mendalam dan rasa terima kasih atas dukungan hibah besar dari Pemerintah Kabupaten Badung. Kendati demikian, kami tetap berharap dukungan di masa depan terus ditingkatkan karena kebutuhan adat dan pelestarian kami belum sepenuhnya tercukupi. Sebagai wilayah yang menjadi beranda depan sekaligus beranda belakang Bali, Desa Adat Tuban memerlukan perhatian berkelanjutan baik dari pemerintah daerah maupun sinergi dari PT Angkasa Pura Indonesia,” urai Wayan Mendra.
Sebagai sebuah Karya Agung, prosesi ritual ini memakan waktu yang cukup panjang berdasarkan perhitungan kalender Bali (wariga). Dudonan atau tahapan upacara ini sebenarnya telah dimulai sejak awal Agustus 2026, yang diawali dengan upacara Pemarisuda Bumi, Pecaruan, hingga Melaspas Tetaring (pemasangan atap daun kelapa anyaman untuk peneduh ritual).
Puncak ritual kesucian ini jatuh pada hari bertepatan dengan Purnamaning Kapat, Sabtu Umanis Bala, 26 September 2026. Setela puncak karya, upacara tidak langsung usai melainkan dilanjutkan dengan prosesi penganyaran (persembahan harian berkelanjutan) selama empat hari berturut-turut. Seluruh rangkaian prosesi sakral ini baru akan resmi diselesaikan (sineb) pada tanggal 30 Oktober 2026 mendatang, yang nantinya ditutup secara paripurna dengan ritual Nyegara Gunung ke pantai dan kaki gunung sebagai simbol kembalinya energi suci ke alam.
Upacara sarat nilai budaya ini juga turut disaksikan oleh tokoh-tokoh masyarakat dan perwakilan legislatif dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kuta, di antaranya I Nyoman Graha Wicaksana, I Nyoman Sudana, I Wayan Puspa Negara, dan I Made Sada. Hadir pula Camat Kuta I Made Agus Suantara, jajaran Majelis Desa Adat (MDA), Lurah Tuban, unsur TNI-Polri, perwakilan manajemen PT Angkasa Pura Indonesia, pihak BBMKG Wilayah III, serta jajaran manajemen Jasa Marga Bali Tol, yang mempertegas bahwa pelestarian adat di Tuban didukung penuh oleh seluruh elemen lintas sektor. tra/dx





















