Sosial Budaya

Menjemput Cahaya Amerta, Makna Mendalam di Balik Ritual Suci Hari Purnama

854 Views

GIANYAR, OborDewata.com – Umat Hindu di seluruh pelosok kembali merayakan Hari Suci Purnama, menurut Penyuluh Agama Hindu Kanwil Kementrian Agama Gianyar, Ni Wayan Seri Nuryanti merupakan, sebuah momentum sakral yang datang setiap 15 hari sekali tepat pada saat bulan penuh atau Sukla Paksa. Hari yang berselang-seling dengan Hari Raya Tilem ini bukan sekadar rutinitas kalender, melainkan momen puncak energi spiritual bagi alam semesta dan isinya.

Filosofi Kesempurnaan secara etimologi, nama “Purnama” berakar dari kata Purna yang berarti sempurna. Kehadiran bulan bulat sempurna di langit menjadi simbol kembalinya kesucian dan terang bagi batin manusia. Dalam kitab suci Lontar Sundarigama, disebutkan bahwa Purnama adalah waktu sakral untuk melakukan pemujaan guna memohon Amerta atau air suci kehidupan.

Sejatinya Rahina Purnama merupakan puncak pemujaan spiritual, sehingga pada hari suci ini, persembahyangan difokuskan kepada tiga aspek utama ketuhanan dan energi alam:

Sang Hyang Candra: Dipuja sebagai Dewa Bulan yang merupakan sumber Amerta. Pemujaan ini bertujuan untuk mencapai ketenangan dan kesempurnaan batin.

Bhatara Parameswara: Diyakini pada saat Purnama, Beliau sedang beryoga dengan didampingi para Dewa, Bidadari, dan Roh Leluhur. Hal inilah yang menjadikan Purnama sebagai waktu dengan energi spiritual tertinggi.

Sang Hyang Rwa Bhineda: Sebagai lambang keseimbangan antara Surya (saat Tilem) dan Candra (saat Purnama). Ritual ini bertujuan menyucikan jiwa (Atma) serta badan kasar (Stula Sarira) dari segala kotoran spiritual atau Mala.

“Disinilah umat Hindu berkewajiban sembahyang saat Purnama bukan tanpa alasan. Ketika Sang Hyang Candra beryoga, energi alam berada pada titik paling harmonis. Penyucian diri lahir dan batin pada saat ini sangat krusial; sebab dari jiwa yang bersih, akan lahir pikiran (Manacika), perkataan (Wacika), dan perbuatan (Kayika) yang sejalan dengan ajaran Dharma,” ungkapnya pada Selasa (13/4/2026).

Seri menjelaskan, selain sebagai sarana penyucian diri, persembahyangan ini adalah bentuk rasa syukur yang mendalam atas segala anugerah yang telah dilimpahkan oleh Sang Pencipta.

“Melalui persembahan suci di puncak terang energi alam ini, umat diajak untuk merefleksikan diri dan menyeimbangkan kehidupan antara sisi gelap dan terang. Dengan batin yang suci, setiap langkah kehidupan diharapkan selalu mendapat perlindungan dan tuntunan ilahi,” pungkasnya. tra/sathya.