KesehatanLifeStyle

Di Ufuk Senja Kujadikan Kanker Sahabat, Aku Cancer Warrior

890 Views

Oleh: I Kadek Saputra 

Disaat memasuki senja aktifitas wanita paruh baya Ketut Sumiasih yang akrab di sapa Cica terlihat bersiap diri bersimpuh sebaik mungkin untuk menghadap Sang Kuasa, laporan hidup pun dibalut doa pun terucap. Ketika dirinya bersujud, menundukan kepala menunjukan bentuk kepasrahan akan hidup, kencangnya tarikan nafas serta hembusannya menandakan beban berat yang dipikulnya, anehnya beban itu bukan finansial tapi beban kesehatan yang melekat.

Suratan dari Rumah Sakit Badung yang diterima Cica membuat sadar akan dirinya, bahwa itu bukanlah surat cinta yang diterima dengan senyum gamblang. Kesadaran tersebut meledak, bukan karena bom tapi karena isi surat yang menyatakan ditubuhnya ada sel Kanker, yang bersarang di payudara. Tangisan pun pecah, gejolak hati yang tak karuan terus berkecamuk. Ribuan pertanyaan terlontar kenapa bisa Aku Kena Kanker? Jawaban yang tak kunjung datang membuat Cica semakin tersadar diri menjadi seorang ratu tanpa mahkota. Pengakuan dilihat jelita pun tidak diharapkan, malamnya hanya bisa meratapi nasib dengan hanya deraian air mata, suara tangis pun tak terdengar sebab dirinya tak ingin ada saksi yang menyaksikan, yang diingankan hanya harapan Aku Ingin Sehat.

Malam yang diganti dengan matahari, membuat dirinya semakin menerima kenyataan, tekad sehat berumur panjang pun semakin bulat keinginan terus memakai mahkota pun sudah sirna saat operasi besar pengangkatan payudara. Dirinya pun sadar. Ini bukanlah akhir, ini juga bukan aib wanita yang tak punya payudara, yang ada di otaknya hanya ingin terus melihat senyum anaknya yang tertawa lepas. Semangat kehidupan pun mulai bangkit, efek kemoterapi metode pengobatan kanker menggunakan obat-obatan kuat untuk membunuh sel kanker yang tumbuh cepat atau mencegah penyebarannya pun dilawannya, kerontokan rambut, mual, dan kelelahan apapun bentuknya sudah tidak dipedulikan lagi. Ambisi pun terlihat, egoisme melawan kanker pun semakin tak terbendung dihajarnya dengan asupan nutrisi dan senyum keluarga yang ada di otaknya.

Aku sadar aku tak kaya, hanya punya kebahagian keluarga yang terus memberikan energi kehidupan, pelukan dan kecupan hangat sang buah hati, ibu yang semakin keriput, kakak adik yang terus berkeluh kesah kehidupan suka cita yang ingin dibagi, membuat dirinya semakin bersemangat berjuang melawan kanker. Sebab dirinya tak rela kekayaanya hanya berupa senyum keluarga harus direnggut oleh ganasnya kanker.

Janji yang tidak terucap semakin ditepati ketika Cica menjadi Pejuang kanker (cancer warrior), menunjukkan keberanian, kekuatan, dan semangat pantang menyerah melawan penyakit kanker. Menjalani berbagai terapi fisik seperti kemoterapi, radiasi, atau operasi, yang seringkali memiliki efek samping berat, senjata utamanya simple tidak mahal, tidak menguras hanya perlu dukungan keluarga dan tenaga medis. (*)