GIANYAR, OborDewata.com – Siang itu, matahari menyengat aspal mulus Jalan By Pass Prof. Ida Bagus Mantra, Gianyar. Di sebuah sudut dekat perempatan menuju pantai Siyut, deretan warung kayu semi-permanen berdiri dengan tenang. Sekilas, tak ada yang aneh. Meja kayu panjang dan kursi bambu siap menyambut siapa saja yang ingin melepas dahaga dengan segelas kopi atau botol minuman ringan.
Namun, ketenangan itu hanyalah kulit luar. Di balik kepulan uap kopi dan deru mesin kendaraan yang melintas, tersimpan rahasia yang kian meresahkan warga sekitar. Ada kehidupan di “Remang-Remang” siang hari.
Pemandangan di warung-warung ini kontras dengan warung kopi pada umumnya. Alih-alih dipenuhi pekerja proyek atau pengemudi truk yang beristirahat, nampak beberapa wanita dengan pakaian mencolok duduk menunggu. Kehadiran mereka seolah menjadi kode tak tertulis bahwa warung ini menjual lebih dari sekadar kafein.

Istilah “wisata lendir” pun mulai berbisik di telinga warga lokal, dan menjadi sapaan akrab bagi pemburu syahwat yang ingin melepas dahaga. Hal ini terjadi, sangat terlihat jelas didalam aplikasi “Google Map” menunjukan jelas titik lokasi, yang menjadikan para pemburu sangat mudah menemukan lokasi tersebut.
Praktik prostitusi terselubung ini dikhawatirkan tumbuh subur di jalur utama pariwisata Bali, sebuah jalur yang seharusnya menjadi wajah keramahan pulau dewata bagi wisatawan keluarga. Bagi warga yang rutin melintasi jalur ini menuju pantai, keberadaan warung-warung tersebut bak duri dalam daging. Ada rasa risih yang mendalam, terutama saat membawa anak-anak.
“Kami harap ada tindakan nyata dari aparat. Jangan sampai kawasan By Pass yang megah ini justru dikenal karena hal-hal negatif seperti ini,” keluh seorang pengguna jalan yang enggan disebutkan namanya, pada Minggu (22/3/2023).
Dengan adanya wisata lendir Jalan By Pass Ida Bagus Mantra, hal ini sudah sangat jelas citra Gianyar sebagai bagian dari destinasi wisata budaya kini sedang dipertaruhkan. Lokasinya yang sangat strategis membuat praktik ini seolah-olah “terpajang” bebas di etalase utama kabupaten.
Kini, bola panas ada di tangan pihak berwenang. Warga bukan sekadar meminta patroli lewat dengan sirine yang meraung, melainkan sebuah solusi konkret. Ada desakan kuat agar Satpol PP Kabupaten Gianyar dan pihak kepolisian melakukan tindakan persuasif hingga penutupan permanen jika terbukti melanggar administrasi dan norma sosial.
Esensi Gianyar sebagai wisata budaya dangan memiliki “Motto Gianya Aman” sepertinya akan dikikis oleh wisata lendir tersebut. Untuk itulah perlu ketegasan mengembalikan fungsi By Pass Ida Bagus Mantra sebagai jalur yang Aman, Nyaman, dan Bersih dari praktik-praktik yang mencoreng marwah pariwisata Bali. tra/dx



