Memasuki penyelenggaraan tahun kesembilan, festival yang diprakarsai Ida Cokorda Mengwi XIII selaku Pangelingisir Puri Ageng Mengwi tersebut memberikan ruang bagi seniman muda untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memperoleh pengalaman tampil dalam ajang seni budaya.
Salah satu agenda utama adalah kompetisi regenerasi yang melibatkan anak-anak penari barong buntut dan penabuh kendang. Mereka berkompetisi di Wantilan Taman Ayun sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kesenian tradisional Bali.
Ida Cokorda Mengwi XIII mengatakan, konsep regenerasi tidak semata-mata berorientasi pada kompetisi dan penentuan pemenang. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran, apresiasi, serta kesempatan bagi seniman anak-anak untuk saling bertukar pengalaman.
“Konsep regenerasi memberikan wadah dan apresiasi kepada seniman anak-anak untuk kerap mencari pengalaman dan saling berbagi. Ini merupakan semangat dan fondasi dari konsep regenerasi,” ujarnya.
Selain memberikan kesempatan kepada seniman muda, festival ini juga menghadirkan sesi Superstars yang berlangsung mulai pukul 19.00 Wita. Pada sesi tersebut, para penari barong ket dan penabuh kendang yang telah menorehkan prestasi dalam berbagai kompetisi seni budaya ditampilkan di Panggung Utama Madya Mandala Pura Taman Ayun.
Mereka dikurasi untuk tampil dalam satu panggung yang menghadirkan persaingan antarseniman berprestasi. Pertunjukan juga diramaikan dengan penampilan tari bojog dan tedung Bali sebagai bagian dari kekayaan ekspresi seni pertunjukan tradisional.
Ida Cokorda Mengwi XIII menyampaikan apresiasi kepada para seniman dan budayawan yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan festival sejak pertama kali digelar. Ia berharap kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga warisan budaya dapat terus diperkuat.
Menurutnya, Panggung Utama Madya Mandala Taman Ayun memiliki daya tarik tersendiri bagi para seniman. Selain nilai arsitekturnya, suasana dan karakter tempat tersebut dinilai memberikan pengalaman serta kekuatan tersendiri bagi penampilan para peserta.
Penyelenggaraan tahun ini juga memiliki arti khusus karena sepenuhnya didukung pembiayaan Pemerintah Kabupaten Badung melalui kolaborasi dengan Puri Ageng Mengwi. Dukungan tersebut berbeda dari delapan penyelenggaraan sebelumnya dan menjadi bentuk keterlibatan pemerintah daerah dalam mendukung pelestarian seni budaya.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Badung Anak Agung Putri Mas Agung mengatakan, Taman Ayun Barong Festival 2026 merupakan bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN). Festival ini dinilai menjadi wadah kreativitas sekaligus regenerasi seni budaya bagi generasi muda Bali.
Dukungan juga disampaikan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya. Ia menilai festival tersebut memiliki keunikan dan daya tarik yang dapat memperkuat citra Bali sebagai destinasi pariwisata berbasis budaya.
“Ini merupakan event yang sangat luar biasa dan unik. Mudah-mudahan event ini terus berkelanjutan. Bali sangat terkenal karena keunikan budayanya,” ujarnya.
Ia juga menyebut sejumlah konsul jenderal negara sahabat terkesan dengan penyelenggaraan festival tahunan tersebut.
Kehadiran festival di kawasan Pura Taman Ayun turut mempertemukan dua unsur penting warisan budaya Bali, yakni kawasan pura yang memiliki nilai sejarah dan arsitektur serta kesenian barong yang terus hidup dalam tradisi masyarakat.
Untuk menjaga kualitas penyelenggaraan, panitia melibatkan sejumlah juri dari kalangan seniman dan akademisi. Penilaian dibagi dalam empat kategori, yakni Bapang Barong Regeneration, Makendang Tunggal Regeneration, Bapang Barong Superstar, dan Makendang Tunggal Superstar.
Melalui perpaduan kompetisi generasi muda dan penampilan para seniman berprestasi, Taman Ayun Barong Festival diharapkan tidak hanya menjadi agenda pertunjukan tahunan, tetapi juga ruang pembinaan yang memastikan seni barong dan tabuh kendang tetap berkembang di tengah perubahan zaman. (rls/tim)




















