Kehidupan bagaikan berkendara di atas motor pada lajur searah dengan laju yang berbeda-beda, antara motorku dengan pengendara lainnya. Fungsi spion untuk melihat ke belakang, apa saja yang sudah ku lalui dan sudah seberapa jauh perjalanan ini ku tempuh.
Terkadang tempat indah yang sudah terlewati ingin ku singgahi kembali. Namun, lajur satu arah yang ku sebut dengan waktu tak menyediakan lajur, untuk putar balik kembali ke tempat itu. Sesaat diri ini tersadar bahwa melihat spion terus menerus akan menghambat laju kehidupan yang terus berjalan.
Ya, aku sudah kalah momentum dengan yang lain. Kecepatan motorku mungkin sudah kalah, dengan pengendara motor baru yang baru dicetak oleh pabrik sekolah ternama. Kadang terlintas kata-kata yang sering diucapkan orang bahwa “Bukan Soal Motornya, Tapi Siapa yang Mengendarai” namun, rasanya pembalap yang hebat pun takkan bisa melaju kencang dengan motor tua. Pada akhirnya, kesadaran membuyarkan lamunan di tengah perjalanan yang panjang ini, bahwa kita harus menikmati proses perjalanan ini.
Tak peduli kita hanya bisa melaju pelan, setidaknya bisa menikmati perjalanan dengan tujuan yang sama di atas lajur searah dengan pengendara lainnya. Besi tuaku takkan ku paksakan untuk berpacu dengan yang lain. Mungkin orang lain dengan laju yang kencang takkan menikmati perjalanan mereka, takkan melihat sisi kiri maupun kanan. Memang itu bagus untuk segera menuju ke tempat yang diimpikan. Tapi, dengan besi tua ini, dengan tamparan kenyataan bahwa diri ini harus bersikap realistis, ku kira tak ada salahnya menikmati proses perjalanan panjang.
“Boleh istirahat ketika lelah, namun jangan pernah berhenti untuk lanjut melaju” (karya: Kadek Agus Leo)



