• Redaksi
  • Undang-undang Pers
  • Disklaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
OborDewata
  • Nasional
    • Daerah
  • Olahraga
  • Ekonomi Bisnis
  • Hukum
  • Sosial Budaya
  • Pendidikan
  • Politik
  • Opini
No Result
View All Result
  • Nasional
    • Daerah
  • Olahraga
  • Ekonomi Bisnis
  • Hukum
  • Sosial Budaya
  • Pendidikan
  • Politik
  • Opini
No Result
View All Result
OborDewata
No Result
View All Result
Home Opini

Menakar Bahaya Rupiah Melemah: Akankah Sejarah Kelam 1998 Terulang?

I Kadek Saputra by I Kadek Saputra
Rabu, 20 Mei 2026
in Opini
0
Menakar Bahaya Rupiah Melemah: Akankah Sejarah Kelam 1998 Terulang?
ket foto: Prof. Dr. Tadjuddin Nur Effendi.
72
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus menunjukkan tren pelemahan yang mengkhawatirkan sejak 12 Mei 2026 lalu, bahkan sempat menyentuh angka Rp17.670 per dolar AS pada 18 Mei. Jika pelemahan ini terus dibiarkan berlarut-larut tanpa intervensi yang tepat, dampaknya tidak hanya akan berhenti pada angka statistik di papan bursa, melainkan berpotensi memicu efek domino yang luas pada stabilitas ekonomi, sosial, hingga lanskap politik Indonesia.

​Pertanyaan besar yang kini membayangi kita semua adalah: seberapa besar bahaya rupiah melemah kali ini, dan akankah situasi ini membawa kita kembali pada memori kelam krisis moneter 1998?

Efek lemahnya rupiah menyebabkan biaya impor yang melonjak hingga Ancaman PHK massal. ​Sebagai negara yang masih sangat bergantung pada impor untuk bahan baku industri, mesin, obat-obatan, hingga komoditas pangan seperti gandum dan kedelai, pelemahan rupiah adalah hantaman langsung pada jantung produksi nasional. Ketika rupiah tak bertenaga, biaya impor otomatis membengkak.

Guna menutupi lonjakan biaya tersebut, produsen tidak punya pilihan selain menaikkan harga jual barang di pasar. Akibatnya, inflasi menjadi sesuatu yang tidak dapat dielakkan.

Ancaman Nyata Kelas Menengah

Ketika harga pangan, transportasi, dan tarif listrik melonjak lebih cepat daripada kenaikan upah, daya beli masyarakat akan langsung rontok. Mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 50% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, penurunan daya beli ini dipastikan akan langsung mengerem pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

Baca Juga :  Indahnya Berdoa di Pura Santi Kawitan I Ratu Ngurah Agung Pasek Pasek Bandesa Panca Sanak Sapta Murti Tanpa Sampah Plastik

Sektor industri kini berada dalam posisi terjepit. Demi bertahan hidup di tengah biaya produksi yang meroket dan keuntungan yang menipis, banyak perusahaan memilih untuk menahan ekspansi investasi.

Langkah paling pahit pun mulai diambil efisiensi biaya melalui pemutusan hubungan kerja (PHK). Sektor-sektor padat karya dan teknologi seperti elektronik, otomotif, tekstil, farmasi, makanan olahan, hingga transportasi kini menjadi lini yang paling rentan terhadap badai PHK ini.

​Beban Utang Luar Negeri dan Dilema Suku Bunga

​Bahaya tersembunyi lainnya dari melemahnya mata uang Garuda adalah membengkaknya nilai utang luar negeri dalam denominasi rupiah. Meski jumlah utang dalam dolar AS tetap sama, beban riil yang harus dibayar oleh pemerintah dan korporasi otomatis menjadi jauh lebih mahal.

Sebagai gambaran, pada tahun 2025 utang pemerintah pusat dalam valuta asing tercatat sekitar US$210 miliar. Dengan asumsi angka tersebut, setiap pelemahan sebesar Rp1.000 per dolar AS dapat menaikkan nilai kewajiban utang pemerintah hingga mencapai Rp210 triliun. Angka yang sangat besar ini jelas akan memberikan tekanan berat pada APBN dan meningkatkan risiko kesulitan keuangan bagi perusahaan swasta yang mengantongi utang dolar.

Baca Juga :  Kremasi di Bali, Pilihan Budaya atau Pelarian dari Tekanan Sosial?

Di sisi lain, langkah Bank Indonesia (BI) untuk meredam inflasi dan menjaga stabilitas rupiah dengan menaikkan suku bunga bagaikan buah simalakama. Kebijakan ini berimbas pada setoran kredit rumah (KPR) dan kendaraan yang semakin mahal, yang pada akhirnya memperlambat investasi dan pertumbuhan ekonomi. Imbasnya, penciptaan lapangan kerja baru mandek, angka pengangguran di kalangan angkatan kerja muda meningkat, dan memicu frustrasi sosial di kelompok generasi muda kelas menengah.

