DENPASAR, OborDewata.com – Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Irak masih berlangsung meskipun berbagai upaya gencatan senjata terus dilakukan. Jika perang ini terus berlanjut dan meluas, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga hingga ke Indonesia bahkan di Bali sendiri bisa berimbas pada lesunya pariwisata hingga berdampak ekonomi maupun sosial.
Dikatakan Guru Besar Fisipol UGM Prof Dr Tadjuddin Nur Effendi imbas konflik Timur Tengah pada tingkat daerah Bali menjadi salah satu wilayah yang paling rentan terhadap dampak tidak langsung dari konflik global ini. Gangguan penerbangan dan penurunan wisatawan sudah pasti terjadi. Pasalnya, ketidakamanan di wilayah udara Timur Tengah mengganggu rute penerbangan internasional, terutama yang transit di Dubai, Doha, dan Abu Dhabi. Akibatnya sejumlah penerbangan dibatalkan, ribuan penumpang tertahan dan kunjungan wisatawan ke Bali menurun dan ini memberi dampak pada pembatalan akomodasi di Balli
“Industri perhotelan mengalami pembatalan reservasi sekitar 20–30%. Hal ini dipicu oleh ketidakpastian perjalanan dan kekhawatiran keamanan global,” ujarnya ketika dihubungi pada Sabtu (18/4/2026).
Prof Tadjuddin menambahkan, efek gangguan penerbangan akibat konflik Timur Tengah sudah pasti mengganggu perekonomian di Bali dan mempengaruhi penurunan minat dan belanja wisatawan. mereka para wisatwan asing sudah pasti akan mengatur ulang jadwal liburan ke Bali atau memilih menunda perjalan, bisa juga meraka memilihi destinasi yang lebih dekat dan mengurangi pengeluaran.
“Meskipun Bali tetap aman, persepsi risiko global tetap memengaruhi keputusan wisatawan,” jelasnya.
Prof Tadjuddin merasa khawtir, ketika konflik timur tengah terus berlanjut, akan memberi efek negatif penurunan kunjungan wisatawan menjadi signifgikan, okupansi hotel juga menurun, yang membuat PHK di sektor pariwisata dan ini berdampak pada PAD Bali.
“Di Bali, dampak tersebut terasa melalui penurunan kunjungan wisatawan dan melemahnya sektor pariwisata. Oleh karena itu, langkah mitigasi dan strategi adaptasi menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi, baik di tingkat nasional maupun daerah,” pungkasnya. tra/sathya


