Sosial Budaya

Pahami Makna Sugihan Jawa dan Bali, Leluhur Turun ke Dunia

1124 Views

BALI, Obordewata.com – Bertepatan dengan Wuku Sungsang. Wuku sebelum Wuku Dungulan, di mana hari raya dan hari suci Galungan menanti.

Namun sebelum Galungan, umat Hindu di Bali mengenal hari suci Sugihan. Hari raya Sugihan ada dua, yakni Sugihan Bali dan Sugihan Jawa yang jatuhnya pada wuku Sungsang.

Iklan

Untuk Sugihan Jawa, jatuh pada Kamis Wage Sungsang. Sedangkan Sugihan Bali pada Jumat Kliwon Sungsang.

Dalam Lontar Sundarigama, bahwa pada hari suci Sugihan Jawa, umat Hindu meyakini para dewa dan roh leluhur turun ke dunia membesarkan hati umat manusia.

Iklan

Sembari menikmati persembahan hingga datangnya hari raya Galungan. Untuk itu, umat Hindu agar membuat upacara parerebon di sanggah ataupun di parhyangan dengan sesajen parerebuan, pangraratan, dan berbagai bunga harum.

Selanjutnya untuk Sugihan Bali, sebagai hari baik bagi umat manusia untuk menyucikan diri lahir dan batin. Oleh sebab itu, umat Hindu agar melakukan persembahyangan. Dengan cara mengheningkan pikiran, serta memohon air suci panglukatan dan pabersihan kepada pendeta.

Dalam Sundarigama, bahwa makna hari suci pada Wuku Sungsang adalah untuk menjernihkan pikiran. Sehingga lebih siap menghadapi fenomena perubahan wujud dan peran dewa yang terbalik atau sungsang.

Maksudnya adalah peran sebagai pelindung ke peran sebagai penyebar perselisihan. Sesuai dengan makna kata sungsang, di dalam lontar Sundarigama koleksi Gria Gede Banjarangkan Klungkung berarti sungsang adalah dewa yang berbeda rupa.

Kata bheda itu dapat berarti berbeda, lain, salah, atau menyebarkan perselisihan. Dalam kutipan “sungsang ngaran dewa bheda rupa”. Jadi Sugihan Jawa dan Bali bukan berarti dua hal yang membedakan orang atau suku. Namun Jawa yaitu luar atau alam semesta (makrokosmos) dan Bali adalah dalam diri (mikrokosmos).

Sugihan sebagai lambang turunnya roh leluhur dan bhatara-bhatari ke dunia, melihat anak cucu dan kolega keluarga. Maka dari itu umat manusia sudah harus menjaga hatinya, dalam menyambut Galungan. Agar tidak tergoda oleh gangguan Sang Hyang Kala Tiga. (*)