BADUNG, OborDewata.com — Dalam memberikan rasa baktinya terhadap orang tuanya yakni Alm, Jro Mangku Gede I Wayan Tang, Putranya Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali, I Wayan Disel Astawa, menggelar Upacara Pitra Yadnya rangkaian ini sebagai bentuk rasa penghormatan dirinya sebagai perwujudan Bakti Guru Rupaka, mengingat jasa dan pengorbanan Alm, Jro Mangku Gede I Wayan Tang terhadap keluarganya yang tak pernah lelah dalam memajukan keluarga dengan tulus ikhlas, maka dari itu Disel Astawa pun menggelar rangkaian pelaksanaan Karya Pitra Yadnya (Ngaben) dengan mangambil tingkat Utamaning Utama .
Disel menjelaskan, rangkaian upacara ini dilaksanakan sebagai wujud bakti terakhir anak dan sentana kepada orang tua serta leluhur. Sejatinya, prosesi Upacara Pitra Yadnya Alm, Jro Mangku Gede I Wayan Tang telah dimulai sejak awal bulan. Pada tanggal 1 Juli 2026 dilakukan prosesi Nglaspas, dilanjutkan pada tanggal 2 Juli dengan upacara Ngulapin, Mamitang dari Setra dan Pule Dalem, hingga Ngangge Pelinggih di tempat kediaman.
”Hari ini dilaksanakan proses pembersihan, Ngelelot, dan Tarpana Saji. Selanjutnya, pada tanggal 5 Juli dilakukan upacara Nyatur Muka/Muruwa Desa untuk melepaskan semua jabatan orang tua semasa hidup, seperti pemangku, serta memohon maaf atas segala kesalahan agar beliau tenang menuju Amor ing Acintya,” ujar Disel Astawa pada Senin (3/8/2026).
Rangkaian utama upacara akan dilanjutkan pada beberapa tanggal penting berikutnya:
7 Juli: Pelaksanaan upacara Ngaskara, Munggah Tumpang Salu, dan Damar Kurung.
10 Juli: Upacara Mesangih (Metatah) yang diikuti oleh 10 orang cucu dan kompyang, dilanjutkan dengan Manah Tirta Nging, Ngangget Don Bingin, serta Tarpana Saji. dan 13 Juli: Upacara Pengutangan/Penganyutan ke segara pada pagi hari.
Setelah jeda selama satu minggu, rangkaian dilanjutkan dengan prosesi Majar-ajar dan Nuntun. Rangkaian karya ini dipuput oleh Ida Rishi Suta Dharma dari Punduk Dawa (Semeton Tangkas Kori Agung) dan ditargetkan rampung sepenuhnya pada bulan September mendatang dengan upacara Pujawali sekaligus Ngelinggihang di Rong Tiga.
Mengenai pelaksanaan upacara Metatah bagi para cucu yang dirangkaikan dalam upacara ini, Disel Astawa menegaskan makna spiritual di baliknya.
”Upacara Metatah bagi cucu-cucu ini wajib dilakukan sebelum orang tua melinggih di Rong Tiga. Jika cucu belum resik masih ada unsur Sad Ripu, berarti masih ada utang kita terhadap leluhur. Dengan penyucian ini, beban orang tua menjadi ringan dan bersih sehingga beliau tenang menyatu dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Disel Astawa yang juga Wakil Ketua DPRD Bali, kembali menyampaikan terima kasih kepada Pengempon Pura Dadia Delod Bingin Ungasan, Pasemetonan Pasek Bandesa Gerih dan Jambe Sari, Paiketan Pemangku se Desa Adat Ungasan serta semua pihak yang terlibat dalam menyukseskan Karya Pitra Yadnya dengan tingkatan utamaning utama ini.
Puncak Karya Pitra Yadnya Ngewangun Nyawa Wedana Utamaning Utama” Atma Wedana” Maligia Kurung Metatah Jro Mangku Gede I Wayan Tang dilaksanakan pada Buda Umanis Tambir, 12 Agustus 2026, dilaksanakan Puncak Maligia Kurung, Mapurwa Daksina, Metiti Mamah Kebo, Memukur, Mejaya-jaya, Metatah, Mepetik, dan Mendak Dateng.
“Habis itu, jeda satu minggu baru dilanjutkan dengan maajar-ajar, mendak nuntun. Setelah itu, pada Buddha Cemeng Menail dilaksanakan Pujawali sekaligus ngelinggihang, ” pungkasnya. mas/sathya




















