TABANAN, OborDewata.com – Perayaan Rahina Tumpek Uye yang jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Uye, Sabtu (5/9/2026), diperingati secara serentak di seluruh kabupaten dan kota di Bali. Tidak hanya diisi dengan persembahyangan, peringatan Tumpek Uye tahun ini juga diwujudkan melalui berbagai aksi nyata untuk menjaga kesehatan, melindungi serta melestarikan satwa dan lingkungan.
Untuk tingkat Provinsi Bali, perayaan Rahina Tumpek Uye dipusatkan di kawasan Pura Luhur Batukau, Kabupaten Tabanan. Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Bali Wayan Koster, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga, Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra, Sekda Kabupaten Tabanan I Gede Susila, jajaran perangkat daerah Pemprov Bali dan Pemkab Tabanan serta masyarakat.
Rangkaian peringatan diawali dengan memberi makan ikan di kolam Beji Pura Luhur Batukau. Selanjutnya, ratusan ekor burung titiran dilepasliarkan sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian satwa.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan di Pura Beji dan Pura Penataran Luhur Batukau.
Usai mengikuti rangkaian kegiatan di Pura Luhur Batukau, Gubernur Bali bersama rombongan meninjau pelaksanaan vaksinasi rabies dan sterilisasi massal terhadap Hewan Penular Rabies (HPR), khususnya anjing, di Banjar Wangaya Kaja, Desa Wangaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan.
Pelaksanaan vaksinasi dan sterilisasi tersebut menjadi bagian dari aksi nyata peringatan Tumpek Uye dalam menjaga kesehatan satwa sekaligus melindungi masyarakat dari ancaman penyakit rabies.
Perayaan Tumpek Uye memiliki makna sebagai bentuk penghormatan manusia terhadap binatang yang selama ini memberikan berbagai manfaat dalam kehidupan. Nilai tersebut juga sejalan dengan falsafah Tri Hita Karana yang menjadi pedoman kehidupan masyarakat Bali.
Konsep Tri Hita Karana menekankan pentingnya membangun keharmonisan dan keseimbangan antara manusia dengan Tuhan melalui Parhyangan, manusia dengan sesama melalui Pawongan, serta manusia dengan alam melalui Palemahan.
Semangat tersebut diwujudkan secara serentak di seluruh kabupaten dan kota di Bali melalui berbagai kegiatan yang berkaitan dengan perlindungan, pelestarian dan kesehatan satwa.
Selain persembahyangan, sejumlah daerah melaksanakan vaksinasi rabies dan sterilisasi massal terhadap HPR. Kegiatan tersebut juga disertai Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat mengenai bahaya rabies serta pentingnya vaksinasi terhadap hewan peliharaan.
Aksi pelestarian satwa juga dilakukan di sejumlah wilayah pesisir. Di Pantai Masceti, Kabupaten Gianyar, serta Oemah Penyu di Desa Uma Anyar, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, ratusan tukik dilepasliarkan kembali ke habitatnya.
Pelepasan tukik tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan fauna laut sekaligus upaya menjaga keseimbangan ekosistem di Bali.
Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa perayaan Tumpek Uye tidak hanya memiliki makna spiritual dan religius, tetapi juga menjadi momentum untuk menggerakkan kepedulian masyarakat terhadap seluruh makhluk hidup.
Satwa merupakan bagian penting dalam menjaga keseimbangan alam. Karena itu, perlindungan terhadap satwa tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat.
Melalui perayaan Tumpek Uye yang dilaksanakan secara serentak, nilai-nilai kearifan lokal Bali diharapkan semakin kuat dalam kehidupan masyarakat. Penghormatan terhadap alam dan seluruh makhluk hidup menjadi bagian dari upaya bersama menjaga keharmonisan lingkungan secara berkelanjutan.
Tumpek Uye pun menjadi pengingat bahwa menjaga alam tidak cukup hanya melalui ritual dan simbol. Kepedulian tersebut perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, mulai dari menjaga kesehatan satwa, melindungi habitatnya hingga menciptakan lingkungan yang lestari bagi seluruh makhluk hidup. (rls/tim)




















