Sosial Budaya

Yadnya Berhutang Jadikan Umat Keblinger, Menambah Beban Finansial

99624 Views

DENPASAR, OborDewata.com – Di tengah situasi ekonomi yang kian menantang, masyarakat Bali kerap dihadapkan pada dilema besar: menjaga teguhnya tradisi ritual (Yadnya) atau menjaga stabilitas dapur dan keutuhan keluarga. Tak jarang, demi gengsi sosial atau pemahaman yang kaku, banyak keluarga terjebak dalam lingkaran utang demi menyelenggarakan upacara besar.

​Menanggapi fenomena ini, tokoh pendidik dan agamawan, Dr. I Wayan Sujana, S.Ag, M.Ag., memberikan pencerahan dan penerangan untuk Umat Hindu untuk dijadikan pemikiran kritisnya sebagai bahan renungan bersama bagi masyarakat maupun keluarga yang sedang mencari titik temu antara kewajiban spiritual dan realitas material.

Iklan
QRIS CB THAILAND-INBOUND BANK BPD

​​Menurut Dr. I Wayan Sujana, yang juga menjadi Dosen di UHN IGST Bagus Sugriwa, Fakultas Brahma Widya, menjelaskan sejatinya yadnya adalah sarana mencapai keseimbangan hidup dan penghormatan tulus kepada Sang Pencipta, leluhur, serta alam. Namun, esensi suci ini berisiko menyimpang atau “keblinger” ketika pelaksanaannya justru merusak kesejahteraan hidup sehari-hari.

​”Yadnya yang dipaksakan hingga berhutang bukan lagi menjadi sarana pembebasan spiritual, melainkan beban finansial jangka panjang yang memicu konflik keluarga dan mengancam kebutuhan dasar seperti pendidikan dan kesehatan,” ungkapnya pada Selasa (17/2/2026).

Iklan

Ditekankan Sujan, ada beberapa poin krusial untuk menyempurnakan cara pandang masyarakat dengan kembali ke esensi, bukan gengsi. Seba yadnya tidak diukur dari kemegahan banten atau besarnya biaya, melainkan dari ketulusan hati (Nirmala). Upacara bisa dilaksanakan secara sederhana (Nista) namun tetap sah secara sastra agama.

Waspadai Dampak Domino Utang: Utang yang tak terkelola demi upacara justru akan merampas ketentraman batin. Hal ini bertolak belakang dengan tujuan yadnya yang seharusnya menghadirkan kedamaian (Shanti).

Melawan Tekanan Sosial: Seringkali beban muncul karena rasa sungkan atau tekanan lingkungan. Penting bagi kita untuk memahami bahwa kemampuan ekonomi setiap individu berbeda, dan Tuhan tidak menuntut apa yang di luar kemampuan hamba-Nya.

Solusi Kolektif: Dirinya mendorong penguatan tradisi Yadnya bersama atau massal sebagai solusi bijak untuk menekan biaya tanpa mengurangi nilai spiritual.

​Sujana mengingatkan, agar cara beryadnya yang kurang tepat tidak menjadi warisan buruk bagi generasi muda. Jika generasi penerus melihat yadnya sebagai beban yang menyengsarakan, dikhawatirkan mereka akan menjauh dari tradisi tersebut.

​”Jadilah manusia yang bijak dalam berpikir dan beryadnya. Jangan sampai niat baik kita menimbulkan ekses (melampui batas, red) yang kurang baik bagi anak cucu. Mari kita beragama dengan cerdas, agar tujuan suci Yadnya tercapai tanpa harus mengorbankan keutuhan ekonomi keluarga,” pungkasnya. tra/dx