DENPASAR, OborDewata.com – Sore itu, Stadion Ngurah Rai, Denpasar, begitu riuh. Ribuan pasang mata memenuhi tribun, siap menyaksikan laga panas Grand Final Liga Kampung Soekarno Cup III Regional Bali. Di pinggir lapangan, tensi tinggi rivalitas antara tim Banteng Denpasar dan Banteng Badung sudah sangat terasa.
Namun, sesaat sebelum peluit pertama ditiup, ketegangan itu mendadak mencair. Sebuah pemandangan menyentuh hati tersaji di koridor stadion saat para pemain bersiap memasuki lapangan.

Bukan kids player escort biasa yang berjalan di samping para pesepak bola sore itu. Kali ini, ada 22 anak berkebutuhan khusus dengan Down Syndrome yang dengan bangga menggandeng tangan-tangan kekar para pemain.
Langkah Kecil Penuh Percaya Diri
Langkahnya pun penuh percaya diri, yang ditandai dengan sederet anak-anak menggunakan jersey, tergabung dalam Persatuan Orang Tua Anak Down Syndrom (POTADS) Bali ini berjalan masuk ke lapangan hijau. Tak ada rasa canggung. Yang ada justru binar mata bahagia dan senyum lebar yang menghiasi wajah mereka saat merasakan langsung gemuruh atmosfer stadion.
Bagi POTADS Bali, hal ini merupakan sebuah wadah bagi para orang tua untuk saling menguatkan dan membentuk mental Anak Down Syndrome (ADS) agar mandiri serta percaya diri, momen ini adalah panggung besar. Anak-anak yang datang dari Denpasar, Badung, hingga Tabanan ini membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menjadi bagian dari pesta olahraga.
Kehadiran mereka di tengah lapangan hijau bukan sekadar seremoni. PDI Perjuangan Bali selaku penyelenggara sengaja menghadirkan mereka untuk membawa misi yang jauh lebih besar: kemanusiaan dan inklusivitas.
Kehadiran anak-anak ini adalah pengingat bahwa sepak bola adalah permainan yang suci dan ramah keluarga. Mereka adalah simbol kemurnian olahraga yang harus dijauhkan dari kekerasan atau rasisme.
Tradisi membawa anak-anak ke dalam lapangan sebetulnya berakar dari kampanye global “Say Yes for Children” hasil kolaborasi FIFA dan UNICEF, yang memanfaatkan sepak bola untuk mempromosikan hak-hak anak. Sore itu, PDI Perjuangan mengejawantahkannya secara nyata di tingkat lokal.
Langkah inklusif ini mendapat sambutan luar biasa hangat. Dari atas tribun, Muhammad Prananda Prabowo (Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Ekonomi Digital), Komarudin Watubun (Ketua Bidang Kehormatan), serta Wayan Koster (Ketua DPD PDIP Bali) bersama ribuan penonton memberikan tepuk tangan meriah yang bergemuruh sepanjang prosesi line-up.
Menghidupkan Kembali Semangat Bung Karno
Di luar pesan kemanusiaan yang kental, Soekarno Cup III diharapkan mampu menghidupkan kembali semangat Bung Karno. Dan hal ini merupakan sebuah kompetisi sepak bola yang kompetitif. Ketua Panitia, Adi Arnawa, menegaskan bahwa turnamen ini dibentuk sebagai wadah formal dan terarah bagi talenta muda Bali.
”Kegiatan Soekarno Cup ini ternyata menjadi wadah bagi talenta-talenta muda yang bisa bermain bola dalam kompetisi formal,” ujarnya pada Senin (25/5/2026) seraya menambahkan bahwa semangat olahraga yang diwariskan oleh Bung Karno menjadi bahan bakar utama yang menginspirasi pergelaran ini.
Setelah drama 90 menit yang sengit, Banteng Denpasar akhirnya keluar sebagai kampiun utama setelah menundukkan Banteng Badung dengan skor tipis 3-2. Sementara itu, tempat ketiga diamankan oleh Banteng Tabanan yang sukses menggulung Karangasem 4-0. Total beasiswa senilai Rp 117 juta pun digelontorkan untuk membina para juara muda ini.
Papan skor mungkin menunjukkan angka 3-2 untuk kemenangan Denpasar. Namun, kemenangan sejati sore itu justru milik 22 anak-anak POTADS Bali.
Lewat genggaman tangan mereka di rumput Stadion Ngurah Rai, sepak bola Bali tidak hanya bicara soal taktik dan piala, melainkan tentang penerimaan, kesetaraan, dan sebuah pesan kuat: bahwa di dalam olahraga, semua orang berhak merayakan kebahagiaan yang sama. mas/tim/tra.


