Ekonomi BisnisSosial Budaya

Kowinu Bali Nilai program Tri Hita Trans  Peluang strategis untuk Desa Adat

898 Views

DENPASAR, OborDewata.com – Di tengah upaya Pemerintah Provinsi Bali mendorong transformasi transportasi hijau berbasis nilai lokal, respons positif justru menguat dari pelaku transportasi berbasis koperasi. Koperasi Angkutan Wisata Nusa Dua (Kowinu) Bali secara terbuka menyatakan dukungan terhadap program aplikasi angkutan Tri Hita Trans yang digagas sebagai bagian dari implementasi filosofi Tri Hita Karana dalam sektor transportasi.

Dukungan tersebut disampaikan dalam dialog antara jajaran Koperasi Angkutan Kowinu Bali dengan PT Sentrik Persada Nusantara di Main Dealer VinFast Gatot Subroto Barat, Denpasar, pada Jumat, 6 Februari 2026. Pertemuan ini menjadi ruang diskusi terbuka mengenai masa depan transportasi Bali yang lebih ramah lingkungan, berkeadilan, dan memberi ruang partisipasi nyata bagi krama adat.

Ketua I Koperasi Angkutan Kowinu Bali, Drs. I Made Retha, S.H., MAP., menegaskan bahwa Kowinu Bali pada prinsipnya tidak menolak perubahan. Sebaliknya, Kowinu Bali melihat program Tri Hita Trans sebagai peluang strategis untuk menata ulang sistem transportasi Bali agar lebih berpihak pada masyarakat lokal. “Kami melihat Tri Hita sebagai jalan tengah. Ini bukan sekadar aplikasi, tapi konsep yang mencoba menggabungkan teknologi, budaya, dan kepentingan krama adat,” ujar mantan Bendesa Adat Bualu itu.

Menurutnya, selama ini narasi yang berkembang sering kali menempatkan pelaku transportasi lokal seolah-olah anti terhadap inovasi dan teknologi. Padahal, yang sesungguhnya diharapkan koperasi adalah sistem yang adil dan tidak meminggirkan mereka dari ruang ekonomi di daerahnya sendiri.

Made Retha menilai, pendekatan Tri Hita Karana dalam transportasi sangat relevan dengan kondisi Bali. Filosofi ini tidak hanya berbicara tentang harmoni manusia dengan alam dan Tuhan, tetapi juga tentang keadilan sosial di antara sesama manusia. “Kalau kita bicara Tri Hita Karana, maka transportasi tidak bisa hanya dilihat sebagai urusan bisnis. Ini menyangkut penghidupan krama Bali,” katanya.

Ia menambahkan bahwa koperasi merupakan bentuk usaha yang paling dekat dengan semangat kebersamaan dan gotong royong yang menjadi nilai dasar masyarakat Bali. Karena itu, program Tri Hita Trans dinilai tepat jika menjadikan koperasi sebagai salah satu pilar utamanya.

Dalam dialog tersebut, Made Retha yang juga anggota DPRD Badung dari Partai Demokrat ini menegaskan bahwa keberhasilan transportasi hijau tidak bisa dilepaskan dari kesiapan ekonomi pelaku lokal. Transisi ke kendaraan listrik, menurutnya, harus dibarengi dengan dukungan ekosistem yang realistis. “Kami mendukung transportasi hijau. Tapi jangan sampai beban transisi itu seluruhnya ditanggung krama adat dan koperasi,” ujarnya.

Ia menilai, kehadiran pihak swasta yang memahami kondisi koperasi menjadi sangat penting. Dalam konteks ini, Kowinu Bali mengapresiasi keterlibatan PT Sentrik Persada Nusantara yang dinilai tidak hanya menjual kendaraan, tetapi juga membawa konsep pemberdayaan. “Yang kami lihat, Sentrik mencoba menempatkan diri sebagai mitra. Ini penting, karena koperasi tidak bisa disamakan dengan perusahaan besar,” kata Made Retha.

