Pariwisata Bali memang menggiurkan, apalagi kalau sudah melihat hamparan terasering sawah, sepoinya angin persawahan sambil menikmati secangkir kopi sudah pasti mendapatkan sensasi yang luar biasa. Dibalik keindahan persawahan di Bali, sudah tentu hasil karya tangan legam dan keringat para petani yang terabaikan, raungan suara mesin traktor sawah pun menandakan kegigihan para petani yang mempertahankan lahan mereka, tapi di balik itu ada juga pertanyaan besar para petani sampai kapan bertahan mempertahankan lahan mereka? Bagaimana dengan generasi selanjutnya, apakah bisa masih menanam padi? Atau apa sudah menanam beton?
Disinilah kegundahan para petani, ujian keteguhan mempertahankan lahan mereka sangat besar, kalau petani bernasib baik mempunyai taraf hidup baik sudah pasti lahan persawahan mereka sudah dipastikan aman untuk anak cucunya, tetapi ketika kehidupan petani itu pas-pasan ditambah lagi harus membiayai anaknya yang sedang sekolah dengan impiannya sampai menempuh bangku kuliah, jelas ini merupakan ujian berat para petani, belum lagi dengan biaya urusan adat yang harus dikeluarkannya, jelas hal tersebut membutuhkan isi dompet yang ekstra. Sedangkan panen padi disawah hanya setahun hanya dua kali, dan itu juga tergantung cuaca yang menentukan jumlah hasil panen mereka.

Adanya fenomena ini yang membuat para petani merelakan lahan mereka ditanami beton, kalau seperti ini siapa yang disalahkan? Apakah salah petani menjual lahan mereka, dengan hidup yang pas-pasan harus membekali anak mereka sekolah, mengeluarkan biaya kebutuhan sekolah, seragam, sepatu, buku, tas, dan embel-embel lainya, belum lagi haru bayar uang komite sekolah, tapi pemerintah koar-koar sekolah gratis.
Itu baru permasalahan petani terhadap anaknya yang butuh hanya pada tahap wajib sekolah 9 tahun, belum lagi adanya biaya perawatan lahan, beli bibit padi, biaya traktor, biaya pupuk yang lumayan semakin dalam petani merogoh kantongnya, ditambah lagi biaya iuran subak.
Sungguh naas nasib petani, sudah sawah dinikmati wisatawan tapi yang menerima hasilnya jelas bukan petani, dan ini sangat ironi jerih payah yang tak dihargai dalam pariwisata di Bali. Coba bayangkan, ketika para investor yang mendirikan usahanya berada di persawahan, dan para petani melarang lahan sawahnya untuk dinikmati sebagai pemandangan, sudah dijamin hotel atau villa tersebut pasti akan sepi.
Saking polos para petani di Bali yang tidak banyak tuntutan, mereka pun diiming-imingi janji manis politik, berbagai janji terucap dari mulut politikus dari janji mendapatkan subsidi pupuk dan harga gabah yang stabil ketika panen raya, hal tersebut hanya bualan belaka dan terbukti kesejahteraan nasib petani pun sama sekali tidak ada yang diperjuangkan, terlihat dari legamnya kulit hitam kemerahan yang menandakan keras dan pahitnya para petani yang tidak juga mendapatkan layanan fasilitas elite.
Bayangkan ketika Bali tidak ada lagi para petani, apakah luasnya hamparan hijau persawahan masih bisa di nikmati? Apakah Bali masih menarik lagi untuk wisatawan? Jadi wajar saja ketika para petani memilih menjual lahannya, toh pemerintah juga dalam membina petani juga tidak serius, sedangkan operasional dalam bertani pun lumayan tinggi, mengajukan KUR juga belum tentu diterima, salah-salah manajemen lahan pertanian bisa disita.
Disinilah ketegasan pemerintah daerah harus konsisten bila ingin pertanian Bali dipertahankan, lahan-lahan persawahan seluruh Bali harus dibebas pajakan 100 persen, guna mempertahankan persawahan. Selain itu juga pemerintah harus mampu memberikan dana biaya perawatan rutin untuk subak di Bali, subsidi pupuk yang merata serta menggratiskan benih padi bagi para petani.
Bila perlu pemerintah memberikan program pendidikan gratis untuk anak petani sampai sarjana, sehingga petani tidak dilema lagi antara menanam padi atau menanam beton.
Sedangkan bagi para pelaku pariwisata yang menjual view persawahan harus bisa memberikan kompensasi untuk para petani, kalau perlu berikan mereka pelatihan berkomunikasi dengan tamu untuk menambah income mereka, untuk dijadikan guide dalam bidang bercocok tanam, tur edukasi bertani, pengolahan produk lokal. (*)
Oleh: I Kadek Saputra

