Opini

Ironi Ekonomi Pariwisata Ubud Tinggi Trotoar Berlubang dan Jadi Parkir Liar

881 Views

Oleh : I Kadek Saputra

Teriknya matahari di daerah Ubud, Gianyar cukup terasa menghangatkan kulit tubuh, macetnya daerah Ubud menandakan adanya pergerakan ekonomi wisata yang dampaknya bisa mengisi dompet para pelaku pariwisata disana. Tapi sayang mereka para pelaku pariwisata maupun Pemerintah Daerah terlena akan masifnya Pariwisata di sana lupa akan hak pejalan kaki troatoar yang nasibnya antah berantah seperti muka manusia yang penuh jerawat banyak lobang dan tidak glowing

 

Kalau dilihat putaran ekonomi disana sangat tinggi, mewahnya deretan bangunan penggerak ekonomi yang setiap bulannya ditagihi pajak, tapi trotoar jalannya sangat menyakitkan, dilihat pun tidak enak, bahkan fungsinya sudah, jadi tangkringan kendaraan roda dua yang sangat asyik menikmati fasilatas pejalan kaki. Pemilik kendaran sepertinya sangat bangga memarkirkan kendarannya di atas trotoar, seolah-olah jalur tersebut dibangun oleh bapaknya tak peduli lagi akan keselamatan para pejalan kaki.

 

Padahal fungsi trotar sudah sangat jelas, trotoar merupakan jalur khusus di tepi jalan yang difungsikan untuk menjamin keamanan dan kenyamanan pejalan kaki, memisahkan mereka dari arus lalu lintas kendaraan bermotor. Trotoar juga berfungsi meningkatkan aksesibilitas, menciptakan kerapian kota, serta menjadi jalur pemandu (guiding block) bagi penyandang disabilitas. Artinya, kondisi trotoar Ubud bertentangan dengan fungsinya, sangat malang para pengguna jalan kaki di Ubud tidak sesuai dengan euforia kemegahan dan indahnya alam Ubud, bahkan trotoar disana sudah tidak lagi peduli dengan nasib Disabilitas yang akan menggunakan fasilitas trotoar.

 

Dengan kondisi tersebut sudah sangat jelas estetikanya pun menghilang, cibiran cibiran wisatawan asing pasti akan terlontar, mereka wisatawan yang senang berjalan kaki pasti akan menceritakan pengalamannya ketika pulang kekampung halamannya, harapannya cerita berjalan di kondisi trotoar yang rusak tidak diceritakannya dengan gamblang.

 

Kalau terus dibiarkan nasib pariwisata Ubud sudah pasti akan di ujung tanduk, karena hal sepele trotoar rusak yang agak dilupakan. Pemkab Gianyar harus cepat bergerak memfungsikan kembali trotoar seperti mottonya AMAN. Menjaga marwah pariwisata Ubud dikenal sebagai pusat kesenian, budaya, dan pariwisata alam di tengah pulau Bali, jangan sampai ketenangan pariwisata Ubud jadi gaduh gara-gara trotoar rusak. (*)