DENPASAR, OborDewata.com – Meningkatnya pemberitaan dan unggahan di media sosial terkait kasus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika di Bali belakangan ini menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Dihimbau masyarakat dan peternak agar tetap tenang serta tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi.
ASF merupakan penyakit virus yang menyerang ternak babi dengan tingkat kematian tinggi. Penularannya dapat terjadi melalui kontak langsung dengan babi terinfeksi, air liur, feses, sisa makanan berbahan babi (swill feeding), hingga peralatan dan manusia yang terkontaminasi virus. Meski demikian, penyakit ini tidak menular kepada manusia dan daging babi tetap aman dikonsumsi apabila berasal dari ternak sehat serta diolah dengan benar.

Menindaklanjuti kondisi tersebut, Tim Teknis Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali bersama dinas yang menangani kesehatan hewan kabupaten/kota se-Bali telah menerjunkan tim kesehatan hewan untuk melakukan pemeriksaan lapangan dan pemantauan terhadap ternak babi di sejumlah wilayah.
Selain pemeriksaan lapangan, petugas juga terus memberikan edukasi kepada peternak terkait pentingnya penerapan biosekuriti secara ketat di kandang. Langkah ini dinilai sangat penting mengingat hingga saat ini vaksin ASF belum tersedia secara komersial sehingga pengendalian penyakit sepenuhnya mengandalkan penerapan biosekuriti dan sanitasi kandang yang baik.
Peternak diimbau rutin melakukan pembersihan kandang, penyemprotan disinfektan, membatasi keluar masuk orang ke area kandang, serta memastikan pakan yang diberikan berkualitas dan tidak berasal dari limbah makanan yang berisiko membawa virus.
Bahkan, peternak juga disarankan untuk mengisolasi ternak babi yang baru dibeli sebelum dicampur dengan ternak lainnya. Langkah karantina sementara tersebut penting dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan ternak dan mencegah potensi penularan penyakit ke seluruh populasi dalam kandang. ASF sendiri saat ini telah menjadi penyakit endemis di Pulau Bali. Oleh karena itu, kewaspadaan dan kedisiplinan peternak menjadi kunci utama dalam menekan penyebaran penyakit tersebut.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Wayan Sunada, mengatakan, pengendalian ASF memerlukan kerja sama seluruh pihak, terutama para peternak sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan ternak. Menurutnya, peternak perlu terus menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak dengan memberikan pakan berkualitas, melakukan vaksinasi untuk penyakit lain yang dapat dicegah, serta segera melakukan pengobatan apabila ditemukan gejala penyakit pada ternak.
“ASF memang sudah menjadi penyakit endemis di Bali, sehingga yang paling penting saat ini adalah meningkatkan kewaspadaan dan disiplin dalam penerapan biosekuriti. Kami mengimbau peternak untuk menjaga sanitasi kandang, membatasi lalu lintas orang dan barang ke kandang, serta segera melapor apabila ada ternak sakit atau mati mendadak,” ujar Wayan Sunada, pada Senin (25/5/2026).
Ia juga mengingatkan bahwa manusia dapat menjadi perantara (carrier) penyebaran virus ASF dari satu kandang ke kandang lain apabila tidak mematuhi prosedur kebersihan kandang. Oleh sebab itu, setiap orang yang masuk ke area peternakan diharapkan menggunakan alas kaki khusus, mencuci tangan, dan memastikan peralatan yang digunakan dalam kondisi bersih serta telah didisinfeksi.
Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali bersama pemerintah kabupaten/kota juga terus memperkuat pengawasan lalu lintas ternak, pemeriksaan kesehatan hewan, serta edukasi kepada masyarakat guna mencegah penyebaran ASF yang lebih luas.
Ramainya informasi di media sosial diharapkan tidak menimbulkan kepanikan ataupun panic selling yang justru dapat merugikan peternak. Masyarakat diimbau untuk tidak menyebarkan informasi yang belum dipastikan kebenarannya, tidak membuang bangkai ternak sembarangan, dan segera melapor kepada petugas apabila ditemukan kematian ternak yang tidak normal. Informasi kasus ASF akan disampaikan secara bijak dan berdasarkan data resmi sehingga tidak memunculkan persepsi seolah terjadi wabah besar di seluruh Bali. Penanganan bersama dinilai sangat penting karena sektor peternakan babi tidak hanya menopang ekonomi masyarakat Bali, tetapi juga berkaitan erat dengan kebutuhan adat, budaya, dan pariwisata daerah. mas/sathya


