BISNIS, Obordewata.com – Belakangan ada kabar, bahwa Jawa-Bali bakal krisis listrik, karena beberapa alasan. Ternyata ini bukan isapan jempol semata, karena sudah terjadi di Banyuwangi.
Warga Banyuwangi geram, setelah janji manis pemeliharaan jaringan ternyata menyisakan pil pahit. Pemadaman listrik bergilir, justru kian merajalela dan melumpuhkan berbagai sektor vital.
Mulai dari wilayah Kecamatan Kalipuro, Rogojampi, hingga Singojuruh, warga gigit jari menghadapi mati lampu massal yang durasinya tidak main-main, mencapai hampir lima jam!
Dampaknya tidak hanya mengacaukan aktivitas rumah tangga, dan pekerja kantoran yang terpaksa work from home (WFH), tetapi juga mengancam keselamatan nyawa di jalan raya.
Traffic Light Cungking Mati Total, Arus Lalu Lintas Semrawut Tanpa Petugas
Dampak paling provokatif terlihat nyata di perempatan Cungking, Kelurahan Mojopanggung, salah satu urat nadi lalu lintas tersibuk di Banyuwangi.
Akibat pemadaman ini, fasilitas lampu lalu lintas (traffic light) mati total! Ironisnya, saat jam pulang kerja yang padat, tidak tampak satu pun petugas yang berjaga untuk mengurai kesemrawutan.
Kendaraan dari empat arah saling serobot, berebut jalan, dan menciptakan kondisi super rawan kecelakaan. Keluhan pun menggema dari berbagai penjuru.
Yuli, warga Desa Kelir, mengeluhkan listrik yang padam sejak sore pukul 16.40 WIB dan baru menyala pukul 21.30 WIB. Sementara Kartika, warga Singojuruh, mengaku frustrasi karena dalam seminggu ini wilayahnya sudah berkali-kali padam hingga baterai gawai penunjang kerjanya sekarat.
PLN Buka Suara: Bukan Pemeliharaan Lagi, Tapi Defisit Pasokan Daya!
Menanggapi gelombang protes warga, PT PLN (Persero) UP3 Banyuwangi akhirnya blak-blakan. Asisten Manajer Keuangan dan Umum, Widi Umaryanto, menegaskan bahwa pemadaman ini bukan lagi karena perbaikan tiang atau kabel, melainkan karena krisis pasokan daya dari sisi pembangkit utama.
Sistem kelistrikan Banyuwangi yang masuk dalam jaringan interkoneksi Jawa-Bali termasuk suplai dari PLTU Paiton melalui jalur SUTET saat ini mengalami defisit daya tajam, terutama saat beban puncak. (*)