​Sisi Koin yang Berbeda: Sektor yang Diuntungkan

​Meski membawa banyak kecemasan, hukum ekonomi selalu menyisakan ruang bagi pihak yang diuntungkan dari depresiasi mata uang. Pelemahan rupiah secara teori membuat produk ekspor Indonesia menjadi lebih murah dan kompetitif di pasar global.

​Komoditas dan Tambang: Perusahaan eksportir berbasis dolar seperti batu bara, CPO, tekstil, perikanan, serta nikel, tembaga, emas, dan timah berpotensi meraup keuntungan besar. Namun, ironisnya, aliran dolar dari sektor tambang ini sering kali dinilai hanya dinikmati oleh segelintir oligarki dan elit penguasa, alih-alih menetes ke masyarakat bawah.

Baca Juga :  Rekayasa Kenyamanan Termal, Membuktikan Kombinasi Material Dinding Bangunan Bisa Jadi “AC Alami”

​Pariwisata: Sektor pariwisata, seperti di Bali, mendapat angin segar karena wisatawan asing merasa biaya hidup di Indonesia menjadi lebih murah, yang diharapkan mampu mendatangkan devisa tambahan bagi negara.

Mengelola Risiko Sebelum Menjadi Pergolakan Sosial

​Sejarah telah mengajarkan kita lewat Krisis Finansial Asia 1997/1998 bahwa pelemahan mata uang yang terjadi secara tajam dan tidak terkendali bisa berubah menjadi gerakan politik yang menuntut runtuhnya rezim pemerintahan.

​Pelemahan rupiah sebenarnya tidak selalu berakhir dengan krisis ekonomi dan politik yang katastrofik. Jika pelemahan terjadi secara bertahap, inflasi tetap terjaga, dan fondasi ekonomi tetap tumbuh, dampaknya masih sangat mungkin untuk dikelola dengan baik.

​Namun, jika pemerintah dan otoritas moneter gagal bertindak cepat, sementara modal asing terus mengalir keluar, PHK massal meluas, dan kelas menengah semakin tertekan, maka risiko krisis sosial dan ketidakpercayaan publik pada pemerintah akan membesar. Sebelum sejarah kelam itu terulang, langkah mitigasi yang nyata dan berpihak pada stabilitas daya beli masyarakat harus menjadi prioritas utama hari ini. (*)

Oleh: Tadjuddin Nur Effendi Sebagai Akademisi dan pengamat politik, sekaligus juga Guru Besar Fisipol UGM.

Tags: #opini #rupiah #1998
Previous Post

Ketika Arak Bali Naik Kelas di Tangan Bartender Muda, Srikandi yang Mendominasi Diajang Mixologi Arak Bali

Next Post

Bupati Sanjaya Hadiri Lepas Sambut Dandim 1619/Tabanan, Tekankan Sinergi Bangun Daerah

Related Posts

Menjaga Petani, Menjaga Bali: Menguatkan Sawah, Subak, dan Masa Depan Pariwisata
Opini

Menjaga Petani, Menjaga Bali: Menguatkan Sawah, Subak, dan Masa Depan Pariwisata

Selasa, 28 Juli 2026
Kremasi di Bali, Pilihan Budaya atau Pelarian dari Tekanan Sosial?
Opini

Dilemanya Petani Bali, Antara Tanam Padi atau Tanam Beton

Sabtu, 25 Juli 2026
Indonesia Emas Tahun 2045 Hanya Impian? Menjadi Tua Sebelum Kaya
Opini

Indonesia Emas Tahun 2045 Hanya Impian? Menjadi Tua Sebelum Kaya

Selasa, 21 Juli 2026
Prof Tadjuddin: Koperasi Desa Merah Putih Untuk siapa?
Opini

Prof Tadjuddin: Koperasi Desa Merah Putih Untuk siapa?

Senin, 6 Juli 2026
Sun Flower RSBM: Doa dan Harapan Kehidupan Baru Bagi Penyintas Kanker
Opini

Sun Flower RSBM: Doa dan Harapan Kehidupan Baru Bagi Penyintas Kanker

Rabu, 1 Juli 2026
Rekayasa Kenyamanan Termal, Membuktikan Kombinasi Material Dinding Bangunan Bisa Jadi “AC Alami”
Opini

Rekayasa Kenyamanan Termal, Membuktikan Kombinasi Material Dinding Bangunan Bisa Jadi “AC Alami”

Sabtu, 23 Mei 2026
Next Post
Bupati Sanjaya Hadiri Lepas Sambut Dandim 1619/Tabanan, Tekankan Sinergi Bangun Daerah

