LifeStyleSosial Budaya

Meruwat Dompet, Menyucikan Jiwa di Hari Tumpek Wayang

966 Views

​Bali hari ini kembali bersujud. Aroma dupa dari banten (sesaji) kecil di ambang pintu rumah menyapa pagi Saniscara Kliwon Wayang, Sabtu (14/3/2026). Namun, ada nada yang getir di balik jentikan jemari para pemuja. Di tengah badai ekonomi yang membuat harga beras dan kebutuhan pokok melonjak tak keruan, perayaan Tumpek Wayang tahun ini bukan sekadar urusan ritual, melainkan ujian bagi nalar dan iman.

Bukan Lagi Soal Kemegahan Banten

​Secara tradisional, Tumpek Wayang adalah momen penyucian—peruwatan. Kita diajak menghadap Sang Hyang Iswara untuk memohon pencerahan agar lepas dari kegelapan (Kala). Namun, di era “ekonomi sulit” ini, kegelapan yang paling nyata, melainkan ketidakpastian hari esok.

​Sudah saatnya kita berhenti mengukur kesakralan dari besarnya banten atau mewahnya upacara. Jika untuk membeli janur dan buah saja masyarakat harus berhutang, bukankah itu justru mengundang “Kala” baru dalam bentuk beban finansial? Disinilah kita perlu melakukan istilah peruwatan dompet dengan  esensi peruwatan hari ini seharusnya bergeser: meruwat gaya hidup. Berani bersahaja adalah bentuk pencerahan yang paling relevan saat ini.

Bahkan sejatinya Yadnya sebagai bagian dari tradisi agama Hindu di Bali memang memiliki makna spiritual yang mendalam, diartikan sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan, leluhur, dan alam semesta, serta sarana untuk mencapai keseimbangan hidup. Namun, ketika pelaksanaannya harus dilakukan dengan cara berhutang hingga mengganggu kesejahteraan hidup sehari-hari, hal ini memang bisa dikatakan telah “keblinger” atau menyimpang dari esensi awal yang baik. Pada dasarnya, yadnya tidak diukur dari besarnya biaya atau kelengkapan perlengkapan, melainkan dari kesungguhan hati dan kesadaran akan tujuan spiritual yang ingin dicapai. Banyak upacara yang bisa dilaksanakan dengan sederhana sesuai dengan kemampuan ekonomi masing-masing keluarga.

Ritual Sapu Leger Kolektif

Munculnya tren ritual Sapuh Leger secara kolektif belakangan ini sebenarnya adalah sinyal positif. Di satu sisi, ini adalah strategi bertahan hidup (survival) agar biaya upacara lebih ringan. Di sisi lain, ini adalah pengingat bahwa di masa sulit, kita tidak bisa selamat sendirian. Spiritualisme Bali yang komunal kembali diuji untuk tidak menjadi egois di tengah resesi.

Dalang yang Terbelenggu

​​Para dalang dan seniman mungkin menjadi pihak yang paling merasakan getirnya ekonomi. Dibelenggu minimnya tanggapan atau hajatan warga karena pengetatan anggaran diseluruh lini adalah kenyataan pahit. Namun, Tumpek Wayang mengajarkan tentang kreativitas. Sebagaimana bayangan wayang yang terlihat di layar merupakan fleksibel mengikuti arah cahaya, manusia Bali dituntut untuk tetap kreatif dan “metangi” (bangkit) mencari celah solusi di tengah keterbatasan.

​​Tumpek Wayang di masa sulit ini adalah momentum untuk “nyleman” atau masuk ke dalam diri. Kita sedang diingatkan bahwa, ritual Sejati adalah pengendalian emosi agar tidak mudah tersulut kemarahan karena tekanan ekonomi, ditambah lagi pemujaan untuk Iswara adalah kejernihan berpikir di tengah kepanikan krisis.

​Jangan sampai ritual yang seharusnya memberi ketenangan justru menjadi sumber stres baru karena tuntutan sosial. Mari kita rayakan Tumpek Wayang dengan hati yang jernih dan dompet yang rasional. Sebab, dewa-dewi tidak pernah meminta hamba-Nya menderita demi sebuah selebrasi, melainkan merindukan hamba yang bijaksana dalam menghadapi kerasnya kehidupan. (*)

Oleh: I Kadek Saputra