Pemandangan di Pura Santi Kawitan I Ratu Ngurah Agung Pasek Pasek Bandesa Panca Sanak Sapta Murti, Melinggih Kelod, Payangan, saat hari suci Tumpek Landep pada Sabtu (18/4/2026) bukan sekadar ritual rutin. Di tengah riuhnya ribuan penangkil dan megahnya deretan gebogan yang menghias paruman, ada sebuah pemandangan yang menyejukkan mata sekaligus sanubari minimnya sampah plastik.
Fenomena ini menjadi oase di tengah tantangan lingkungan global. Saat banyak tempat suci masih bergulat dengan tumpukan sisa pembungkus makanan atau botol mineral sekali pakai usai upacara, Pengempon Pura Santi justru menunjukkan kelasnya dalam menjaga kemuliaan tempat suci.
Piodalan Alit yang dipimpin oleh Jro Mangku Gede, I Wayan Warnata terasa begitu khusuk. Namun, kekhusukan itu tidak hanya lahir dari dentingan genta atau mantra yang terucap. Kesucian itu terpancar dari lingkungan yang bersih.
Ada kesadaran kolektif yang mulai mengakar di Payangan, bahwa menyembah Sang Pencipta harus sejalan dengan menjaga ciptaan-Nya. Penggunaan material alami sebagai pengganti plastik bukan sekadar mengikuti imbauan pemerintah, melainkan bentuk Yadnya yang tulus.
Menjaga kebersihan pura dari limbah non-organik adalah bentuk nyata dari penerapan konsep Tri Hita Karana menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan.
Mengapa Langkah Ini Sangat Krusial?
Kesadaran Pengempon Pura Santi ini membawa dampak multidimensi yang patut diapresiasi. Sebab ada makna pelestarian lingkungan dengan mengurangi beban tanah dari sampah plastik yang sulit terurai secara alami di area suci.
Ketahanan budaya mengembalikan penggunaan bahan-bahan organik (seperti daun pisang, janur, dan bambu) yang merupakan jati diri asli tradisi Bali.
Citra pariwisata Gianyar sebagai jantung budaya Bali sering menjadi sorotan dunia. Pura yang bersih tanpa plastik meningkatkan martabat Bali di mata internasional sebagai destinasi yang bertanggung jawab.
Apa yang terjadi di Pura Santi Kawitan I Ratu Ngurah Agung Panca Sanak Sapta Murti, adalah bukti bahwa perubahan itu mungkin. Jika sebuah pura dengan ribuan pemedek mampu menekan angka sampah plastik secara signifikan, maka tidak ada alasan bagi pura lain untuk tidak memulai hal serupa.
Keindahan beribadah bukan hanya soal seberapa tinggi gebogan yang disusun atau seberapa meriah hiasan paruman, melainkan seberapa bersih hati dan tangan kita saat meninggalkan area pura. Mari kita jadikan momentum Tumpek Landep ini sebagai titik balik untuk benar-benar “mengasah” ketajaman pikiran dalam menjaga Bumi.
Sudah saatnya, setiap doa yang naik ke langit tidak lagi meninggalkan jejak plastik di bumi.
Oleh: I Kadek Saputra


