Ekonomi Bisnis

Lawan Oligarki Ekonomi, Made Sudiana Gagas Sistem Transportasi Hijau Berbasis Desa Adat

BKS LPD Prov Bali Siap Menjadi Mitra Strategis
954 Views

DENPASAR, OborDewata.com – Kondisi ekonomi masyarakat lokal Bali yang kian tergerus oleh penguasaan bisnis konglomerasi atau oligarki memicu keprihatinan mendalam. Menanggapi hal tersebut, Founder PT Sentrik Persada Nusantara, I Made Sudiana, SH., M.Si., memperkenalkan sebuah terobosan strategis berupa sistem transportasi hijau yang terintegrasi dan dikelola langsung oleh kekuatan desa adat.

​Dalam diskusinya, Sudiana menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi Bali saat ini seringkali tidak dinikmati oleh krama (warga) lokal. Sebaliknya, masyarakat pesisir dan desa justru terdesak hingga kehilangan eksistensi di tanah kelahirannya sendiri.

​Untuk membentengi ekonomi Bali, Sudiana mengusulkan konsep ekonomi “Tri Hita” yang melibatkan kerja sama sinergis antara tiga komponen utama, Pemerintah (Bupda/Pemerintah Daerah) sebagai regulator dan pelaksana kebijakan. Koperasi: Bertanggung jawab atas standardisasi layanan, manajemen kendaraan, dan kesejahteraan pengemudi. Lembaga Sentral (Sentrik): Menyiapkan infrastruktur teknologi, aplikasi e-commerce, hingga pemeliharaan armada kendaraan listrik.

​”Kita menggunakan kekuatan desa adat untuk melawan oligarki. Selama ini, LPD sudah membuktikan kesaktiannya sebagai produk desa adat yang mampu bertahan tanpa pajak pusat. Sekarang, kita gunakan pola serupa untuk sektor transportasi,” ujarnya pada Kamis (5/2/2026).

​Rencana ini mendapat sambutan positif dari Ketua BKS LPD Provinsi Bali, Drs. I Nyoman Cendikiawan, SH., M.Si., ia menyatakan bahwa LPD siap menjadi mitra strategis, terutama dalam hal pembiayaan bagi warga yang ingin bergabung dalam sistem ini.

​”Kami di LPD memiliki visi yang sama untuk memanfaatkan potensi warga lokal. Ini adalah peluang bagi warga kita untuk bersaing. LPD akan mendukung dari sisi pembiayaan agar manfaatnya kembali ke krama desa,” tegas Cendikiawan.

​Program ini direncanakan akan diluncurkan pada 26 Februari 2026. Meskipun awalnya membidik kawasan Canggu, untuk tahap awal (pilot project), fokus akan dialihkan ke kawasan Sanur, Tanjung Benoa, dan Serangan, ataupun di Kawasan Renon.

​Inisiatif ini juga telah dikonsultasikan dengan pihak Pemerintah Provinsi Bali. Konsep transportasi hijau ini dinilai selaras dengan visi pembangunan Bali yang menjaga kesucian dan keharmonisan alam serta budaya (Nangun Sat Kerthi Loka Bali).

​”Jika ekonomi rapuh, maka sosial, budaya, dan agama pun akan ikut rapuh. Inilah langkah terpadu untuk membentengi Bali dari akarnya,” pungkas Made Sudiana. tra/dx