DENPASAR, OborDewata.com – Tekad BKS-LPD Provinsi Bali dalam memajukan, memperkuat seluruh LPD di Bali dibuktikan dengan menggelar Loka Karya Blue Print LPD 2025-2030 yang di hadiri oleh para perwakilan LPD se-Bali di Ball Room Hotel Nirmala pada Rabu (29/10/2025). Dalam Loka Karya Blue Print LPD 2025-2030 dengan mengangkat tema “Transformasi LPD Bali Menuju Digitalisasi, Penguatan Tata Kelola, Perlindungan Dana Nasabah Berlandaskan Tri Hita Karana dan Kemandirian Desa Adat”.
Ketua BKS-LPD Provinsi Bali Drs. I Nyoman Cendikiawan, SH., M.Si., mengatakan sejatinya Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Bali menggelar lokakarya perencanaan jangka menengah untuk periode 2025–2030. Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama antara Lembaga Pemberdayaan LPD dan Badan Kerja Sama LPD (BKS LPD) Provinsi Bali, yang bertujuan untuk menyerap aspirasi serta memperkuat arah kebijakan lembaga keuangan adat di Bali. Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan LPD dari tingkat provinsi, kabupaten, hingga kecamatan di seluruh Bali. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menyesuaikan kebijakan dengan kondisi di lapangan.
“Kebijakan yang ada selama ini perlu diselaraskan dengan praktik di lapangan. Antara teori dan praktik harus pas,” ujarnya.

Menurut Cendikiawan, ada enam poin utama yang menjadi pembahasan dalam lokakarya kali ini, antara lain harmonisasi regulasi, digitalisasi layanan, pengawasan, permodalan, serta peningkatan tingkat kesehatan lembaga.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya harmonisasi antara berbagai regulasi yang mengatur LPD, seperti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013, peraturan daerah, serta peraturan gubernur.
“Regulasi, digitalisasi, hingga pengawasan dan permodalan harus diharmonisasikan. Begitu juga dengan pengukuran kinerja lembaga, karena LPD memiliki nilai sosial yang khas dalam melayani krama desa,” tambahnya.
LPD, yang telah berusia 41 tahun, disebut tetap berkomitmen menjalankan fungsi sosialnya untuk pelestarian seni, adat, dan budaya Bali. Lokakarya ini juga menjadi wadah bagi pengurus desa adat dan tokoh masyarakat untuk memberikan masukan langsung kepada pengelola LPD.
“Kegiatan ini menjadi inspirasi dari lapangan. Meskipun belum sempurna karena baru pertama kali dilakukan, yang terpenting arah kebijakan sudah jelas,” ujarnya.
Cendikiawan menegaskan, bahwa LPD akan terus berupaya bersaing sekaligus bersanding dengan lembaga keuangan lain seperti perbankan dan koperasi tanpa menghilangkan jati diri sebagai lembaga keuangan adat.
“Konsep kami bersaing dan bersanding. Bukan menyalahkan pihak lain, tetapi meningkatkan diri sendiri,” katanya.

Lokakarya yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 18.00 WITA tersebut mendapat sambutan antusias dari peserta. Penyelenggara berharap hasil kegiatan ini dapat menjadi dasar evaluasi dan pengembangan LPD dalam lima tahun ke depan. tra/dx



