TABANAN, OborDewata.com – Sebagai wilayah yang dikenal sebagai “Lumbung Pangan” Bali, Kabupaten Tabanan kini tengah serius menghadapi tantangan alih fungsi lahan. Kelompok Ahli Bidang Pertanian Pemkab Tabanan, I Gede Suamba, S.E., mengambil langkah strategis dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan terus berupaya mengantisipasi pergeseran lahan pertanian, khususnya di sektor perkebunan kopi yang menjadi komoditas unggulan di wilayah seperti Pupuan.
Menurut Suamba, sektor pertanian di Tabanan menyumbang hampir 35% dari total mata pencaharian masyarakat. Namun, belakangan ini terjadi pergeseran yang cukup signifikan antara lahan pertanian basah dan perkebunan.
Menanggapi fenomena ini, Pemkab Tabanan melalui Dinas Pertanian aktif memberikan bimbingan teknis dan penyuluhan kepada para petani. Tujuannya bukan hanya meningkatkan jumlah produksi, tetapi juga standar kualitas hasil panen.
“Di era global saat ini, persaingan kualitas sangat luar biasa. Jika kita hanya pintar mengelola produksi tanpa menjaga kualitas, maka produk kita akan kalah saing dan harganya jatuh,” ujarnya pada Selasa (5/5/2025).
Tidak hanya itu, Suamba juga mendorong kemandirian petani dan ketersediaan pupuk yang berkualitas. Pasalnya, masalah ketersediaan pupuk dan kemandirian petani menjadi sorotan utama. Meski bantuan melalui kelompok subak terus mengalir lewat skema Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), jumlahnya masih sangat terbatas.
Petani diharapkan tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah, tetapi juga mulai membangun kemandirian. Di sisi lain, Pemkab terus mengupayakan agar distribusi pupuk tetap terjaga guna mendukung produktivitas lahan secara maksimal.
Tantangan Harga dan Peran Perusahaan Daerah (Perusda)
Satu dilema besar yang dihadapi petani kopi di Tabanan adalah ketergantungan pada pembeli dari luar daerah, seperti Singaraja. Hal ini seringkali membuat petani berada di posisi lemah dalam menentukan harga jual.
“Selama ini pembeli dari luar daerah cukup dominan, sehingga mereka dengan mudah menentukan harga. Kita berharap ke depan, melalui Perusahaan Daerah (Perusda) Tabanan, pemerintah bisa ikut mengelola rantai pasar ini,” tambahnya.
Hadirnya Perusda sebagai pembeli kompetitor diharapkan mampu menciptakan persaingan sehat yang pada akhirnya akan mengangkat harga di tingkat petani.
Solusi Kegagalan Panen dan Insentif bagi Petani
Menjadi petani memiliki risiko tinggi, terutama saat menghadapi gagal panen. Beban ekonomi semakin terasa bagi petani yang memiliki anak di usia sekolah. Menanggapi hal ini, muncul usulan agar pemerintah memberikan insentif atau bantuan dalam bentuk pinjaman lunak (bunga rendah).
Skema kerja sama dengan perbankan seperti BPD Bali atau melalui modal Perusda diharapkan bisa menjadi jaring pengaman. Harapannya, petani tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan anak meski hasil panen sedang tidak menentu, dengan sistem pembayaran yang fleksibel saat musim panen tiba.
Dengan langkah-langkah strategis ini, Pemkab Tabanan berkomitmen mempertahankan kedaulatan lahan pertaniannya sekaligus menyejahterakan para pahlawan pangan di daerahnya. tra/dx


