GIANYAR, OborDewata.com – Matahari baru saja meninggi di ufuk timur Desa Medahan saat riak air di saluran irigasi Subak Celuk tampak berbeda dari biasanya. Bukan sekadar aliran air yang menuju petak-petak sawah, namun ada sebuah penghalang kokoh yang kini berdiri sigap, sebuah barrier sampah hasil kolaborasi antara semangat akademisi dan kearifan lokal.
Sebuah langkah nyata diambil untuk menjawab keresahan menahun para petani. Masalah sampah kiriman yang kerap mampir di lahan pertanian Gianyar kini menemui lawannya. Mahasiswa Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar yang tengah menjalankan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berhasil menginisiasi pemasangan sistem penghalang sampah di saluran irigasi utama desa tersebut.

Bagi petani di Subak Celuk, sampah plastik dan limbah domestik adalah “hantu” yang kerap menyumbat pintu air. Tak hanya menghambat distribusi air, limbah-limbah ini menurunkan kualitas air yang menjadi nadi kehidupan padi mereka.
Perbekel Desa Medahan, I Wayan Buana, yang turun langsung ke lapangan, menegaskan bahwa ini bukan sekadar soal teknis, melainkan soal keberlangsungan hidup.
”Kami menyadari bahwa kebersihan saluran irigasi adalah kunci keberhasilan panen. Dengan adanya barrier ini, kita tidak hanya mengamankan aliran air, tetapi juga mengedukasi masyarakat bahwa sungai bukanlah tempat pembuangan sampah,” tegasnya di sela-sela pemantauan pada Minggu, (15/3/2026).

Pemerintah desa pun tak main-main. Untuk memastikan alat ini berfungsi maksimal, petugas kebersihan akan disiagakan secara berkala guna mengangkut sampah yang terjaring, mencegah luapan air yang bisa merusak pematang.
Sinergi Akademisi pun dilakukan secara sederhana namun tepat guna. Di balik teknis pemasangan, ada sentuhan pemikiran dari Universitas Mahasaraswati Denpasar. Dr. I Gusti Ayu Agung Sintha Satwika, S.S., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), menekankan bahwa inovasi ini lahir dari observasi lapangan yang mendalam.
Efisiensi dirancang menyaring sampah tanpa mengurangi debit air. Mudah dirawat dan dioperasikan oleh warga lokal. Dampaknya menjaga ekosistem pertanian untuk jangka panjang.
”Peran kami adalah memastikan solusi ini benar-benar tepat guna. Kami berharap inovasi sederhana ini menjadi pemantik perubahan bagi ekosistem pertanian di Desa Medahan,” ungkap Dr. Sintha.
Pemasangan barrier ini disambut hangat oleh krama Subak Celuk senyum sumringah pun terlihat. dimana para petani beban kerja manual yang biasanya menghabiskan waktu berjam-jam untuk membersihkan sampah kiriman sebelum menggarap sawah, kini mulai berkurang.
Lebih dari sekadar alat fisik, kolaborasi ini adalah perwujudan nyata dari filosofi Tri Hita Karana, khususnya Palemahan, yakni menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Desa Medahan kini menjadi bukti bahwa dengan sinergi antara pemerintah desa yang visioner dan bimbingan teknis akademisi, tantangan lingkungan bisa dihadapi dengan solusi yang cerdas.

Kini, air yang mengalir ke Subak Celuk tak lagi membawa beban plastik, melainkan harapan baru bagi kesejahteraan para petani di Kabupaten Gianyar. tra/sathya



