Sosial Budaya

BESI MELAS Tampil Garang Sambut Catur Brata Penyepian Tahun Baru Caka 1948

953 Views

GIANYAR, OborDewata.com – Eksistensi STT Dharma Laksana dari Semeton Pura Santi Kawitan I Ratu Ngurah Agung Pasek Bandesa Pancasanak Sapta Murti, Banjar Tibekauh, Payangan, Gianyar tidaklah main-main, hiruk pikuk dalam menyambut Catur Brata Penyepian Tahun Baru Caka 1948 ditunjukan dengan penampilan heroiknya Ogoh-Ogoh Besi Melas (Bhuana Eka Sakti Ibu Melinggih Luhur Angayomi Swari) disaat pengerupukan, pada Rabu (18/3/2026).

Penggarapan Ogoh-Ogoh Besi Melas selama 14 hari tidaklah sia-sia, hal tersebut dibuktikan dengan penampilan primanya dengan diiringi suara gamelan, membakar semangat para STT Dharma Laksana. Sejatinya Ogoh-Ogoh BESI MELAS, menggambarkan kekuatan agung dari Ibu Pertiwi yang memberikan kehidupan pada semesta baik itu tanah, air, kesuburan, dan ruang hidup bagi semua makhluk. Yang diwujudkan dengan kelembutan penuh kasih, dimana alam semesta yang senantiasa tiada henti memberi kehidupan serta menjaga keseimbangan dunia.

Inisiasi Ogoh-Ogoh Besi Melas, Gung Lodra menjelaskan, perwujudan ogoh-ogoh tersebut dengan mempunyai dua wujud cantik dan buruk rupa, merupakan suatu realita yang terjadi saat ini. Sejatinya kondisi sekarang banyak manusia mulai melupakan keharmonisan tersebut. Demi kepentingan dan keuntungan semata, alam sering kali dieksploitasi tanpa memikirkan dampaknya. Hutan ditebang tanpa kendali, tanah dirusak demi pembangunan, dan persawahan yang dahulu menjadi sumber kehidupan kini perlahan dieksploitasi serta dialihfungsikan.

Ditambah lagi keserakahan dan kepentingan sesaat sering kali membuat manusia menutup mata terhadap keseimbangan alam yang telah diwariskan oleh leluhur. Alam yang selama ini memberi kehidupan dengan penuh kasih perlahan kehilangan keseimbangannya.

“Melalui konsep BESI MELAS Bhuana Eka Sakti Ibu, Melinggih Luhur Angayomi Swari, ogoh-ogoh ini menggambarkan bahwa dalam satu kekuatan ibu alam terdapat dua wujud yang saling melengkapi. Wujud pertama adalah kasih sayang yang memberi kehidupan dan kesejahteraan. Wujud kedua adalah kekuatan yang tegas yang akan bangkit ketika keseimbangan alam dilanggar,” ungkapnya.

“Karya ini menjadi pengingat bahwa alam memiliki kesabaran yang besar, namun bukan berarti tak terbatas. Jika manusia terus mengabaikan keseimbangan dan keselarasan dengan alam, maka kekuatan alam itu sendiri yang akan mengembalikan keseimbangannya,” ungkapnya. tra/dx