DENPASAR, OborDewata.com – Fenomena antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Bali kini mulai berdampak serius terhadap aktivitas ekonomi dan pelayanan publik di Pulau Dewata. Hambatan pada distribusi BBM ini dikhawatirkan dapat memicu gangguan pada rantai pasok barang hingga sektor pariwisata jika tidak segera ditangani.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ngurah Rai (UNR), Dr. Putu Gede Denny Herlambang, S.E., M.M., menilai kelancaran pasokan BBM merupakan kunci utama menjaga stabilitas mobilitas masyarakat dan keberlanjutan usaha.
”Antrean BBM yang terjadi di sejumlah SPBU merupakan situasi yang perlu kita cermati bersama. Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan mobilitas kendaraan, tetapi juga menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali, mulai dari aktivitas ekonomi, pariwisata, hingga layanan publik,” ungkapnya pada Selasa (13/10/2026).
Denny memaparkan, dampak antrean BBM ini memukul empat sektor penting. UMKM dan Logistik: Pelaku usaha kecil terpaksa membeli BBM eceran yang lebih mahal atau beralih ke BBM non-subsidi, sehingga memangkas margin harian dan membengkakkan biaya distribusi.
Risiko Inflasi Lokal, pembengkakan biaya produksi dan transportasi berpotensi mengerek harga kebutuhan pokok di pasar melalui efek berantai.
Sektor pariwisata, kemacetan akibat antrean di jalur strategis seperti Kuta, Jimbaran, dan Sunset Road mengganggu kenyamanan serta layanan transportasi bagi wisatawan. Produktivitas masyarakat, waktu kerja dan belajar terbuang di jalan, sementara pengemudi transportasi daring terpaksa membatasi operasional karena kesulitan mendapat BBM.
Untuk mencegah dampak yang lebih luas, Denny mengimbau masyarakat tetap tenang serta meminta seluruh pihak memperkuat koordinasi dan keterbukaan informasi. Menurutnya, fenomena ini menjadi pengingat pentingnya ketahanan rantai pasok energi serta kolaborasi lintas sektor demi menjaga stabilitas perekonomian Bali. tra/dx




















