Obordewata.com – Kasus kematian babi gegerkan warga di Bali. Salah satu kesedihan karena babi milik Wayan Sudiantara mati di Payangan.
Padahal anak babi itu baru berusia 50 hari, tapi kemudian mati massal. Tak sampai di sana, 9 ekor induk babi juga mati.

Kelian Banjar Susut, Desa Buahan, Kecamatan Payangan itu, berharap pemerintah turun tangan terkait hal ini.
Menurutnya, pemerintah harus memastikan apakah kematian puluhan ekor babi ini, apakah oleh virus African Swine Fever (ASF) atau bukan.
Sebab di banjarnya sendiri, kematian babi massal ini terjadi ke lima peternak, serta peternak babi di sejumlah banjar di Kecamatan Payangan juga mengalami nasib serupa.
“Habis babi saya, babi umur 50 hari sekitar 17 ekor, babi induk 9 ekor, semua mati,” ujarnya, Jumat (22/5). Dalam menyelamatkan lingkungan setempat, Sudia memilih membakar babi-babinya yang telah mati tersebut.
“Semua yang mati sudah saya bakar. Semoga pihak terkait lakukan riset terkait virus babi. Apa ASF atau virus lain? Kerugian hingga puluhan juta,” ujarnya.
Sudia mengungkapkan, sebelum mati, babinya mengalami sejumlah gejala, suhu badan babi panas, tidak mau makan, setelah itu sesak nafas, lalu mati.
“Gejalanya berlangsung selama tiga hari sebelum mati. Semoga ada tindak lanjut dari pihak terkait, carikan solusi agar masyarakat tidak takut beternak babi,” ujarnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Gianyar, I Made Dwitemaja mengatakan, pihaknya belum mendapatkan laporan terkait kematian massal babi di Banjar Susut.
Namun di sejumlah banjar di Kecamatan Payangan, memang telah ada banyak babi mati dengan gejala serupa.
Beberapa sampel babi yang mati tersebut telah diuji laboratorium, dan memang terdapat babi suspect ASF.
Penanganan ASF ini butuh keterlibatan berbagai pihak, baik pemerintah pusat, provinsi maupun Pemda. Saat ini, pihaknya mengimbau agar para peternak menerapkan biosafety dan biosekuriti kandang babi, yakni sebuah prosedur pencegahan masuk dan penyebaran agen penyakit.
Dwitemaja mencurigai proses ASF bisa menyerang babi ini karena peternak itu sendiri.“Dari kebersihan kandang, kami melihat peternak di Gianyar sudah sangat disiplin. Namun curiga, saat peternak membeli pakan, kan ada banyak orang di situ, lalu virus itu menempel pada peternak, lalu saat ke kandang mereka tidak ganti baju dan membersihkan diri, sehingga virusnya mengenai babi peliharaannya,” duganya.
Sebelumnya, puluhan ekor babi milik peternak di Banjar Kayu Tulang, Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung juga mati mendadak. Para peternak mengalami kerugian besar karena babi tersebut sudah siap panen.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) Disperpa Badung, I Gusti Ngurah Narendra mengatakan pihaknya di Keswan telah melakukan tindak lanjut ke lokasi bersama Puskesmas Mengwi.
Namun saat petugas turun, seluruh ternak sudah tidak ada sehingga sampel tidak dapat diambil untuk pemeriksaan laboratorium.
Karena itu, pihaknya belum berani memastikan apakah kematian babi itu karena virus yang diduga Virus African Swine Fever (ASF) atau tidak. Mengingat proses pencarian sampel tidak bisa dilakukan.
Disperpa Badung kini lebih menitikberatkan langkah penanganan melalui edukasi dan penguatan sistem biosekuriti di tingkat peternak.
Sosialisasi terkait pentingnya menjaga kebersihan kandang, melakukan desinfeksi rutin, hingga membatasi lalu lintas orang, alat, dan hewan lain masuk ke area peternakan.
Selain itu, peternak juga tidak menggunakan swill feeding atau pakan sisa hotel dan restoran untuk ternak babi karena berisiko menjadi media penularan penyakit.
Narendra menegaskan pihaknya meminta peternak tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan dengan disiplin menerapkan biosekuriti. (*)



