LifeStyle

Menakar Evolusi Industri Film, Layar Tancap dan Bioskop Tua yang Tergerus Zaman

1324 Views

GIANYAR, OborDewata. Com – Bagi sebagian orang, bioskop bukan sekadar tempat memutar gambar bergerak ia adalah ruang waktu yang menyimpan cetak biru memori kolektif masyarakat. Di tengah kepungan layar lebar dan megapleks modern di pusat perbelanjaan, menelusuri jejak-jejak bioskop tua yang telah beralih fungsi menjadi sebuah perjalanan spiritual tersendiri bagi para pencinta sinema.

​Menengok ke belakang bukan berarti gagal move on, melainkan cara untuk memahami seberapa intim hubungan manusia dengan film sejak dahulu kala. Bahkan film sendiri bisa dikatakan sebagai pemersatu bangsa yang tidak mengenal gender, umur, berkumpul hanya untuk melihat sebuah tayangan layar lebar, dengan akhir cerita yang misteri membuat penasaran dan hati yang bertanya-bertanya bagaimana kisah kelanjutannya? Apakah ceritanya sudah selesai? Atau ada kelanjutan lagi?

Iklan

​Dalam film yang identik dengan bioskop ada cerita romantisme bioskop tua dari Tutur Tinular, Warkop, serta banyak film yang melekat untuk para kaum milenial saat ini. kangen akan rasa hingar bingarnya Sutradara Film Yosep Anggi Noen pun menjelajahi bekas bioskop tua di pelosok daerah seperti Bali, mulai dari Seririt di Bali hingga bangunan berbahan kayu di pesisir Kalimantan Barat selalu menyisakan cerita unik. Ada masa di mana menonton film adalah sebuah perayaan komunal yang sangat meriah (festive). Warga desa rela berjalan kaki beramai-ramai pada malam Minggu demi menyaksikan keajaiban di atas layar putih.

​Secara historis, operasional bioskop zaman dulu menuntut efisiensi sekaligus kegigihan yang luar biasa. Fenomena kurir pengantar rol film seperti dalam film Janji Joni adalah realitas nyata. Satu rol film berdurasi sekitar 20 menit sering kali harus digilir untuk dua hingga tiga bioskop berbeda di kota yang sama dengan selisih jam tayang yang ketat.

Iklan

Tetapi dengan siring zaman yang terus menerus digerus oleh digitalaisasi, menuai peradaban baru dalam dunia perfilman di Indonesia dari layar tancap, bioskop tua hingga menuju bioskop modern, bahkan kisah bioskop tua saat ini pun sudah hilang dan lenyap ditelan oleh Cineplex maupun yang lainnya.

“Kedigjayaan bioskop tua dikalahkan dengan roda bisnis yang cepat dan teknologi yang terus berkembang, sampai perubahan arsitektur dan ruang bioskop kini berpindah dari gedung mandiri (standalone) yang dekat dengan pasar/keramaian rakyat menuju lantai teratas pusat perbelanjaan mewah, evolusi teknologi peralatan proyektor analog kini sepenuhnya digantikan oleh teknologi Digital Cinema Projection (DCP). Di satu sisi, DCP memutus rantai logistik fisik karena film dikirim dalam bentuk berkas digital yang efisien. Di sisi lain, biaya adopsi teknologi baru yang mahal ini menjadi salah satu pemicu gugurnya bioskop-bioskop mandiri di daerah kecil yang kalah modal,” ungkap Anggi Noen Ketika ditemui pada Kamis (18/6/2026).

​Ditambahkan Anggi Noen, sejatinya gairah Penonton 2026 memasuki pertengahan tahun 2026, industri film lokal sebenarnya mencatatkan performa yang luar biasa di pasar domestik. Terhitung sejak Januari hingga Juni 2026, sudah ada lebih dari 10 film Indonesia yang sukses menembus angka di atas 1 juta penonton. Bahkan, salah satu film drama bertema keresahan sosial saat Lebaran berhasil mengantongi hingga 3,5 juta penonton. Secara total tiket terjual, sepertiga penduduk Indonesia kini aktif mengonsumsi film nasional di bioskop.

​Namun, mengapa industri kita masih sering dianggap tertinggal dari negara tetangga seperti Thailand dalam skala global? Jawabannya bukan pada kreativitas, melainkan pada kebijakan regulasi.​Thailand dan Australia sangat agresif dalam menarik investasi asing lewat skema Tax Refund atau Tax Rebate (insentif pengembalian pajak). Sebagai contoh, film Hollywood Ticket to Paradise yang dibintangi George Clooney mengambil latar cerita di Bali. Namun, seluruh proses syutingnya dilakukan di Queensland, Australia, hanya karena Australia menawarkan pemotongan anggaran produksi lewat insentif pajak yang tidak dimiliki Indonesia.

​“Untuk menjaga keberlanjutan industri, perfilman Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan kota-kota besar. Tantangan utama saat ini adalah keterbatasan layar, yang secara nasional hanya berkisar di angka 2.400 hingga 2.500 layar. Untuk itulah diperlukan langkah strategis dan dukungan kuat, guna menjadikan satu bioskop satu kabupaten dengan membuka bioskop-bioskop skala kecil (seperti jaringan lokal Sam Studio di Jawa Timur) dengan harga tiket yang lebih terjangkau (sekitar Rp15.000) untuk menjangkau daya beli masyarakat daerah,” ucap Anggi Noen seraya menambahkan distribusi berjenjang menerapkan jendela tayang (windowing) yang rapi. Film pertama kali diputar di bioskop kelas A (premium), lalu setelah beberapa minggu didistribusikan ke bioskop kelas B di tingkat kabupaten/kecamatan. Langkah ini akan memperpanjang nafas dan masa hidup sebuah film sebelum akhirnya masuk ke platform OTT seperti Netflix. tra/dx