BADUNG, OborDewata.com – Di tengah hiruk-pikuk pariwisata Bali yang kian modern, sebuah terobosan fundamental lahir dari tangan dingin I Made Sudiana, Owner PT Sentrik Persada Nusantara. Melalui aplikasi bernama Tri Hita, Sudiana tidak sekadar menawarkan platform transportasi daring, melainkan sebuah ekosistem ekonomi digital yang mengakar kuat pada marwah dan kedaulatan Desa Adat.
Dalam sebuah pertemuan persiapan di Canggu, Made Sudiana memaparkan strategi besar untuk menyatukan kekuatan delapan desa adat di kawasan Badung tersebut. Kolaborasi ini dirancang sebagai orkestra yang melibatkan empat komponen vital Desa Adat (melalui Bupda), Pecalang, Komunitas Driver, dan Koperasi. Sudiana memaparkan strategi besar untuk menyatukan delapan desa adat di Badung dalam satu ekosistem digital. Ia sadar, tantangan terberatnya bukan pada baris kode pemrograman, melainkan pada pembangunan kepercayaan masyarakat.
“Kita tidak boleh berdiam diri melihat wilayah kita dikacaukan. Kita seperti menjadi tamu di rumah sendiri. Motivasi saya adalah agar warga lokal kembali menjadi tuan rumah,” tegas Sudiana pada Senin (31/4/2026).
Melalui Tri Hita Trans, Sudiana merancang orkestra kerja sama yang melibatkan Bupda, Pecalang, dan komunitas driver. Pecalang kini punya peran baru: bukan hanya menjaga upacara, tapi menjadi garda pengaman transportasi kawasan. Sebagai imbalannya, mereka mendapatkan nilai ekonomi langsung dari setiap transaksi—sebuah sistem yang memastikan bahwa setiap roda yang berputar di desa, juga memberi makan bagi kas desa tersebut.
Bagi Made Sudiana, tantangan terbesar bukanlah membangun kode pemrograman, melainkan membangun kepercayaan masyarakat. Ia ingin membuktikan bahwa digitalisasi adalah jembatan menuju kesejahteraan kolektif, bukan ancaman bagi tatanan lokal.
“Kami ingin Desa Adat benar-benar yakin dengan sistem ini. Kami memperjelas mengapa Tri Hita lahir dan nilai apa yang dibawa. Ini adalah teamwork besar di mana semua orang harus paham fungsi, tugas, dan tanggung jawabnya melalui SOP yang jelas,” ujar Sudiana.
Aplikasi Tri Hita memberikan peran strategis baru bagi Pecalang. Jika selama ini Pecalang identik dengan pengamanan upacara adat, kini mereka menjadi garda terdepan dalam pengamanan transportasi kawasan. Luar biasanya, pengabdian ini dihargai dengan nilai ekonomi langsung dari setiap transaksi yang terjadi di wilayah mereka.
Salah satu daya tarik utama Tri Hita adalah skema pembagian hasil yang sangat kompetitif dan transparan dibandingkan aplikasi global lainnya. Sudiana mengungkapkan bahwa driver mendapatkan porsi 70%. Sementara sisanya dialokasikan secara adil: 20% untuk Desa Adat melalui BUPDA (yang kemudian dibagikan ke Pecalang dan pengurus komunitas), serta 10% untuk pengelolaan sistem oleh aplikator dan koperasi.
Untuk menjaga kualitas layanan, Tri Hita menerapkan sistem rekrutmen yang ketat. Siapa pun boleh menjadi driver, namun wajib mendapatkan rekomendasi dari Bendesa Adat setempat.
“Kami menyematkan teknologi barcode dan face recognition (scan wajah) untuk memastikan keamanan. Tidak boleh ada penyalahgunaan identitas. Sopir yang bekerja harus sesuai dengan data yang tertera di aplikasi,” tegasnya.
Saat ini, PT Sentrik Persada Nusantara tengah melakukan persiapan intensif. Per April 2026, tercatat hampir 200 driver telah mendaftar dan siap mengikuti pelatihan standar pelayanan. Made Sudiana menargetkan Tri Hita akan beroperasi penuh pada awal Mei 2026.
Visi Sudiana tidak berhenti pada transportasi. Ia bertekad menjadikan kawasan wisata di Bali lebih tertata melalui integrasi dengan hotel, restoran, dan vila. Ia berencana mengajak para investor untuk bersinergi menggunakan layanan lokal ini demi kenyamanan wisatawan.
“Kami sadar ini pekerjaan yang rumit. Namun, ketika hasilnya setimpal dan langsung dirasakan oleh warga, saya yakin semua elemen terutama Pecalang dan sopir akan sangat militan menjaga sistem ini,” pungkasnya optimis.
Dengan dukungan teknologi payment gateway yang transparan, Tri Hita diharapkan menjadi wajah baru pariwisata Bali modern secara teknologi, namun tetap teguh memegang prinsip gotong royong dan kedaulatan desa adat. tra/dx



