NASIONAL, Obordewata.com – Niat hati ingin melihat balon udara terbang cantik di langit pagi, sebuah petaka mengerikan justru pecah di Dusun Tekik, Desa Tambakan, Kecamatan Gandusari, Blitar, pada Rabu (27/5) pagi.
Seorang pemuda berinisial I (23) meninggal dunia, sementara dua anak-anak berinisial ADR (11) dan D (12) menjadi korban luka-luka akibat ledakan petasan raksasa.

Insiden berdarah ini bermula ketika sekelompok warga nekat, membawa balon udara raksasa ke area persawahan. Seperti biasa, balon tersebut lengkap dengan untaian puluhan petasan agar bisa meledak beruntun di angkasa.
Saat sumbu menyala dan balon mulai mengangkasa, ada satu petasan berukuran jumbo yang mendadak jatuh ke tanah dan tidak langsung meledak. Bukannya menjauh demi keselamatan, korban I justru mendekat dan nekat memegang petasan apes tersebut.
“Saat petasan berada di tangan, tiba-tiba langsung meledak. Akibatnya, tangan kanan korban mengalami luka serius serta luka bakar parah pada wajah dan perut,” ungkap Kasi Humas Polres Blitar, Aiptu Saiful Muheni.
Korban I langsung ambruk tak sadarkan diri dan meninggal dunia, saat menjalani perawatan intensif di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Sementara dua anak di dekatnya beruntung hanya mengalami luka lecet di wajah dan jari akibat terkena serpihan ledakan.
Kini, Satreskrim Polres Blitar sudah turun tangan dan melakukan pendalaman intensif dengan memeriksa sejumlah saksi di lokasi kejadian. Insiden tragis ini menjadi tamparan keras bahwa menerbangkan balon udara liar dengan bahan peledak bukan lagi sekadar hiburan, melainkan ancaman nyata yang bisa berujung pidana dan kematian! (*)



