Oleh: dr. Andreas Ronald, Sp.Onk.Rad (Dokter Spesialis Onkologi Radiasi RSUD Bali Mandara)
Kanker hingga kini masih menempati posisi sebagai salah satu penyakit yang paling ditakuti oleh masyarakat. Namun, jika kita bedah lebih dalam, ketakutan tersebut seringkali bukan hanya dipicu oleh dampak fisik penyakitnya, melainkan oleh stigma “vonis mati” serta kekhawatiran besar akan biaya pengobatan yang dianggap selangit.
Sebagai dokter spesialis onkologi radiasi yang setiap hari berpraktik di RSUD Bali Mandara, saya sering menemukan pola yang memilukan: pasien datang ketika kondisi kanker sudah memasuki stadium lanjut atau terlambat. Padahal, secara medis, kanker tersebut memiliki peluang sembuh yang sangat optimal jika ditangani lebih dini.
Benang Merah Keterlambatan: Takut dan Salah Informasi
Sangat menyedihkan ketika mengetahui bahwa keterlambatan ini sering kali bukan disebabkan oleh ketiadaan akses medis. Banyak pasien sebenarnya telah mengantongi jaminan kesehatan melalui BPJS Kesehatan. Perlu ditegaskan bahwa saat ini, hampir seluruh rangkaian pengobatan kanker—termasuk tindakan radioterapi yang canggih—telah ditanggung oleh BPJS.
Lantas, apa yang menghalangi mereka? Jawabannya adalah ketakutan dan informasi yang menyesatkan. Banyak pasien lebih memilih mempercayai klaim pengobatan alternatif atau herbal yang menjanjikan “sembuh total” tanpa dasar ilmiah, hanya karena takut pada prosedur medis.
Akibatnya fatal. Ketika pengobatan alternatif tersebut gagal dan pasien akhirnya kembali ke rumah sakit, pilihan terapi kami menjadi sangat terbatas. Harapan yang semula bersifat kuratif (bertujuan menyembuhkan) seringkali terpaksa berubah menjadi paliatif (hanya mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup).
Bukan Sekadar Nyawa, Tapi Luka Keluarga
Di titik ini, bukan hanya nyawa pasien yang dipertaruhkan. Kanker yang terlambat ditangani meninggalkan duka mendalam dan penyesalan bagi keluarga yang ditinggalkan. Kalimat “Andai saja kami datang lebih cepat” adalah sebuah ratapan yang terlalu sering saya dengar di ruang praktik.
Oleh karena itu, pesan saya bagi seluruh masyarakat, khususnya di Bali: Jangan takut untuk berobat kanker, dan jangan menunda pengobatan medis.
Saat ini, fasilitas di rumah sakit pemerintah seperti RSUD Bali Mandara sudah sangat memadai. Kita tidak lagi berada di era di mana pengobatan kanker hanya milik golongan berpunya. Dengan BPJS, akses terhadap teknologi medis mutakhir kini berada dalam jangkauan semua orang.
Kritis Terhadap Alternatif, Prioritaskan Medis
Kita juga perlu lebih kritis. Dalam dunia kedokteran, sebuah terapi harus melewati uji klinis yang ketat sebelum diterapkan kepada manusia. Ini adalah bentuk tanggung jawab terhadap keselamatan pasien.
Bukan berarti semua terapi pendukung atau nutrisi tambahan dilarang, namun jangan pernah menjadikannya sebagai pengganti pengobatan medis utama yang sudah terbukti secara ilmiah. Untuk membantu masyarakat memahami hal ini, saya aktif membagikan edukasi mengenai nutrisi dan pemahaman kanker melalui website tanyadokterkanker.com.
Waktu Adalah Kunci
Dalam perang melawan kanker, waktu adalah faktor yang paling berharga. Semakin cepat sel kanker dideteksi dan ditangani, semakin besar peluang pasien untuk kembali menjalani hidup normal. Sebaliknya, setiap hari yang terbuang karena keraguan akan mempersempit peluang tersebut.
Jangan biarkan ketakutan menghalangi hak Anda untuk sembuh. Fasilitas sudah ada, biaya sudah dijamin, kini tinggal keberanian Anda untuk melangkah ke fasilitas medis. Jangan tunggu sampai terlambat. (*)