Bupati Sanjaya Hadiri Lepas Sambut Dandim 1619/Tabanan, Tekankan Sinergi Bangun Daerah

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Terduga Pencuri Ayam Tewas Dikeroyok Massa di Baturiti, Polisi Selidiki Keterlibatan Pelaku Penganiayaan

Terduga Pencuri Ayam Tewas Dikeroyok Massa di Baturiti, Polisi Selidiki Keterlibatan Pelaku Penganiayaan

Selasa, 28 Juli 2026
Bupati Tabanan Salurkan Bantuan Beras PPKM Untuk Masyarakat – 2021

Bupati Tabanan Salurkan Bantuan Beras PPKM Untuk Masyarakat – 2021

Rabu, 28 Juli 2021
Tanah Lot Art and Food Festival VII Siap Semarakkan Pariwisata Tabanan Akhir Agustus

Tanah Lot Art and Food Festival VII Siap Semarakkan Pariwisata Tabanan Akhir Agustus

Selasa, 28 Juli 2026
Pemilik Usaha Pembuang Limbah Cemari Sungai di Denpasar Disanksi Denda Rp. 2,5 Juta

Pemilik Usaha Pembuang Limbah Cemari Sungai di Denpasar Disanksi Denda Rp. 2,5 Juta

Rabu, 13 April 2022
Bupati Tabanan Sembahyang di Pura Luhur Batukau Berdoa Pandemi Covid-19 Segera Berlalu

Bupati Tabanan Sembahyang di Pura Luhur Batukau Berdoa Pandemi Covid-19 Segera Berlalu

0
Tekan Penyebaran Covid-19, PDIP Bali Dukung dan Kawal Kebijakan PPKM Darurat

Tekan Penyebaran Covid-19, PDIP Bali Dukung dan Kawal Kebijakan PPKM Darurat

0
PLN Berikan Stimulus pada Masyarakat Kecil di tengah Pandemi Covid-19

PLN Berikan Stimulus pada Masyarakat Kecil di tengah Pandemi Covid-19

0
Dandim dan Kapolres Tabanan Distribusikan Sembako untuk Warga Terdampak PPKM Darurat

Dandim dan Kapolres Tabanan Distribusikan Sembako untuk Warga Terdampak PPKM Darurat

0
Tanah Lot Art and Food Festival VII Siap Semarakkan Pariwisata Tabanan Akhir Agustus

Tanah Lot Art and Food Festival VII Siap Semarakkan Pariwisata Tabanan Akhir Agustus

Selasa, 28 Juli 2026
Menjaga Petani, Menjaga Bali: Menguatkan Sawah, Subak, dan Masa Depan Pariwisata

Menjaga Petani, Menjaga Bali: Menguatkan Sawah, Subak, dan Masa Depan Pariwisata

Selasa, 28 Juli 2026
Bunda Rai Hadiri Bina Posyandu Provinsi Bali, Perkuat Kualitas Pelayanan Posyandu 6 Bidang SPM di Tabanan

Bunda Rai Hadiri Bina Posyandu Provinsi Bali, Perkuat Kualitas Pelayanan Posyandu 6 Bidang SPM di Tabanan

Selasa, 28 Juli 2026
Genta yang Bertalu dan Air Mata Bahagia Eka Gita Kirana Menuju Pelaminan

Chiming Bells and Happy Tears: Ni Putu Eka Gita Kirani Steps Into Married Life

Senin, 27 Juli 2026
Currently Playing
Tanah Lot Art and Food Festival VII Siap Semarakkan Pariwisata Tabanan Akhir Agustus

Tanah Lot Art and Food Festival VII Siap Semarakkan Pariwisata Tabanan Akhir Agustus

Selasa, 28 Juli 2026
Menjaga Petani, Menjaga Bali: Menguatkan Sawah, Subak, dan Masa Depan Pariwisata

Menjaga Petani, Menjaga Bali: Menguatkan Sawah, Subak, dan Masa Depan Pariwisata

Selasa, 28 Juli 2026
Bunda Rai Hadiri Bina Posyandu Provinsi Bali, Perkuat Kualitas Pelayanan Posyandu 6 Bidang SPM di Tabanan

Bunda Rai Hadiri Bina Posyandu Provinsi Bali, Perkuat Kualitas Pelayanan Posyandu 6 Bidang SPM di Tabanan

Selasa, 28 Juli 2026

TENTANG OBOR DEWATA

Obordewata merupakan salah satu media online yang terpecaya dengan menyajikan berita secara aktual.

obordewata.png
Obordewata
  • Redaksi
  • Undang-Undang Pers
  • Disklaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 obordewata.com

No Result
View All Result
  • Nasional
    • Daerah
  • Olahraga
  • Ekonomi Bisnis
  • Hukum
  • Sosial Budaya
  • Pendidikan
  • Politik
  • Opini

© 2026 obordewata.com