BALI, OborDewata.com – Menindaklanjuti diluncurkannya Program New Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) oleh pemerintah, Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia (Kemenkop) menyelenggarakan Business Matching dan Showcase Produk Koperasi dan UMKM di Nusa Dua Bali.
Acara yang berlangsung selama tiga hari mulai 22-24 Maret 2022 mendatang. Hal ini sekaligus sebagai angin segar bagi pelaku UMKM, pasalnya para beberapa perwakilan binaan UMKM terpilih dapat mempresentasikan teknologi dalam memasarkan produk. Acara ini dihadiri oleh 1.000 peserta dari Pemerintah Daerah, Kementerian/Lembaga daerah, serta industri UMKM sendiri. Untuk itulah Showcase menjadi penting dalam rangka mengejar target belanja sebesar 400 Triliun di tahun 2022.
Salah satu peserta PT. Okwi Food binaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut tampil dengan teknologi yang canggih. Mereka menerapakan Teknologi Sterilisasi (Canning and Pouch) pada makanan.
Jadi dengan teknologi ini, kuliner tradisional (kuliner berkuah/bersantan) ini masukan ke dalam kaleng/kemasan pouch. Kami memanfaatkan pengawetaan fisika yang memanfaatkan panas tinggi untuk mematika bakteri spora yang tumbuh dalam makanan hingga suhu 121 derajat celcius. Dengan demikian kuliner bisa tahan hingga 18 bulan dalam suhu ruang.
“Jadi seperti Nasi rendang, gulai kambing, soto betawi, pindang, mangut lele, mangut belut, bubur kacang hijau, rendang jengkol, orek tempe, krecek, empal gentong, gudeg, ayam betutu, atau lainya tidak perlu dimasukan kulkas,” ujar CEO PT. Okwi Food Ahmad Dwiyanto, Rabu (23/2/2022).
Ahmad Dwiyanto meyakini ini merupakan solusi dari permasalahan penggiat umkm bidang kuliner basah. “Saya rasa ini adalah jawaban bagi para penggiat UMKM di bidang kuliner terutama makanan basah, karena sudah saatnya mereka (UMKM) mengganti teknologi pengemasan kuliner supaya bisa tahan lama dan memenuhi standar ekspor,” ujarnya optimis.
Ia juga mengatakan bahwa kegiatan ini penting untuk mengedukasi para utusan Pemerintah Daerah (Pemda) agar tertarik untuk membuat Rumah Kemas Bersama di daerah masing-masing.
“Sementara baru ada di Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Kalau Bali belum, nanti tergantung pemerintah daerah mau apa tidak. Sistemnya UMKM tinggal kirim resep, kami yang olahkan. Keluar sudah jadi kaleng siap edar. Tujuan kita bersama ini supaya UMKM bisa membuat kulinernya awet alami, tapi juga supaya UMKM bisa ekspor. Resep dijamin terjaga kerahasiannya,” terangnya.
Dari pandangan lain, Arif Toha Tjahjagana selaku Direktur Jenderal Perhubungan Laut yang turut meramaikan acara ini, menyatakan bahwa turut serta dalam penggunaan produk-produk dalam negeri turut meningkatkan ekonomi masyarakat. Ia juga berharap bahwa para pelaku bisnis produk dalam negeri semakin sadar pula dengan keselamatan (SNI). “Sehingga dalam jangka waktu berkelanjutan, khususnya bagi tim Kementerian Perhubungan, dapat digunakan terus tanpa khawatir karena adanya standarisasi produk,” tandasnya. as/dx



