GIANYAR, OborDewata.com – Panen perdana padi lokal Sri Sedana berlangsung di Subak Uma Kumbuh, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Minggu (24/5/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian plasma nutfah padi lokal Bali sekaligus pengembangan benih unggul berbasis potensi lokal.
Padi lokal Sri Sedana merupakan hasil pengembangan alami melalui persilangan padi lokal Cicih Gondrong asal Sudaji, Buleleng dengan padi lokal Ngaos Rinjani. Pengembangan tersebut dilakukan oleh Yayasan Bali Organic Association (BOA) berkolaborasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali sebagai bentuk inovasi pertanian yang tetap menjaga keaslian varietas lokal Bali.

Padi lokal Sri Sedana memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya hasil produksi lebih tinggi, umur panen lebih genjah, jumlah anakan lebih banyak, serta menghasilkan nasi yang pulen dan aromatik. Pengembangan varietas lokal ini juga menjadi jawaban atas tantangan ketersediaan benih bersertifikat yang berkualitas dan berkelanjutan bagi petani.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, menyampaikan apresiasi terhadap upaya pelestarian varietas lokal yang dilakukan melalui pengembangan padi Sri Sedana.
Menurutnya, inovasi berbasis plasma nutfah lokal menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan pertanian Bali sekaligus memperkuat kemandirian benih daerah.
Ia menilai keberadaan padi lokal Sri Sedana tidak hanya memiliki nilai dari sisi produktivitas, tetapi juga menjadi bagian dari pelestarian warisan pertanian Bali yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Selain mendukung peningkatan hasil pertanian, pengembangan benih lokal dinilai mampu menjaga identitas pertanian Bali yang selaras dengan sistem subak dan pertanian berbasis kearifan lokal.
“Pengembangan benih lokal seperti Sri Sedana merupakan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan pertanian Bali. Seperti sekarang ini yang kita panen mencapai 9,9 ton/Ha (GKP) dan dengan hasil ini kita juga berharap varietas ini dapat memberikan manfaat nyata bagi petani, Produktivitas yang dihasilkan sangat baik dan potensial dikembangkan lebih luas.
Varietas ini juga akan terus diawasi dan didampingi secara ketat oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali agar kualitas benih tetap terjaga. Saat ini kami sedang proses mengusulkan padi Sri Sedana ini dapat menjadi varietas unggul nasional,” ujarnya.
Dari hasil ubinan panen perdana, selain produktivitas padi Sri Sedana tergolong sangat tinggi, mencapai 9,9 ton per hektar, varietas ini juga menunjukkan performa agronomis yang baik dengan jumlah anakan mencapai 20 anakan per rumpun dan panjang malai mencapai 34 cm. Kondisi tersebut menjadi indikator potensi hasil yang tinggi sekaligus adaptasi varietas yang baik pada lahan subak di Bali.
Panen perdana ini juga menjadi momentum penting dalam menjaga keberlanjutan sistem pertanian Bali yang selaras dengan arah pembangunan pertanian daerah. Selain menjaga plasma nutfah, kegiatan ini bertujuan mendukung peningkatan hasil produksi pada lahan subak sekaligus memperkuat kemandirian benih lokal Bali. mas/tra


