DENPASAR, OborDewata.com – Di tengah pesatnya perkembangan pariwisata Bali, isu pemerataan ekonomi bagi masyarakat lokal kembali menjadi sorotan utama. Konsep Tri Hita Karana keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam dinilai menjadi kunci agar para sopir asli Bali tidak hanya menjadi penonton di tengah gemerlapnya industri pariwisata, hal tersebut diungkapkan oleh Anggota DPRD Badung Fraksi Gerindra, I Made Wijaya, S.E., ketika dihubungi melalui pesan singkatnya pada Sabtu (28/2/2026).
Made Wijaya yang akrab disapa Yonda menjelaskan, sejatinya kemajuan pariwisata Bali berakar pada kekuatan kearifan lokal, seni, dan budaya yang dijaga ketat oleh putra-putra daerah. Oleh karena itu, sudah sepatutnya “kue” pariwisata dinikmati oleh mereka yang berada di garda terdepan, termasuk para sopir transportasi wisata lokal.
“Sopir Bali bukan sekadar pengantar tamu mereka adalah duta budaya. Melalui implementasi Tri Hita Trans milik PT Sentrik Persada Nusantara, profesi sopir memiliki nilai lebih,” ungkapnya.
Yonda menegaskan, muncul kekhawatiran bahwa dominasi perusahaan modal besar (kapitalis) di lini transportasi dapat meminggirkan pemain lokal. Jika semua lini bisnis dikuasai pemilik modal luar, maka warga Bali dikhawatirkan hanya akan menjadi buruh dengan upah minim, alih-alih menjadi pengusaha di tanah kelahiran sendiri.
“Bali berkembang karena tradisinya. Jika orang Bali kehilangan akses ekonominya karena tergeser kapitalis, maka siapa lagi yang akan punya waktu dan biaya untuk menjaga adat dan budaya itu?” Tegasnya.
Penerapan nilai Tri Hita trans dalam ekosistem transportasi memastikan bahwa kemajuan ekonomi berjalan selaras dengan pelestarian budaya. Memberikan ruang seluas-luasnya bagi sopir lokal untuk berkembang adalah langkah nyata agar putra Bali menjadi tuan rumah yang bermartabat di negerinya sendiri.
Sebab Tri Hita Trans besutan PT Sentrik Persada Nusantara memiliki tiga konsep untuk driver lokal Pawongan, mempererat persaudaraan antar-sopir lokal agar tidak terjebak dalam persaingan tidak sehat yang diciptakan oleh kapitalisme besar. Palemahan, kesadaran menjaga kebersihan dan kelestarian alam Bali melalui kendaraan yang laik jalan dan perilaku berkendara yang santun. Parhyangan, tetap menjalankan kewajiban adat dan agama di sela-sela kesibukan melayani wisatawan. tra/dx