Menurutnya, kendaraan listrik yang ditawarkan harus memenuhi dua syarat utama: kualitas yang baik dan harga yang masih terjangkau. Tanpa itu, program transportasi hijau berisiko menjadi slogan tanpa implementasi. “Kami tidak ingin program bagus ini hanya bisa dinikmati segelintir pihak. Harus bisa diakses oleh krama Bali,” tegasnya.

Di sisi lain, Founder PT Sentrik Persada Nusantara, I Made Sudiana, S.H., M.Si., yang menerima langsung jajaran Kowinu Bali, menyampaikan bahwa pihaknya sejak awal merancang pendekatan berbeda dalam memasarkan kendaraan listrik di Bali. Ia menyadari bahwa Bali memiliki konteks sosial dan budaya yang tidak bisa disamakan dengan daerah lain.n“Kami datang ke Bali bukan hanya membawa produk, tapi membawa konsep. Konsep itu harus sejalan dengan nilai Tri Hita Karana,” ujar Made Sudiana.

Ia menjelaskan bahwa PT Sentrik Persada Nusantara melihat koperasi dan desa adat sebagai subjek utama transformasi transportasi. Tanpa keterlibatan mereka, perubahan apa pun tidak akan berkelanjutan.n“Kalau krama adat merasa memiliki, maka sistem akan berjalan. Kalau tidak, konflik akan terus ada,” katanya.

Made Sudiana menegaskan bahwa Tri Hita Trans bukan dimaksudkan sebagai alat untuk menggantikan peran transportasi lokal, melainkan sebagai platform untuk menyatukan berbagai kepentingan dalam satu ekosistem yang adil. “Kami ingin koperasi seperti Kowinu menjadi bagian dari sistem ini, bukan korban dari perubahan,” ujarnya.

Ia juga menyinggung pentingnya membangun kepercayaan antara pelaku koperasi dan penyedia teknologi. Menurutnya, selama ini banyak program gagal karena kurangnya komunikasi dan transparansi. “Dialog seperti ini penting. Biar tidak ada kecurigaan dan salah paham,” kata Made Sudiana.

Dalam pertemuan tersebut, jajaran Kowinu Bali menyampaikan berbagai aspirasi terkait implementasi Tri Hita Trans di lapangan. Salah satunya adalah perlunya pengaturan wilayah operasional yang jelas agar tidak terjadi tumpang tindih antar pelaku transportasi.

Koperasi juga menekankan pentingnya pelatihan bagi anggota, baik terkait penggunaan aplikasi maupun perawatan kendaraan listrik. Tanpa pendampingan, transformasi teknologi berpotensi menimbulkan kesenjangan baru. “Kami siap belajar dan beradaptasi. Tapi prosesnya harus bertahap dan manusiawi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa koperasi memiliki keunggulan dalam hal pengelolaan anggota dan disiplin operasional. Jika diberikan ruang, koperasi justru bisa menjadi mitra strategis dalam menjaga kualitas layanan transportasi Bali. “Anggota koperasi itu jelas identitasnya, jelas tanggung jawabnya. Ini sejalan dengan citra Bali sebagai destinasi berbudaya,” katanya.

Dari sisi lingkungan, Kowinu Bali menilai penggunaan kendaraan listrik selaras dengan upaya menjaga kesucian dan kelestarian Bali. Polusi udara dan kebisingan kendaraan konvensional selama ini menjadi keluhan di kawasan wisata. “Transportasi hijau bukan hanya soal teknologi, tapi soal menjaga Bali agar tetap nyaman untuk generasi mendatang,” ujar Made Retha.

Made Sudiana menutup dialog dengan menegaskan komitmen PT Sentrik Persada Nusantara untuk terus mendampingi koperasi dalam proses transisi. Ia menyebut pertemuan ini sebagai awal dari kolaborasi jangka panjang. “Kami percaya, perubahan besar selalu dimulai dari dialog yang jujur,” ujarnya. tra/ama/ksm/yar