DENPASAR, OborDewata.com – Era digitalisasi kini mulai merambah ke akar rumput masyarakat adat di Bali. Munculnya inisiasi aplikasi transportasi berbasis Desa Adat “Tri Hita Karana” yang digagas oleh PT Sentrik Persada Nusantara mendapat sambutan positif dari tokoh masyarakat Bali, I Made Wena.
Dalam keterangannya, I Made Wena menegaskan pentingnya masyarakat adat untuk tidak bersikap apriori terhadap kemajuan teknologi. Menurutnya, eksistensi adat di masa depan sangat bergantung pada kemampuan masyarakatnya dalam beradaptasi dengan inovasi digital tanpa meninggalkan jati diri budaya.
Sinergi Teknologi dan Kekuatan Adat
I Made Wena mengungkapkan bahwa visi yang dibangun oleh pihak pengembang aplikasi sejalan dengan pemikirannya tentang kebangkitan ekonomi krama Bali.
”Saya merasa punya teman untuk bangkit. Masyarakat adat di Bali memang perlu memanfaatkan teknologi tanpa melepaskan kekuatan adat yang kita punya. Resepnya satu teknologi jangan dilawan, mari gunakan teknologi sebagai kawan,” ujarnya pada Senin (9/2/2026).
I Made Wena yang juga tokoh yang dikenal di Bali, terutama dalam peran kelembagaan adat dan pendidikan, menekankan bahwa kehadirannya dalam mendukung program ini adalah sebagai bentuk kepedulian pribadi terhadap eksistensi masyarakat adat, guna memastikan bahwa grand design dari platform ini benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat bawah. Seperti halnya, penguatan ekonomi berupa BUPDA dan Koperasi, salah satu poin krusial yang didiskusikan adalah struktur pengelolaannya.
Made Wena menyarankan agar aplikasi ini menjadi jembatan bagi dua pilar kekuatan ekonomi desa, BUPDA (Badan Usaha Milik Desa Adat) sebagai simbol kekuatan masyarakat adat secara kolektif yang memayungi sistem ini.
Koperasi, sebagai wadah bagi para sopir atau pelaku transportasi lokal secara personal untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. “Jika kedua kekuatan ini bersinergi, penerapan aplikasi akan jauh lebih mudah. BUPDA sebagai payung lembaga adatnya, dan Koperasi sebagai simbol profesi para sopirnya,” tambahnya Made Wena yang aktif sebagai Petajuh Bidang Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia MDA Provinsi Bali.
Wena berharap, terhadap pemerintah dan kemudahan layanan
terkait teknis aplikasi, platform ini mengedepankan prinsip kemudahan, baik dari segi pemesanan, keamanan, hingga sistem pembayaran non-tunai (cashless). Ia percaya bahwa meski harga di pasar kompetitif, kualitas pelayanan dan kenyamanan akan menjadi penentu utama pilihan masyarakat.
Di akhir pernyataannya, ia mengajak seluruh elemen pemerintah—baik tingkat Provinsi, Kabupaten, maupun Desa—untuk memberikan dukungan penuh terhadap inovasi lokal ini.”Kalau memang pemikiran ini bagus, ayo kita support. Ini adalah kearifan yang harus kita bangun bersama. Pesan saya kepada pemangku kebijakan: Kalau memang bisa dipermudah, jangan dipersulit,” pungkasnya dengan nada tegas. tra/dx.



