GIANYAR, OborDewata.com – Suasana aula SMA Negeri 1 Blahbatuh, Gianyar, Bali, yang biasanya riuh oleh canda tawa remaja, mendadak senyap. Tatapan ratusan pasang mata siswa tertuju pada sesosok wanita yang berdiri tegap di atas panggung. Ia adalah Ketut Cica, seorang penyintas kanker yang hadir bukan untuk meratapi masa lalu, melainkan membagikan jengkal demi jengkal perjuangannya melawan badai malignansi demi menyalakan lilin kesadaran di hati generasi muda, pada Kamis (6/8/2026).
Di hadapan para siswa, Ketut Cica mengisahkan kembali masa-masa berat saat pertama kali mendapati keanehan pada tubuhnya. Dari ketakutan yang mencekam hingga keberanian untuk bangkit menjemput kesembuhan melalui tindakan medis. Kisah perjuangan fisiknya saat melewati masa-masa pengobatan berat hingga akhirnya dinyatakan bersih dari kanker menjadi bukti hidup bagi para siswa bahwa penyakit ini bukan akhir dari segalanya. Kehadiran Ketut Cica di atas panggung memperlihatkan energi kehidupan yang luar biasa, mengubah ketakutan di wajah para siswa menjadi rasa kagum dan optimisme yang besar.

Kekuatan kisah nyata Ketut Cica tersebut dipertegas secara ilmiah oleh Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Koordinator Bali, dr. A.A. Susraini, Sp.PA(K), yang mendampinginya langsung di atas panggung. Kolaborasi antara kesaksian hidup seorang penyintas dan perspektif medis dari seorang ahli kanker menciptakan dialog yang sangat kuat, menyentuh hati sekaligus membuka cakrawala berpikir ratusan pelajar di aula tersebut.
“Apa yang dilewati oleh Ibu Ketut Cica adalah bukti nyata dari pentingnya kepedulian terhadap tubuh. Kita harus memutus stigma bahwa kanker adalah vonis akhir kehidupan. Kanker stadium awal yang dideteksi secara dini umumnya bisa sembuh total melalui tindakan operasi dan terapi medis yang tepat. Pertemuan hari ini, antara perjuangan nyata Ibu Ketut dan ilmu medis, adalah investasi jangka panjang agar generasi muda Bali berani mendeteksi dini dan tidak takut lagi dengan kanker,” ujar dr. A.A. Susraini dengan penuh penekanan yang menyentuh sisi kemanusiaan.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris YKI Cabang Koordinator Bali, Ni Made Metty Utami, menegaskan bahwa edukasi kolaboratif ini merupakan benteng krusial dalam menekan angka keterlambatan penanganan kanker di Bali. Beliau memaparkan fakta memprihatinkan dari data lapangan bahwa lebih dari 80% kasus kanker, khususnya kanker payudara, baru ditemukan ketika pasien sudah menginjak stadium lanjut akibat rasa takut dan tabu.
“Kanker payudara merupakan keganasan tertinggi pada wanita Indonesia. Melalui harmoni edukasi antara dr. Susraini dan kesaksian Ibu Ketut Cica, kami ingin adik-adik pelajar tidak tabu lagi dengan tubuhnya dan berani melakukan langkah sederhana berupa SADARI atau Periksa Payudara Sendiri setiap bulan setelah menstruasi,” jelas Ni Made Metty Utami di sela-sela kegiatan sosialisasi.
Dalam pemaparan materi kesehatan yang interaktif, para siswa juga dibekali pengetahuan komprehensif mengenai bahaya kanker serviks akibat infeksi virus HPV. Mereka diingatkan untuk membangun gaya hidup sehat tanpa rokok demi mencegah kanker paru, mengingat lebih dari 80% penderitanya merupakan perokok aktif maupun pasif. Edukasi mengenai pencegahan kanker usus besar serta pentingnya deteksi dini pada kanker hati juga dipaparkan secara gamblang untuk memotivasi siswa agar meninggalkan konsumsi junk food atau makanan tinggi pengawet sejak usia muda.
Melalui kolaborasi humanis yang menonjolkan ketangguhan seorang penyintas dan komitmen kuat dari Ketua YKI Bali, kegiatan di SMA Negeri 1 Blahbatuh ini tidak sekadar menjadi kelas teori kesehatan. Ia telah menjelma menjadi ruang refleksi emosional yang menginspirasi para siswa untuk tumbuh menjadi agen perubahan, yang siap melindungi diri sendiri, keluarga, serta lingkungan sekitar dari ancaman laten kanker. tra/dx





















