MANGUPURA, OborDewata.com – Di tengah fluktuasi harga dan ketidakpastian cuaca, petani bunga pacah di Kabupaten Badung terus berupaya menjaga ketersediaan bunga sebagai salah satu sarana penting upacara keagamaan umat Hindu di Bali. Akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI menjadi salah satu penopang agar aktivitas budidaya tetap berjalan.
Made Tarji, petani bunga pacah asal Banjar Panglan Kelod, Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, mengaku membutuhkan modal sekitar Rp20 juta untuk satu kali siklus tanam. Dana tersebut digunakan untuk pengolahan lahan, pembelian bibit, pupuk, hingga biaya perawatan sebelum tanaman memasuki masa panen.
“Modal sangat penting karena seluruh biaya produksi harus dikeluarkan terlebih dahulu sebelum tanaman menghasilkan,” ujarnya saat ditemui di lahan pertaniannya, Senin (27/7).
Menurut Tarji, bunga pacah mulai berbunga sekitar tiga pekan setelah ditanam. Jika pertumbuhan tanaman optimal, panen dapat dilakukan setiap hari selama dua hingga tiga bulan. Pada awal masa panen, produksi mampu mencapai sekitar 35 kilogram per hari, kemudian berangsur turun menjadi sekitar 25–27 kilogram per hari.
Meski kebutuhan bunga untuk berbagai upacara adat dan keagamaan di Bali relatif stabil, pendapatan petani masih dipengaruhi kondisi pasar. Harga bunga pacah dapat anjlok hingga sekitar Rp10.000 per kilogram saat pasokan melimpah, namun bisa melonjak mencapai Rp40.000 per kilogram ketika produksi menurun.
Selain harga yang tidak menentu, faktor cuaca menjadi tantangan terbesar bagi petani. Curah hujan maupun kondisi panas ekstrem dapat memengaruhi kualitas bunga sekaligus menurunkan hasil panen. Di sisi lain, bunga pacah memiliki daya simpan yang singkat sehingga harus segera dipasarkan setelah dipanen.
Kondisi tersebut membuat petani tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti harga yang berlaku di tingkat pengepul maupun pasar. Karena itu, efisiensi biaya produksi dan ketersediaan modal menjadi faktor penting agar usaha tetap berjalan.
Tarji mengaku pembiayaan melalui KUR BRI membantunya memenuhi kebutuhan modal kerja sehingga proses budidaya dapat terus berlangsung. Dengan dukungan tersebut, ia berharap pasokan bunga pacah untuk kebutuhan upacara masyarakat Bali tetap terjaga meski dihadapkan pada berbagai tantangan.
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan BRI terus memperluas penyaluran KUR ke sektor-sektor produktif, termasuk pertanian. Menurutnya, sektor pertanian memiliki peran strategis dalam menopang perekonomian daerah sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan komoditas penting.
“Kami ingin memastikan para petani memiliki akses pembiayaan yang memadai agar mampu meningkatkan produktivitas, mengembangkan usaha, serta menjaga kesinambungan produksi. Dengan dukungan permodalan yang berkelanjutan, sektor pertanian diharapkan semakin tangguh menghadapi berbagai tantangan dan mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.
BRI, lanjut Hery, akan terus mendorong akses pembiayaan bagi pelaku usaha produktif yang memiliki prospek usaha sehingga keberadaan KUR dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ekosistem pertanian di Bali. (rls)


















