TABANAN, OborDewata.com – Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 berakhir, Minggu (30/8/2026). Selama tiga hari, kawasan DTW Tanah Lot tidak hanya dipenuhi aktivitas hiburan, tetapi juga menjadi panggung untuk memperkenalkan kekayaan seni, budaya dan kuliner Tabanan kepada wisatawan.
Festival yang mengusung tema “Samudra Sakti Raksanam Jagat Samyaya” tersebut ditutup di Wantilan DTW Tanah Lot. Pemerintah Kabupaten Tabanan berharap kegiatan yang telah memasuki penyelenggaraan ketujuh ini terus berkembang dan mampu menjadi salah satu penguat daya tarik pariwisata daerah.
Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga yang mewakili Bupati Tabanan mengatakan, Tanah Lot memiliki keunggulan sebagai destinasi yang sudah dikenal luas, termasuk oleh wisatawan mancanegara. Potensi tersebut perlu diikuti dengan pengembangan atraksi yang mengangkat kekayaan lokal.
Menurut Dirga, berbagai pertunjukan seni, budaya dan kuliner tradisional yang ditampilkan selama festival memperlihatkan besarnya potensi yang dimiliki Tabanan. Kekayaan tersebut dapat menjadi modal penting untuk memperkuat sektor pariwisata sekaligus memperkenalkan identitas daerah.
“Selama tiga hari ini kita telah menyaksikan berbagai pertunjukan seni, budaya dan kuliner tradisional yang luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa daerah kita sangat kaya akan seni, budaya, kuliner tradisional dan berbagai potensi menarik lainnya,” ujar Dirga.
Ia menilai festival memiliki peran lebih luas daripada sekadar menghadirkan hiburan. Kehadiran wisatawan dalam kegiatan tersebut menjadi peluang untuk memperkenalkan berbagai kekayaan Tabanan secara langsung.
Seni dan budaya lokal dapat menjadi atraksi, sedangkan kuliner tradisional menjadi bagian dari pengalaman wisata. Pada saat bersamaan, kegiatan tersebut membuka ruang bagi pelaku ekonomi kreatif dan masyarakat untuk ikut mengambil manfaat dari meningkatnya aktivitas wisata.
Dirga juga mengingatkan agar pengembangan pariwisata tetap memperhatikan keberlangsungan lingkungan. Hal tersebut menjadi salah satu pesan yang diangkat melalui tema festival tahun ini yang berkaitan dengan kekuatan samudra, keharmonisan dan keseimbangan alam.
Menurutnya, Tanah Lot bukan hanya memiliki nilai ekonomi dan pariwisata, tetapi juga memiliki nilai budaya dan spiritual yang harus dijaga. Karena itu, peningkatan kunjungan harus dibarengi dengan kesadaran menjaga lingkungan dan warisan budaya.
“Event ini bukan hanya sekadar ajang hiburan, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat tali persaudaraan, memperkuat identitas budaya kita serta memperkenalkan kekayaan warisan nenek moyang kepada generasi muda dan dunia,” katanya.
Pemkab Tabanan berharap festival tersebut dapat menjadi agenda yang terus berkembang. Kreativitas dan inovasi dinilai menjadi kunci agar penyelenggaraan setiap tahun mampu menghadirkan daya tarik baru dan tidak kehilangan relevansinya di tengah persaingan destinasi wisata.
“Saya sangat berharap event ini bisa dilaksanakan secara konsisten setiap tahun. Dibutuhkan kerja keras, kreativitas dan inovasi baru agar kunjungan wisata bisa terus meningkat dan DTW Tanah Lot semakin terkenal,” tegas Dirga.
Keberlanjutan festival juga diharapkan memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian masyarakat. Semakin kuat daya tarik kegiatan, semakin besar pula peluang pelaku UMKM, seniman, pelaku ekonomi kreatif dan usaha pariwisata mendapatkan manfaat.
Dengan berakhirnya Tanah Lot Art and Food Festival VII, pekerjaan berikutnya adalah menjaga momentum tersebut. Tanah Lot diharapkan tidak hanya menjadi destinasi yang dikunjungi karena panorama alamnya, tetapi juga menjadi pintu bagi wisatawan untuk mengenal lebih jauh seni, budaya, kuliner dan kehidupan masyarakat Tabanan.
Festival ini pun menjadi salah satu langkah untuk memperkuat posisi Tanah Lot sebagai etalase potensi daerah sekaligus memperkokoh citra Tabanan sebagai salah satu tujuan wisata yang memiliki kekayaan alam dan budaya yang beragam. (tim/ay)



















