PAYANGAN, OborDewata.com — Kepulan asap dupa membubung tinggi, berbaur dengan riuhnya hilir mudik keluarga dan kerabat yang memenuhi pelataran rumah. Di sudut halaman, suara tawa riang mendadak larut dalam keheningan yang syahdu ketika alunan genta mulai bertalu, pada Senin (27/7/2026), kediaman I Wayan Timur di Banjar Tibekauh, Desa Melinggih Kelod, Kecamatan Payangan, Gianyar, menjadi saksi bisu sebuah awal perjalanan hidup yang baru.
Hari itu, rasa haru dan bahagia membuncah jadi satu. Doa-doa suci dipanjatkan dalam upacara Manusa Yadnya, mengiringi pernikahan putri tercinta I Wayan Timur, Ni Putu Eka Gita Kirani, yang dipersunting oleh sang pujaan hati, I Komang Tintin Suryanto.
Prosesi sakral dimulai dengan upacara Byakaon. Di atas hamparan anyaman bambu, kedua mempelai dengan khusyuk, hati yang berdoa kedua mempelai berikrar janji suci saling setia sampai hayatnya. Satu per satu tahapan penyucian dilakukan untuk menetralisir energi negatif dan membersihkan jiwa, menyisakan ruang murni di hati mereka untuk menapaki lembaran baru. Bagi Ni Putu Eka Gita Kirani dan I Komang Tintin Suryanto, setiap ketukan sarana ritual seolah menjadi penanda rukunnya janji suci yang akan mereka pikul bersama.
Namun, upacara adat Bali bukan sekadar tentang ritual di atas kertas atau banten yang tertata rapi. Ia adalah tentang rasa. Begitu prosesi Byakaon usai, bendungan pertahanan itu akhirnya runtuh. Air mata yang sejak pagi ditahan, perlahan mengalir membasahi pipi ibu kandung Ni Putu Eka Gita Kirani. Isak tangisnya bukanlah lambang kesedihan, melainkan luapan kebahagiaan teramat dalam sekaligus rasa ikhlas yang membubung tinggi. Ada sejuta cerita masa kecil yang melekat, kini bersiap dilepaskan demi mengantarkan putri tercintanya melangkah mantap menuju pelaminan.
Di bawah langit Payangan yang sejuk, senyum merekah dari kedua mempelai menyapu sisa-sisa air mata haru keluarga. Dengan jiwa yang telah disucikan dan restu mendalam dari orang tua, Ni Putu Eka Gita Kirani dan I Komang Tintin Suryanto kini siap mengarungi bahtera rumah tangga, berbekal doa yang dihantarkan oleh asap dupa dan genta yang terus menggema di Banjar Tibekauh. tra/dx
